
Rutinitas Roy kembali bekerja seperti biasa melewati lalu lintas yang macet dan padat dengan kendaraan silih berlalu lalang dan Lampu lalu lintas di persimpangan jalan yang silih berganti warna.
"Ah.. lampu merah lagi", ucap Roy.
Motor tua yang Roy kendarai pun akhirnya berhenti sejenak. Kemacetan terjadi di mana-mana di setiap ruas jalan, dari kejauhan Roy melihat Yanti berdiri di persimpangan jalan, sepertinya Yanti sedang menunggu angkutan umum di persimpangan jalan, lalu roy pun menghampiri Yanti.
"Yanti ...yanti...!", sahut Roy memanggil.
"Eh...Mas Roy, lewat jalan sini kamu mas Roy?".
"Iya yanti...aku mau berangkat kerja".
"Yanti ayo ikut!", ajak Roy.
"Yanti mau kemana?, nanti mas Roy antar ya".
"Aku mau ke tempat kerja ku, Mas Roy!".
"Ga usah mas Roy aku takut ngerepotin kamu, masalahnya tempat kerjaku agak jauh!", ucap Yanti.
Memang tempat kerja Yanti letaknya sangat jauh dan banyak melewati lampu lalu lintas di persimpangan jalan.
"Tenang Yanti aku masih banyak waktu, sengaja aku berangkat lebih pagi untuk masuk ke kantor agar tidak kesiangan".
"Tidak usah mas Roy, nanti kamu terlambat masuk kerja mas Roy jika kamu antar aku dulu".
"Tidak apa yanti ayo naik, kita naik motor ini, jadi kita bisa sampai lebih cepat membelah kemacetan kota ini kan".
"Oke baiklah Mas Roy". Akhirnya Yanti pun mau, dengan sigap menaiki motor dan di bonceng oleh Roy.
"Ok yanti siap?, kita berangkat ya!".
"Iya mas Roy jangan ngebut ya! aku takut kalau naik motor ngebut".
"Tenang yanti sekarang aku sudah jadi pembalap profesional!"
"ha...ha...ha...", Roy dan Yanti tertawa.
"Pasti kita selamat sampai tujuan". Ucap Roy dengan nada yakin.
"Iya..iya..aku percaya!" Ucap Yanti sambil tertawa.
Motor roy melaju dengan cepat sampai lupa ada orang lain yang iya bonceng.
"Awas Roy....!"
"Aduh Roy itu ada lubang di depan kamu".
Akhirnya motor Roy pun menghantam lubang jalanan.
"Bruukkkk".
"Maaf Yanti aku tidak melihatnya".
"Tidak terlihat apa disengaja?".
"Tidak terlihat oleh pandanganku Yanti, bila terlihat pasti aku menghindarinya Yanti!".
"Asal jangan menghindari kenyataan Mas Roy". Ucap yanti bercanda.
"Kenyataan!, kenyataan Apa ya?".
"Bercanda ko mas roy....serius banget siy tanggapannya.
"Ha....ha..ha...", Yanti tertawa.
"Roy agak pelan sedikit mengendarai motornya ya, nanti aku jatuh".
"Makanya pegangan donk kalau takut jatuh", ucap Roy merayu.
"Boleh aku pegang kamu Roy?".
"Boleh lah Yanti dari pada kamu jatuh, nanti kamu juga yang sakit".
__ADS_1
"Klo jatuh ke aspal kan sakit, lain rasanya klo kamu jatuh ke pelukan aku lagi". Ucap Roy
"Gombal kamu Mas Roy!".
"Ha...ha...ha..", Roy tertawa.
"Mas Roy nanti di depan pertigaan jalan sana kamu ambil belok kiri ya, jangan sampai kelewatan nanti kita bisa putar balik jadinya lebih jauh menuju kantor ku.
"Ok, Siap!".
"Aku jarang sekali melewati jalan disini yanti kurang hapal arahnya", ucap Roy.
"Aduh kelewatan belokannya yanti".
"Yah roy aku bilang juga di depan pertigaan jalan belok kekiri Mas Roy".
"Maaf...maaf Yanti kita harus putar balik ya".
"Iya lah Roy, kita harus putar balik, belokan jalan terlewat".
"Habis hari ini, cantiknya kamu kelewatan yanti". Ucap Roy
"Ah...Mas Roy kamu gombal lagi! sudah tau lagi di jalan masih gombal terus".
"Tidak konsentrasi kan jadinya kamu mas Roy,
Kumat ya penyakit groginya....kamu kan sudah kenal aku lama. yanti sudah tidak bisa menahan tawa ha...ha..ha..ha..ha..
Ga tau yanti ko bisa grogi ya, mungkin aku sudah lama tidak memboceng wanita di motor tua ku ini.
Wah di depan ada lampu merah lagi.
Motor Roy akhirnya berhenti sejenak di lampu merah.
Ada pengamen menghampiri dan bernyanyi.
"Dua sejoli berboncengan di motor Tua dengan mesra aduh indahnya dunia serasa milik berdua klo orang lain ya di suruh ngontrak".
Mendengar syair lagu itu roy dan yanti tertawa terbahak-bahak. Yanti pun mengeluarkan uang recehan untuk pengamen tersebut.
"Amin.........!", ucap Roy.
" Pluk..!", suara pundak Roy ditepuk oleh Yanti.
"Mas Roy apaan sih".
"Tidak apa-apa kan Yanti?", ucap Roy.
"Kamu ingat tidak Yanti, dulu kita sering berboncengan dengan motor ini?".
"Iya mas Roy, dulu kan aku pacar kamu satu-satunya, aku cinta pertama kamu kan?". Jawab Yanti mejelaskan
"Iya juga jadi hanya kamu wanita yang pernah aku bonceng kemana mana ha...ha..ha..!, ucap roy sambil tertawa.
"Oh iya mas Roy, nanti kalau lewat sini kita melewati jalan persimpangan semua, pasti banyak lampu lalu lintas...di depan kita pasti berhenti lagi, kena lampu merah".
"Kita harus cari jalan alternatif, nah nanti setelah lampu merah di depan ada belokan ke kiri mas Roy kita belok ya, aku pernah pakai ojek motor dulu lewat jalan gang itu.
"Ok Yanti aku ikut saja sesuai arahan mu,
Ayo mas Roy lampu hijau nya sudah nyala itu!, sahut Yanti.
"Ok yanti".
Greng...greng...greng! Suara motor tua itu melaju.
"Langsung belok kiri ya".
Motor Roy pun melaju di jalan gang pemukian padat warga, pelan pelan mas roy ya....jangan ngebut...banyak anak-anak lewat. Ternyata bukan hanya anak-anak yg lewat, ibu-ibu, bapak-bapak, pedagang keliling dan lain-lain.
"Iya yanti tenang saja".
"Mas Roy nanti di depan belok kanan ya, lalu lurus saja tembus ke jalan besar.
__ADS_1
"Ok Yanti".
"Roy ngegas motornya jangan membayangkan ngebut ya!, Roy ngegas motorny pelan-pelan karena melewati pemukiman warga".
"Yanti ini kearah mana lagi?, yah ko masuk jalan buntu".
"Yanti... Yanti" ucap Roy sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh jalan buntu ya mas Roy".
" Iya Yanti, jalan buntu".
Yanti pun heran...perasaan dahulu pernah melawati jalan ini.
Roy pun segera mengeluarkan handphone nya.
"Yanti tunggu ya aku buka aplikasi penunjuk jalan dulu di handphone ku kita liat apakah ada rute jalan kah! Ooh..... ini dulu ada jalan kecil untuk motor, hanya sedang ada perbaikan jadi di tutup sementara".
"Itu didepan ada tanda pemberitahuan di larang melintasi jalan".
"Ok kita bisa lewat jalan lainnya, lewat sini bisa kita di depan nanti ada jalan besar yang bercabang, lalu kita belok ke kanan", ucap Roy.
"Ayo mas Roy cepat sedikit ya!".
"Ok Yanti siap".
Roy pun langsung tancap gas melaju dengan motornya lagi.
"Yanti aku liat di aplikasi penunjuk jalan sudah dekat kantor kamu yanti, kantor kamu dekat persimpangan jalan itu kan?.
"Iya mas Roy".
Akhirnya Roy dan Yanti bertemu dengan jalan utama.
Greng...greng...greng motornya melaju keluar dari gang pemukiman warga tersebut.
"Nah sudah dekat di depan sana disebelah kiri lampu merah persimpangan jalan
Apa lampu merah lagi!
"Iya mas Roy", ucap yanti sambil tertawa.
Roy merasa heran berapa jumlah lampu lalu lintas yang harus iya lewati.
"Huh...banyak sekali kita melewati lampu lalu lintas", ucap Roy.
Setelah melewati lampu merah di persimpangam jalan tersebut akhirnya terlihat gedung perkantoran tempat yanti bekerja.
"Roy nanti berhenti di kantor depan sana ya!".
"Ok Yanti gedung yang itu?
"iya mas Roy".
"Ah...bersyukur sampai juga", ucap Roy dan Yanti.
Akhirnya yanti terlambat masuk kantor nya.
"Mas Roy terimakasih ya, yah aku jadi terlambat masuk kantor putar-putar keliling sama motor kamu.
Yanti mau marah tapi malah tertawa atas kejadian tadi di jalan, karena kelewatan melewati sebuah belokan jalan berujung mencari jalan lain.
"ada-ada saja, kejadian hari ini, kamu tuh masih sepeti yang dulu mas Roy pemalu tapi ada saja tingkah lucunya.
"Iya Yanti, maaf tapi mau gimana lagi aku juga bisa kesiangan nih masuk kantor.
"Tapi ini salah aku bawa kamu puter-puter gara gara aku di jalan tidak berbelok ke kiri tadi,
akhirnya masuk gang dan banyak berhenti di lampu merah.
"Ya tidak apa-apa Mas Roy, terimakasih ya sudah anter yanti ya?, aku jadi ngerepotin kamu!".
"Sama-sama, Yanti", ucap Roy.
__ADS_1
Akhirnya Roy pun mengetahui dimana tempat Yanti bekerja, setelah Toy mengantar Yanti
Setelah Roy berpamitan, Roy pun melanjutkan perjalannya dengan motor tuanya untuk menuju kantornya.