
Hari itu Roy ingin pulang dari kantor dan menuju parkiran tempat iya memarkir motornya. Roy melihat ada mba Indah yang sedang kesusahan menghidupkan motor nya.
Lalu roy pun menghampiri mba Indah.
"Mba indah", ucap Roy memanggil
"eh...mas Roy, baru pulang juga?".
"Iya tadi abis lembur di kantor".
"Kenapa mba indah dengan motornya, mogok?"
"Tidak tau nih susah hidup mas Roy!".
"Coba nanti aku bantu mba indah ya, Aku periksa dahulu!".
"Sepertinya Acu motornya rusak mba indah, sudah tidak ada strumnya, harus diganti!".
"Oh kalau begitu, harus bagaimana?".
"Harus beli Acu baru mba indah di bengkel motor".
"Mana menjelang malam lagi, mas Roy, bengkel masih buka ga ya?".
"Kemungkinan sudah tutup Mba Indah"
"Iya ya, aku titipkan saja lah motor ke satpam di kantor, besok baru aku service".
"Mas Roy pulang arah ke mana?".
"Arahnya ke kota baru mba".
"Kenapa mba indah?"
"Sama arah ku juga kesana, Klo boleh aku ikut ya di motor kamu mas Roy?, aku takut jika menjelang malam naik angkutan umum sendirian".
"Oh...ok boleh mba Indah".
"Tidak merepotkan kah mas Roy?".
"Tenang saja mba Indah, sekalian pulang arah jalan kita yang sama."
"Ayo naik mba Indah!".
"Ok mas Roy".
"Kebetulan hari itu agak mendung, turun lah hujan yg cukup deras, di tengah perjalanan pulang Roy dan Indah."
"Mba indah kita harus berhenti sejenak menunggu hujan di warung itu untuk berteduh, soalnya hujan cukup deras dan aku juga lupa bawa jas hujan."
"Ok mas Roy tidak apa-apa".
Akhirnya roy pun memakirkan motornya untuk berteduh di dekat warung itu.
"Mas Roy maaf ya merepotkan, karena harus mengantarku pulang kerumahku?".
"Ah tidak apa-apa mba, santai saja".
"Takutnya mas Roy ditunggu oleh orang di rumah".
"Saya tidak ada yang menunggu mba, paling yg menunggu saya itu ikan sapu-sapu di aquarium belum tak kasih makan."
"ha..ha..ha..!", Indah pun tertawa.
"Hah...Ikan sapu-sapu".
"Ya mba indah serius ikan sapu-sapu".
"Ada-ada saja jawaban mas Roy ini, masih singgle kah mas Roy?".
"Masih mba, jadi aman karena ga ada yg nunggu juga di rumah atau telepon menyuruh untuk segera pulang".
"Sama saya juga masih singgle mas Roy, cuma perbedaannya ada yg menunggu ku di rumah!".
"Mau tau siapa?".
"Pasti orang tuamu kan!".
"Betul sekali mas Roy" ucap Indah sambil tertawa
"Mas roy betah di kantor ini?"
"Betah saja, soalnya ini tempat kelahiranku,
selama bekerja di kantor cabang aku suka kangen dengan kota ini, walaupun macet tapi suasananya ngangenin".
"Ngangenin kotanya apa ada seseorang yg dikangenin mas roy?".
__ADS_1
"Ha...ha..ha..!", Roy tertawa.
"Mba Indah bisa becanda juga".
"Aku pesan minuman dulu ya di warung, mba indah mau kopi?"
"Boleh lah mas Roy pesankan juga ya!".
Lalu Roy menghampiri penjual warung dan memesan dua cangkir kopi di tempat mereka berteduh dari hujan yang sangat deras itu.
"Permisi abang warung".
"Ya mas, mau pesan apa?", ucap abang warung.
"Saya mau pesan kopi dua gelas,
Jangan terlalu manis ya mas, gulanya sedilt saja takut kemanisan".
"Iya mas, kan udah ada neng manis itu yang nemenin mas ya!", ucap abang warung sambil tertawa.
"Aduh nih si abang bisa aja ikut-ikutan obrolan muda-mudi", ucap Roy.
Si abang warung pun membuatkan dua cangkir kopi dengan gula sedikit sesuai pesanan Roy.
"Mas ini pesanan kopinya sudah selesai", ucap abang warung".
"Ok bang terimakasih".
kemudian Roy membawakan dua gelas kopi itu dengan hati-hati menuju tempat Indah berteduh.
"Mba indah ini kopi nya"
"Oh iya terimakasih mas Roy"
Kopi itu pun diseruput oleh mereka berdua.
"Sruupppp...emmmm nikmat", ucap Roy.
"Sruupppp...emmmm aga pait ya", ucap Indah.
"Pait mba...coba lihat ke aku mba supaya ada manisnya".
"Ah nanti malah tambah pait mas
Roy".
"Bercanda mas Roy, enak ko kopinya mantap pas saat hujan begini".
"Roy pun tertawa biasa aja mba indah".
"Bisa donk ga terpancing kan jawabannya".
"Jadi mengobrol panjang kita Mas roy".
"Iya mba indah jadi mengobrol panjang kita ya, tapi tidak apa-apa lah, klo di kantor kita beda ruangan jadi jarang bertemu dan mengobrol".
"Mba Indah sudah lama kah kerja di kantor kita?
"Belum lama juga mas Roy sekitar tiga tahunan".
"Oh begitu, di bagian umum kan mba indah ya?".
"Iya ko tau....ya tau lah mba indah pas kenalan kan mba indah yang bilang sendiri".
"Aku saja lupa aku ngomong apa mas Roy
Kamu malahan inget Mas roy, kamu sering membayangkan pas kita kenalan ya mas Roy?".
"Masa membayangkan hanya saat kenalan", ucap Roy.
"Membayangkan itu klo kita berdua menuju pelaminan", Ucap roy sambil tertawa.
"Ha..ha..ha..!", Indah pun tertawa.
"Mas Roy mengasikan ternyata orangnya, kamu pemalu tapi klo sudah kenal mengasikan juga obrolanya nyambung mengalir terus.
"Mengalir apanya mba?", memang air hujan mengalir ke selokan", Roy tertawa sambil menunjuk air hujan yang mengalir menuju selokan.
"Mengalir alur nya lah, bisa cocok jadi teman ngobrol, kalo sepi di kantor".
"Oh teman ngobrol ya?, kalau teman hidup boleh kah mba indah?".
"Boleh klo kamu mau melamarku!, bercanda ko aku mas Roy".
"Aduh asik kayanya nih ngobrol", ucap abang warung
"Huuss....abang warung ini ikut-ikutan saja obrolan kita".
__ADS_1
"Abang cuma mau bilang banyak loh teman yang jadian gara- gara ga sengaja mengobrol di warung kopi abang".
"Amin...", ucap Roy dan Indah kompak.
"Bagus itu diaminkan, walau bercanda nanti bisa jadi kenyataan itu", ucap abang warung sambil tertawa.
"Gimana abang sajalah baiknya kita ikut saja", ucap Indah sambil tertawa.
"Bagaimana Mas Roy?", Ucap Indah.
"Iya kalau di doakan yg baik-baik saya ok saja lah", ucap Roy sambil tertawa.
"ha...ha..ha..!", mereka bertiga pun tertawa.
"Hujannya mau reda nih mas Roy".
"iya mba Indah".
"Hujannya sudah cukup reda, bisa kita lanjutkan perjalanan".
"Saya bayar dulu ya mba indah kopinya!"
"Saya yang bayar kan sudah merepotkan mas Roy".
"Udah mas Roy asal jangan sering-sering minta di traktir saja, ga ada uang nya, masih di bank", ucap Indah sambil tertawa.
"Berapa bang jadinya kopi 2 gelas".
"Jadi enam belas ribu rupiah mba, lalu mba indah mengeluarkan dompetnya yang berwarna pink, ini bang uangnya dua puluh ribu, kembaliannya buat abang saja".
"Wah terima kasih mba ya".
"Iya sama-sama bang".
"Abang doain kalian berjodoh!".
"Amin....,becanda aja si abang ini", ucap indah.
"Ayo mas roy kita lanjut kan perjalan pulang.
"Ok mba indah".
Mereka pun melanjutan perjalanan menuju rumah Indah, di perjalanan menuju pulang pun mba indah masih sempat bercanda dengan mas Roy, mereka sering tertawa, seakan-akan perjalan pulang saat hujan menjadi indah.
"Rumah Mba Indah masih jauh kah?, Nanti kasih tau aku patokannya ya aku harus belok ke mana?"
"Ok, asal jangan berbelok ke hatiku aja mas Roy, bahaya nanti ga bisa keluar lagi jalannya buntu mas roy.
"Wah ha...ha..ha..!
"Mba Indah bisa aja, buntu nanti klo gitu aku buat jalan baru aja ya", ucap Roy.
"Ha..ha..ha!", Indah pun tertawa.
"Asal jalannya yg betul ya mas Roy".
"Maksudnya mba indah jangan jalan mundur kan!"
"Ha...ha...ha!", Mereka berdua tertawa.
Sepertinya indah pun sudah merasa ada kecocokan dengan roy, karena bisa menjadi teman mengobrol yang mengasikan di sela perjalanan pulang.
"Aku jarang sekali di antar seorang lelaki loh mas roy sampai kerumah, lelaki yang mengantarku pulang pada takut ketemu Ayahku!".
"Ko malah takut mba indah kenapa?"
"Memangmya ayahmu galak?", tanya roy.
"Tidak ko, tapi ayahku suka menginterogasi lelaki yg antar aku kerumah".
"Waduh....aku nanti bisa-bisa diinterogasi", ucap Roy dalam hati.
"ha..ha..ha"!, indah tertawa.
"Takut ya, jawab saja teman kantorku begitu selesai kan", ucap Indah.
"Ketauan nih mas Roy dahulu kurang berpengalaman, mengantar kekasihnya".
"Bukan begitu mba saya suka malu sendiri, suka gemetaran klo ketemu Calon Mertua".
"Hah...Calon mertua?", Sahut mba indah kaget.
"Bercanda mba indah, Kena juga kan dibercandaiin", ucap Roy sambil tertawa.
"Asli serius juga tidak apa-apa ko mas Roy".
"Waduh....", ucap Roy kaget.
__ADS_1
Akhirnya Roy dan Indah pun melewati jalan pulang dengan obrolan yang membuat mereka semakin dekat.