
Roy akhirnya mengobati kakinya itu, Bersama adiknya Roy pergi ke pengobatan alternatif.Roy dijemput oleh sang adik memakai mobil.
Tokk...tok..tok..tok, suara pintu diketuk
"Permisi, Kakak Roy", ucap Boy.
"Boy, tunggu ya?, nanti kakak bukakan pintunya dulu!". Roy yang sedang duduk di ruang tengah pun berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu depan rumahnya.
"Krek..", suara pintu di buka
"Ayo Boy masuk!, Boy pagi sekali datangnya, kakak Roy belum siap-siap", ucap Roy yang kala itu belum mandi dan masih minum teh hangat di temani berita yang iya tonton di Televisi.
"Kakak Roy gimana siy, katanya kemarin mau dianterin"
"Ya enggak pagi-pagi juga kali", memang kala itu waktu menunjukan masih jam 06.30 WIB.
"Ya sudah, kamu sudah sarapan belum Boy?", tanya Roy.
"Belum", jawab Boy.
"Kalau begitu kamu sarapan dulu ada roti selai di dapur", ucap Roy sambil menunjuk ke arah dapur.
"Ok kakak" jawab Boy.
"Boy sekalian buat teh kalau kamu mau!, ada itu di laci kalu mau pakai gula juga ada", ucap roy berteriak kepada boy yang sedang berada di dapur menyiapkan roti selai untuk sarapannya.
"Roti dan teh sudah siap, mantap", ucap boy sambil berjalan ke arah ruang tengah untuk menemani Roy yang sedang sarapan dan menonton berita di televisi.
"Kakak Roy", kita jadinya mau jam berapa berangkatnya?, tanya Boy sambil melahap Roti yang sudah iya buat.
"Bentar lagi lah ya, satu jam lagi, kakak Roy mandi dulu!", memang Roy saat itu lagi malas mandi karena sakit kakinya iya harus hati-hati masuk kamar mandi.
"Ya sudah kakak, nanti Boy tunggu", jangan lama-lama, jangan pake dandan ini dan itu".
"Ah..gila kamu Boy, dikira kakak ini perempuan", ucap Roy sambil tertawa.
"Ha...ha..ha...ha", suara Roy dan Boy tertawa. Roy pun masuk ke kamar mandinya untuk membersihkan badanya, iya terpaksa duduk di kloset agar tidak terjatuh di kamar mandi. Setelah setengah jam berlalu, Roy pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Pakai apa ya, sarungan saja lah biar enak", ucap Roy kebingungan karena kalau pakai celana jeans pasti kakinya kurang leluasa bergerak.
"Sarungan saja lah", ucap Roy bergumam.
"Boy, ayo berangkat kakak sudah siap ini", ucap Roy sambil menghadap Boy yang sedang minum teh".
__ADS_1
"Ehek...ehek...ehek", Boy tersedak karena lucu melihat pakaian Roy seperti orang yang baru bersunat.
"Kakak Roy, kenapa pakaiannya begitu sih!", ucap boy risih melihat pakaian boy yang memakai baju koko dan sarung.
"Memang ada yang salah", ucap roy keheranan sambil memperhatikan pakaiannya itu".
"Ga ada yang salah,cuma kakak Roy seperti orang yang mau sunat". Ucap boy sambil tertawa ke arah Roy yang kebingungan.
"Habisnya kalau sarungan pakai baju kaos, kurang cocok", ucap Roy menjelaskan.
"Kalau begitu kakak Roy pakai kemeja saja", ucap boy memberikan saran.
"Oh iya ya...cocok juga", ucap Roy sambil menganggukan kepalanya. Roy pun pergi ke kamarnya lagi untuk berganti pakaiannya yang tadi iya pakai.
"Nah gitu kan baru cocok lah, ucap Boy" sambil mengacungkan jempolnya ke arah Roy karena pakaian Roy yang iya kenakan jauh lebih baik ketimbang yang iya pakai tadi.
"Ayo kita berangkat, ucap Roy mengajak Boy untuk mengantarkannya ke tempat pengobatan alternatif.
"Sini kak, Boy bantu kakak Roy jalan samapai ke depan", ucap Roy sambil merangkul Roy untuk membantunya berjalan ke arah depan Rumah.
"Ok Kak Roy duluan masuk ke mobil, Boy bukakan pintunya dulu ya",ucap Boy. Akhirnya Roy menuju masuk ke dalam kendaraan mobil yang di kendarai oleh Boy.
"Ok sudah siap, kita berangkat ya", ucap Boy sambil menggas mobil yang iya kendarai melaju di jalanan komplek.
"Iya kakak Boy sudah pasti hapal jalannya, dahulu Boy pernah mengantar teman kuliah boy yang terjatuh dan terkilir kakinya.
"Jangan lewat jalan sini Boy, biasanya jalan ini macet", ucap Roy memberitahukan kepada Boy kalau jalan yang akan iya lewati tempat langganan macet.
"Kak Roy, kalau boy cari jalan yang lain boy nanti tidak hapal jalan", ucap Boy menjelaskan karena Boy terbiasa melewati jalan itu.
"Ok lah Boy, Kakak Roy mengikuti kamu saja", ucap Roy mengalah.
"Kak Roy kita sudah sampai", ucap Boy Setelah lama dalam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba".
"Ini tempatnya, wah udah ada yang mengantri itu", ucap Roy sambil menunjuk ke arah seseorang yang tengah mengantri untuk berobat.
"Makannya Kak Roy tadi Boy jemput pagi-pagi itu supaya kita tidak menunggu lama, karena siang pasti antrian sudah banyak".
"Maaf ya Boy, kak Roy enggak tau soalnya", ucap Roy sambil menepuk pundak adiknya itu.
"Ya...ya.., karena Kak Roy itu kakaku ya pasti aku maafkan", ucap Boy sambil tertawa.
"Bisa saja kamu Boy", ucap Roy sambil tertawa.
__ADS_1
"Kak tuh liat, kakinya orang itu sama kaya Kakak Roy agak pincang", ucap Boy sambil menunjuk orang yang sedang berobat di depannya.
"Jangan bilang pincang, masa kakak di katain pincang".
"Ya iya lah kak, jalannya kan pincang sama kaya kak Roy", ucap Boy sambil memperagakan bagaimana cara berjalan Roy yang tertatih-tatih.
"Iya juga ya", ucap Roy sambil tertawa.
"Shut.......jangan berisik", ucap lelaki yang sedang mengantri.
"Iya maaf pak", ucap Roy dan boy sambil menganggukan kepalanya.
"Belum tau aja kalian kalau sedang berobat ada yang sampai menangis gara-gara tidak bisa menahan sakit", ucap lelaki yang sedang menganti berobat itu.
"Aduh boy, kakak jadi takut nih", ucap Roy.
"Ah Kakak Roy ini bagaimana!, Kak Roy sudah dewasa masa kalah sama anak kecil itu ada yang sedang berobat", ucap Boy menunjuk ke arah anak kecil yang tangannya terkilir akibat terjatuh dari sepeda.
"Oh iya ya,harusnya aku malu ya kalau takut", ucap Roy
"Iya kak Roy pokoknya harus kuat, supaya cepat pulih kembali, bisa jalan lagi dengan normal", ucap Boy sambil menyemangati Boy yang mulai ketakutan.
Akhirnya giliran Roy pun tiba, Iya di panggil masuk ke ruangan pengobatan.
"Pak Roy silahkan masuk", ucap sang wanita petugas antrian.
"Ayo Kak Roy kita masuk", ucap Boy sambil merangkul Roy untuk membantunya berjalan menuju ruangan pengobatan.
"Silahkan duduk disini, keluhannya apa?", ucap sang tabib
"Ini pak, kaki saya terkilir terus membengkak, jadi sakit pak", ucap Roy menjelaskan kepada sang tabib tentang apa yang terjadi.
"Oh itu sakitnya, ya sudah kakinya tolong di luruskan nanti sata obati", ucap sang tabib.
"Akhirnya Roy pun meluruskan kakinya di kasur tempat iya berobat, sang tabib pun memulai untuk mengobatinya.
"Aw....Aw...Aaawwwwww, Waduh....sakit sekali ini, ucap Roy.
"Tahan kak" ucap Boy menguatkan Kakaknya
"Iya tahan ya,ini ada urat yang salah, harus kuat supaya cepat sembuh", ucap sang tabib sambil mengobati kakinya Roy yang terkilir itu.
"Waduh.....ampun....ampun..... sudah....sudah...sudah", ucap Roy merintih kesakitan sambil menangis.
__ADS_1
Roy akhirnya menangis juga menahan sakit kakinya ketika diobati, karena kejadian itu Sang tabib dan adiknya Boy pun tertawa.