Cinta Pria Pemalu Dan Gadis Cantik

Cinta Pria Pemalu Dan Gadis Cantik
Bab 20


__ADS_3

Di hari minggu disaat Roy sedang sakit kakinya, Yanti dengan penuh perhatian merawat Roy, walaupun Roy mendapatkan sesuatu yang mengejutkan injakan kaki yanti yang menambah rasa sakit di kakinya yang terkilir dan masakan yang dibuat khusus untuk Roy yang rasanya sangat asin.


Akan tetapi Roy sangat menghargai usaha Yanti itu, karena sudah meluangkan waktunya untuk merawatnya.


“Yanti kamu tidak ikut makan”, ucap Roy.


“Aku kan sudah sarapan pagi Roy dirumah, jadi aku tuh sudah kenyang sekali”, ucap Yanti.


“Oh, pantas dia tidak mencicipi masakannya sendiri yang super asin itu”, ucap Roy dalam hati.


“Mas Roy suka kan masakan yang Yanti buat, hayo...jangan bohong?”.


“Suka Yanti, terimakasih sudah repot-repot memasak makanan untukku”, ucap Roy terpaksa sambil menganggukan kepalanya.


“Nanti buat makan siang dan sore aku masakin lagi ya, makanan kesukaan kamu, ayamnya masih ada di kulkas yang belum dimasak”.


“Jangan Yanti tidak usah repot-repot memasak lagi, nanti beli saja ya di warung makan depan pintu masuk komplek”.


“Aku enggak repot ko mas Roy, cuma masakin ayam goreng saja buat kamu”.


“Aduh gawat ini....harus bagaimana ini”, ucap Roy dalam hatinya.


“Ayam yang belum digoreng itu disimpan saja ya, buat aku makan besok pagi, kan gampang sudah kamu bumbui jadi tinggal aku goreng”, ucap Roy.


“Jadi enggak usah nih?”, ucap Yanti.


“Iya Yanti enggak usah”.


“Baiklah kalau begitu mas Roy”.


Roy merasa bersyukur karena tidak jadi memakan ayam goreng asin lagi.


“Selamat-selamat”, ucap Roy dalam hati sambil mengelus dadanya.


“Mas Roy, kalau begitu Yanti pergi keluar dulu ya sebentar ke warung makan membeli makanan untuk mas Roy nanti”.


“Iya Yanti, hati-hati ya”.


“Iya mas Roy”.


Selang beberapa lama Yanti keluar dari rumah Roy, ada telepon yang menanyakan kabar Roy.


“Kring...kring....kring” bunyi dari Handphone Roy.


“Siapa yang telepon ya”.


“Ya halo”, ucap Roy.


“Mas Roy Ini Dewi, gimana kakinya mas Roy sudah membaik?"


"Masih sakit dan sekarang mulai membengkak".


"Sudah di obati kan", ucap Dewi.


"Aku sudah beli di apotik obat pereda nyeri dan untuk kompresnya", ucap Roy.


"Syukurlah kalau begitu", ucap Dewi.


"Mas Roy sharelock lokasi rumahnya donk, rencana aku dan Indah mau menjenguk mas Roy".


"Oh iya, sudah aku sharelock lokasi ya”


“Ok mas Roy, daahhh...”, ucap Dewi".

__ADS_1


"Dah..Dewi", ucap Roy.


Lalu Roy bersantai menonton televisi di ruang tengahnya dan melihat masih ada tas tenteng Yanti di rumahnya.


"Waduh gawat...lupa aku Yanti kan belum pulang, nanti dia kembali lagi ke rumah ini!".


"Nanti Dewi dan Indah bisa ketemu dengan Yanti, bisa-bisa Yanti marah besar ini".


Roy sudah hafal betul dengan sifat Yanti.


"Apa aku telepon Dewi ya, supaya tidak jadi kesini".


Lalu terdengar suara mobil parkir di depan pagar rumah Roy, ternyata Dewi dan indah sudah datang.


"Tok...tok...tok...", suara pintu diketuk.


"Permisi, mas Roy..., mas Roy", ucap Dewi dan Indah memanggil.


Roy pun merasa kaget karena Dewi dan Indah sudah tiba dirumahnya, lalu dengan jalan tertatih-tatih Roy membuka pintu depan rumahnya.


"Mas Roy", ucap Dewi dan Indah.


"Mba Dewi, Mba Indah cepat sekali, kaget ya Mas Roy!"


"Kan Dewi membawa kendaraan sendiri dan jalan tadi lancar tidak ada macet sama sekali", ucap Indah.


"Iya mas Roy, aku itu tadi pagi main bersama Indah di rumanya lalu indah cerita kalau rumahnya mas Roy tidak terlalu jauh dari rumahnya Indah, jadinya kita kesini deh sekalian nengokin kamu mas Roy", ucap Dewi.


"Ini kita belikan buah-buahan untukmu mas Roy", ucap Dewi.


"Terimakasih mba Dewi dan mba Indah ya!"


"Sama-sama mas Roy,


"Enak ya mas Roy rumahnya masih asri", ucap Dewi.


"Iya ya Dewi, kompleks perumahan mas Roy ini konsepnya bernuasa hijau minimalis".


"Mba Dewi dan mba Indah mau minum apa".


"Tidak usah repot-repot mas Roy nanti jatuh lagi", ucap Dewi.


"Nanti kalau mau minum, bisa ambil sendiri saja ya, santai saja, anggap saja rumah sendiri", ucap Roy sambil tersenyum.


"Ok mas Roy".


Tidak berselang lama Yanti pun kembali lagi ke rumah Roy, sambil membawa makanan yang iya beli dari warung makan.


"Mas Roy", ucap Yanti.


"Ya yanti", ucap Roy.


Yanti lalu menatap ke arah Dewi dan Indah.


"Mas Roy gimana sih, sudah di belikan makanan, malah minta mba-mba ini antar makanan catering ke rumah".


Dewi dan Indah pun merasa bingung maksud dari pembicaraan Yanti dan Roy.


"Yanti....yanti..., dengar dahulu, mereka bukan mba-mba catering!".


"Lalu mereka ini siapa mas Roy?, ucap yanti bertanya.


"Ini mba Dewi dan mba Indah, teman satu kantor dengan aku".

__ADS_1


"Oh, teman satu kantor mas Roy, enggak lebih dari itu kan?" Ucap Yanti.


"Iya betul, kami teman satu kantor mas Roy", ucap Dewi.


Lalu mereka pun saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing-masing.


"Kami kemari mau menengok mas Roy", ucap Dewi dan Indah.


"Oh begitu....", ucap Yanti dengan nada sinis".


"Ternyata aku memiliki saingan wanita-wanita cantik teman satu kantor dengan mas Roy" ucap Yanti dalam hatinya.


"Tak akan ku biarkan mas Roy direbut oleh salah satu dari mereka", ucap Yanti.


"Maaf Mba Yanti ini, saudaranya mas Roy ya?", ucap Dewi.


Yanti langsung menatap Dewi dan Indah dengan sinis.


"Bukan...bukan!", ucap Roy dengan gugup.


Lalu Yanti pun langsung menjelaskan jawaban dari pertanyaan Dewi itu.


"Saya mantan kekasihnya mas Roy, kita pernah pacaran waktu kuliah dulu, dan sekarang ini kita ingin merajut kasih kita lagi yang telah putus dahulu".


Dewi dan Indah pun merasa kaget, bahwa mereka datang disaat yang tidak tepat.


Dewi dan Indah pun melirik satu sama lain.


"Maaf mba kita tidak mengganggu kalian berdua kan?", ucap Dewi


"Tidak mba, justru saya senang sudah di tengokin."


"Tidak masalah kalau kalian tidak ada maksud lain", ucap Yanti dengan nada ketus.


"Maksudnya mba Yanti apa?". Tanya Dewi.


"Kalian mau mendekati mas Roy kan?, kebetulan mas Roy sedang sakit jadi alasan kalian bisa mengetahui rumah mas Roy.


"Jangan-jangan, penyebab mas Roy terkilir gara-gara kalian".


"Sudah cukup Yanti jangan berbicara seperti itu sama mba Dewi dan Indah". Ucap Roy dengan nada marah.


"Jangan kamu cemburu buta, Aku bukan siapa-siapa kamu lagi", ucap Roy


"Kamu tega sekali mas Roy berbicara seperti itu di depan mereka!", ucap Yanti sambil menangis.


Akhirnya Yanti pun berlari keluar dari rumah Roy.


Roy dengan kondisi kakinya yang sakit seperti itu tidak memungkinkan mengejar Yanti.


Dewi dan Indah pun merasa tidak enak hati atas kejadian tersebut.


"Mas Roy, kami mohon maaf karena kedatangan kita berdua, mas Roy dan Mba Yanti jadi bertengkar".


"Bukan salah kalian mba, Yanti yang terlalu sensitif terhadap kalian berdua".


"Kalau begitu kami mohon pamit mas Roy, semoga lekas sembuh mas Roy".


"Iya terimakasih mba Dewi dan mba Indah, sudah mau menjenguk, Hati-hati di jalan ya".


"Iya mas Roy terimakasih".


Akhirnya Dewi dan Indah pun pamit, untuk pulang kerumah mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2