
Cole memandangi Alfredo yang masih bergeming di tempat. Ia mengumpat kecil di dalam hati sejenak, karena tak bisa membaca mimik muka Tuannya yang datar itu.
Oh my God! Apa yang sedang dia perhatikan, jangan sampai pertemuan hari ini kacau
Cole menyugar rambutnya sejenak sambil menghela nafas.
"Cole, kita masuk ke dalam saja, sepertinya pria itu akan lama," ucapnya datar sambil memasukan tangan ke saku celana kemudian memutar tumit, berjalan menuju pintu utama.
Syukurlah, berarti Tuan tidak menyadari keberadaan wanita itu.
Cole mengikuti cepat langkah kaki Alfredo. Sesampainya di dalam keduanya memutuskan menunggu Tama di lobi perusahaan dengan duduk bersantai di sofa.
"Maaf, Mister Castello, karena menunggu saya terlalu lama di sebelah ada kekacauan." Nafas Tama tersengal-sengal sebab sedari tadi dia berlari menuju perusahaannya.
Alfredo enggan menyahut hanya menatap datar Tama yang tengah mengatur ritme pernafasannya sekarang. Melirik Cole sekilas lalu menghela nafas.
Aduh, bagaimana ini? Pasti dia badmood.
Cole menarik nafas panjang kemudian berkata,"Baiklah, Tuan Tama, tidak apa-apa, lebih baik sekarang kita masuk ke ruangan."
Tama mengangguk lalu mempersilahkan Alfredo dan Cole untuk mengikuti sekretarisnya yang baru saja tiba.
"Apa begini etos kerja di perusahaan ini, terlalu banyak membuang waktu," ucap Alfredo tiba-tiba sembari beranjak dari sofa dan merapikan sesaat jas-nya.
Cole menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendengar perkataan atasannya barusan. Menyengir kuda seraya melempar pandangan pada Tama dan sang sekretaris.
Sedangkan Tama menggeram sebal saat melihat muka datar Alfredo terukir jelas saat ini. Sudah dua kali pria itu bersikap arogan padanya.
*
*
Sesampainya di ruang khusus rapat. Tanpa banyak kata Alfredo langsung duduk di dekat kaca pembatas ruangan. Mengangkat satu alis matanya dengan melirik Cole, meminta pada tangan kanannya mengambil alih tugasnya. Suasana hatinya sedang tak baik karena sikap Tama tadi membuat ia malas sekali berbincang dengan pria tersebut.
Cole mengerti lalu duduk berhadapan dengan Tama dan sang sekretaris yang nampak keheranan. Sementara Alfredo tengah membelakangi ketiganya, melihat lalu lalang kendaraan di bawah gedung berlantai emas belas itu.
"Tuan, mari kita mulai saja pembahasan kerjasama kita hari ini, Tuan Alfredo tak ingin di ganggu," ucap Cole agar Tama dan wanita di hadapannya tak kebingungan.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Tama menahan amarah sambil mengepalkan tangannya di bawah meja, ia merasa tak dihargai, ingin sekali ia melayangkan pukulan di wajah Alfredo sekarang. Namun mengingat siapa Alfredo Castello, tentu saja ia tidak berani.
Alfredo Castello adalah salah satu pebisnis yang kaya raya dan memiliki adikuasa di negeri Jerman. Pria yang memiliki mata berwarna coklat dan hidung mancung itu adalah pria blasteran, dari pasangan Collin Castello berasal dari Jerman dan Shinta Atmajaya dari Indonesia.
Alfredo Castello, pria yang memiliki wajah datar dan sangat kaku, nyaris tak bisa terbaca sama sekali. Pria itu sangat lah cuek dan tak peduli pada orang di sekitar, acuh tak acuh.
Baru empat bulan Alfredo meneruskan perusahaan ayahnya, Castello Crop. Dan untuk pertama kalinya ia mau berkunjung ke Jakarta. Sudah sebulan pula dia berada di sini, menjalin kerjasama antar perusahaan lainnya, yang memberikan banyak keuntungan pada perusahaannya.
"Kurang lebih seperti Tuan Cole, apa kita sepakat?" ucap Tama setelah sang sekretaris menjelaskan panjang lebar barusan mengenai kerjasama yang akan mereka jalin.
"Hm, boleh." Bukan Cole yang menjawab melainkan Alfredo di sebrang sana. Walaupun ia tengah duduk membelakangi mereka tapi sedari tadi dia mendengar semua penjelasan sekretaris Tama.
Mengulas senyum, Tama bersorak di dalam hati sejenak. Karena berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan terbesar di benua Eropa.
Sedangkan Cole langsung mengambil dokumen dan menghampiri Alfredo untuk menanda tangani perjanjian kerjasama tersebut.
Selesai Alfredo membubuhkan tanda tangan di surat. Ia meminta Cole mengambil kopi di pantry, Cole patuh kemudian memberikan berkas kepada Tama. Ia pun pamit keluar hendak mengambilkan Tuannya kopi. Selepas kepergian Cole, Alfredo kembali memandang lurus ke depan kaca raksasa.
Tama merekahkan senyuman kala melihat tandatangan Alfredo tersematkan di dokumennya. Tersenyum pada sekretarisnya lalu berkata,"Carikan aku restaurant untuk makan siang bersama Tuan Castello."
"Minggir kamu! Di mana Tama?!" Anis menarik cepat tangan sang sekretaris keluar ruangan.
"Anis..." Tama terkejut melihat kedatangan Anis ke ruangan. Ia bangkit berdiri lalu menghampiri Anis.
"Tama! Mengapa kamu tidak mengangkat teleponku!?" pekik Anis dengan nafas memburu sembari menatap sengit Tama.
"Anis, mengapa kamu di sini? Keluar lah aku ada pertemuan penting, aku mohon," ucapnya sambil melirik sekilas Alfredo masih duduk di kursi.
"Anis, aku minta maaf, aku ada pertemuan penting sekarang, selesai makan siang aku akan menemuimu, tenanglah hari ini aku akan membelikan apapun yang kamu inginkan, sekarang kamu keluar dulu ya sayang." Tama membujuk Anis, berharap wanitanya itu dapat mengerti.
Anis yang semula marah, akhirnya melunak saat melihat wajah memelas Tama. Tersenyum tipis karena rencananya malam ini untuk tidur bersama Tama akan berjalan lancar.
"Tuan Tama yang terhormat, sepertinya aku akan makan bersama sekretarisku saja, lebih baik anda temani istri anda saja," ucap Alfredo seketika sambil melangkahkan kaki, mendekati keduanya.
"Benarkah? Apa tak apa-apa, aku tidak menemani anda Tuan," ucap Tama.
Alfredo mengangguk pelan, lalu melirik Anis yang melonggo melihat dirinya.
__ADS_1
Astaga, tampan sekali, apa dia artis? Seksi sekali!
Anis berkedip pelan, terkesima dan menatap kagum paras Alfredo yang amat mempesona dimatanya.
"Aku permisi," ucap Alfredo, berlalu pergi dari ruangan.
*
*
*
Restaurant Genta.
Di sisi lain, Miranda tengah duduk dengan bersungut-sungur kecil sebab sudah lima belas menit, pria yang akan menjadi kandidat calon suaminya tak kunjung datang. Padahal tadi Tono mengatakan padanya bahwa sang pria memajukan jam pertemuan.
Mukanya menekuk dengan sangat sempurna. Sepasang mata berwarna hitam legam itu memicingkan mata, melihat Tono mengintip-intip dirinya di ujung sana.
Miranda mendengus sejenak lalu menopang pipinya dengan tangan kanan. Sembari menunggu sesekali ia meneguk minuman greentea di atas meja.
"Hai! Cantik!" Seorang pria menyapa Miranda dengan menepuk pundaknya dari belakang.
Miranda menoleh, tersenyum kikuk ketika melihat pria yang dimaksud Tono ternyata tak sesuai ekspetasinya.
"Sudah lama menunggu?"
Tanpa di suruh pria yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dari Miranda langsung di duduk dihadapannya dan mengedipkan mata seketika.
Tono! Apa dia mau mengerjaiku?! Aku tidak mempermasalahkan penampilan dan wajahnya tapi sikapnya membuatku tak suka.
Miranda menjerit di dalam hati kala pria itu menyentuh tangannya yang dia atas meja.
Beberapa meter dari Miranda, Alfredo tertegun melihat wanita yang selama ini dia cari, ternyata berada di depan matanya bersama seorang pria. Sepasang mata tajam itu mengamati keduanya seksama.
Dalam hitungan detik. Alfredo beranjak lalu hendak mengayunkan kakinya namun Cole dengan sigap menahan Alfredo.
"Jangan Tuan, dia sudah menikah," ucap Cole, cepat.
__ADS_1