
Miranda menarik tangannya dari genggaman Tama dengan perlahan. Setelah bergelut dengan perasaannya barusan. Dia memutuskan menerima permintaan maaf Tama. Lagipula tak ada untungnya terlalu lama memendam rasa benci pada seseorang, yang ada malah membuang-buang energi saja, pikirnya sesaat.
Sementara itu Tama menunggu dengan sabar jawaban dari Miranda. Meski terselip kekecewaan mendalam saat mantan istrinya itu melepaskan genggaman tangannya tadi. Tama memaklumi sikap Miranda. Sejujurnya ia masih mengharapkan Miranda kembali ke pelukannya tapi hal itu tidak mungkin, mengingat saat ini status Miranda adalah suami Alfredo dan satu hal penting pula mantannya itu tengah mengandung. Sampai sekarang pula Tama masih penasaran siapa pemilik janin yang bersemayam di perut Miranda.
"Mama, kenapa diam?" Rikardo memecah keheningan di antara keduanya. Sedari tadi bocah bertubuh tembab itu menunggu juga jawaban dari mama-nya. Walaupun ia masih kecil tapi ia sudah mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.
Miranda melirik ke samping, lalu mengalihkan pandangan ke depan. "Baiklah, aku memaafkanmu, Tama," jawabnya singkat.
Tama mengulas senyum. Di sudut hatinya ia merasa senang karena akhirnya Miranda mau memaafkannya. "Terimakasih, Mir. Bolehkah aku meminta satu permintaan padamu?"
Miranda menaikkan satu alis mata. "Em, apa itu?"
"Mira, walaupun kita sudah berpisah, apakah aku boleh bertemu dengan Rikardo, aku memohon padamu, aku tak mampu berjauhan dengan anakku sendiri," ucap Tama sambil menatap sendu Miranda.
Miranda mengangguk. "Baiklah, maafkan aku juga karena memisahkan kalian, Tam."
"Kamu tak bersalah, itu hal yang wajar kalaupun aku menjadi dirimu, aku akan melakukan hal yang serupa. Sekarang apakah boleh kita berteman?" Meski Miranda tak menjadi miliknya lagi. Apa salahnya jika ia dan mantan istrinya itu bisa menjadi teman, pikir Tama sejenak.
Miranda mengangguk kecil.
"Terimakasih, Miranda," ucap Tama, senang.
*
*
*
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu di mall. Miranda, Tono dan Rikardo kembali ke mansion. Tono begitu gembira walau belum berkerja, Alfredo sudah memberinya kartu khusus untuk dirinya. Alhasil di pusat perbelanjaan tadi dia banyak membeli pakaian dan barang-barang mahal.
"Suami you, baik banget deh!" celetuk Tono sambil menutup pintu kamar Rikardo. Beberapa menit yang lalu ia menemani Miranda membacakan dongeng pengantar tidur untuk putranya.
"Emm." Miranda hanya membalas dengan berdeham rendah.
Tono menghela nafas. "Mir, kita nyantai dulu yuk ke atas, cerita sama eyke, jangan di pendam," ucapnya.
Miranda tersenyum tipis lalu mengajak Tono ke lantai empat dan tak lupa memerintahkan asisten membuatkan mereka ice lemon tea. Sebab malam ini cuaca sangatlah panas.
"Mir, eyke nggak tahu apa yang sedang you pikirkan, ayo cerita ke eyke, ingat di perut you ada dedek bayi dan you nggak boleh stres tahu!" Tono menyesap perlahan ice lemon tea lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
Miranda menundukkan wajahnya seketika.
"Ton, kamu jangan ketawa ya, sepertinya aku sudah jatuh cinta dengan Alfredo, tapi aku takut Ton, takut apa dia akan seperti Tama, apalagi pernikahan kami hanyalah pernikahan bisnis. Asal kamu tahu Ton, terkadang aku berpikir Alfredo lah yang menyentuhku di hotel, tapi itu tidak mungkin."
"Ough, ough, sampai berkhayal bercocok tanam sama dia ya you, haha, sudah eyke dugong, lagian siapa sih yang bisa menolak pesona Alfredo!" serunya dengan cukup lantang.
Miranda mendengus mendengar jawaban Tono, yang tak mengindahkan perkataannya.
"Mir, nggak semua cowok itu sama, jalani saja dulu, coba you terus terang sama Alfredo, cari waktu yang tepat untuk ngomong berduaan sama dia," kata Tono.
Enggan menyahut. Miranda hanya tersenyum hambar. Tengah berpikir dengan saran dari sahabatnya itu. Untuk wanita seperti dirinya yang egonya sangat tinggi, tentu saja Miranda sangat gengsi untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu pada seorang pria.
Malam semakin malam, setelah berkeluh kesah bersama. Miranda dan Tono akhirnya memutuskan untuk tidur, ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Miranda merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi menyamping sambil meraba-raba tempat tidur. Dia semakin gelisah, baru saja sehari tak melihat wajah Alredo, membuah perasaannya semakin kalut.
__ADS_1
"Al, kamu pakai pelet apa sih?! Kamu lagi ngapain di sana?" Miranda berbicara sendiri sambil menghirup aroma tubuh Alfredo yang menempel di selimut. Cukup lama ia melamun dengan membayangkan wajah sang suami hingga pada akhirnya rasa kantuk menyerangnya.
Kini jarum jam di atas nakas, berputar di angka satu dini hari. Terdengar suara pintu terbuka dari luar, nampak sosok pria berperawakan tinggi dan besar berjalan pelan mendekati Miranda yang tengah tertidur pulas di tempat peraduan.
"Miranda, kenapa kamu sangat nakal."
Alfredo baru saja sampai di kediamannya setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam dari kota yang menjadi tempat proyeknya sedang beroperasi. Tadi dia mendapatkan kiriman beberapa foto Miranda dan Tama sedang berpegangan mesra di mall dari Anne. Hal itu tentu saja membuat hati Alfredo panas dan membara. Dia sangat tak rela Tama menyentuh tangan istrinya itu. Karena tak mampu menahan rasa cemburu ia pun langsung kembali ke Jerman, ingin memberikan hukuman pada sang istri.
Alfredo menyeringai tipis sambil memperhatikan Miranda tengah memakai lingerie tipis berwarna merah maroon sehingga menampilkan lekukan tubuhnya yang seksi.
"Hm, dia pasti menggodaku lagi, awas saja!" Alfredo melepas semua kain yang menempel di tubuhnya satu-persatu dengan cepat. Kemudian naik ke tempat tidur dan mulai melucuti pakaian Miranda.
Miranda melenguh kala merasakan tangan kokoh dan besar meraih pakaiannya. Dengan setengah sadar ia membuka matanya.
"Astaga, mengapa aku memimpikannya, mengapa aku sangat mesum, hm biarlah lagipula ini kan mimpiku. Aku merindukanmu, Al," ucapnya lalu menutup matanya kembali.
Alfredo mengulas senyum saat mendengar perkataan Miranda. Entah mengapa dia sangat senang, wanita yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam hatinya memendam rindu padanya.
"Malam ini kamu harus di beri pelajaran." Alfredo melepas bagian atas pakaian Miranda kemudian bermain sejenak di puncak gunung istrinya.
"Ah.. Al, hentikan, geli...." Miranda melengkungkan dadanya ke atas.
Sementara itu, Alfredo merem@s-remas tubuh Miranda hingga wanita itu mendesah kuat. Setelah puas bermain, dia langsung mengeksekusi Miranda walaupun wanita berparas cantik itu tak menyadari kedatangannya dan menganggap percintaan malam ini, hanyalah mimpi saja.
Menjelang pagi. Miranda merasa tubuhnya begitu remuk. Dia pun membuka cepat matanya dan mengedarkan pandangan di dalam kamar, kemudian melihat tubuhnya masih utuh memakai pakaian tembus pandang.
"Mengapa rasanya sangat nyata, ternyata aku mesum!" Miranda terkekeh kecil sambil menepuk pipi kanannya.
__ADS_1