
Reflek, Miranda langsung melihat Alfredo. Saat ini keduanya saling menatap satu sama lain.
"Anak? Kamu bilang apa tadi, Al?" tanyanya penasaran.
Bukannya membalas perkataan Miranda, Alfredo malah sibuk memandangi bibir merah Miranda yang nampak menggoda imannya. Pria itu seakan terhipnotis pada benda munggil nan menantang itu, tanpa dia sadari Miranda memanggil namanya berulang kali dari tadi.
"Al, mengapa diam?"
"Alfredo."
"Al!"
Lamunan Alfredo seketika buyar, dalam sepersekian detik, dia langsung membungkam Miranda dengan *****@* kasar bibir wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
Sementara itu, Miranda yang di serang tiba-tiba begitu terkejut, meskipun begitu dia tak marah dengan perlakuan Alfredo. Malah sangat senang, walaupun dia masih malu-malu jika berhadapan langsung dengan Alfredo.
Cukup lama keduanya menyalurkan perasaan mereka melalui kec@pan-kec@pan ringan yang terdengar syahdu sekarang di dalam ruangan. Dengan mata terpejam, Alfredo menyematkan jari-jemarinya ke jemari Miranda sambil tak henti-hentinya melilitkan lidahnya dan bertukar saliva sejenak.
Saat mendengar nafas Miranda mulai tersengal-sengal, Alfredo mengurai pelukan lalu menempelkan kening ke kening sang istri. Melihat Miranda masih memejamkan matanya.
"Mira, buka matamu," titahnya mengulas senyum tipis.
Miranda membuka mata secara perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sepasang mata coklat tengah memandanginya dengan begitu dalam. Semburat merah muncul jelas di kedua pipinya sekarang. Secepat kilat ia membuang muka, Miranda tersipu malu. Alfredo selalu saja membuatnya salah tingkah, padahal pria itu tak pernah mengucapkan kata-kata gombal ataupun merayunya, namun Alfredo selalu bisa menjungkir balikkan dunianya dengan satu tatapan mautnya.
Alfredo menekan tubuh Miranda, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri.
"Aku harus pergi sebentar lagi," ucapnya kemudian. Alhasil perkataan Alfredo membuat Miranda mengalihkan pandangan.
"Kenapa cepat sekali?"
"Ada yang harus aku kerjakan, maka dari itu sebelum aku pergi, bolehkah aku menjenguk anakku."
"Al, mengapa kamu selalu mengatakan ini anakmu, jelas-jelas ini bukan anakmu, aku saja tidak tahu siapa ayahnya." Miranda menerangkan apa adanya.
__ADS_1
"Aku memang ayahnya." Mimik muka Alfredo begitu datar dan kaku. Melihat hal itu tentu Miranda semakin kebingungan.
"Al, jangan bercanda, tidak lucu tahu!" sungut Miranda sambil mengerucutkan bibir dengan tajam.
"Apa aku sedang bercanda? Apa kamu belum ingat juga?"
Belum sempat Miranda berpikir dan membalas perkataannya. Alfredo kembali mendekap Miranda dan melabuhkan kecupan pelan di bibirnya. Lalu mengubah posisi tubuhnya sedikit kemudian melancarkan serangannya tanpa menghiraukan lenguhan Miranda yang meminta dilepaskan. Seketika bayang-bayang percintaan di dalam hotel menari-nari di benak Miranda. Wajah Alfredo lah yang muncul begitu jelas kali ini. Tidak blur alias buram seperti sebelum-belumnya.
Whats!? Ini tidak mungkin? Jadi Alfredo, yang meniduriku, bagaimana bisa?
Melintas lagi ingatan ia menampar Alfredo. Miranda menjerit di dalam hati.
Argh! Bodoh sekali aku!
"Apa sudah ingat?" Alfredo menjauhkan wajahnya. Menatap Miranda tengah memejamkan mata sembari mengangguk pelan.
"Sekarang aku harus menjenguk anakku!" seru Alfredo membuat Miranda meremas kain sprei begitu kuat.
Kedua mata Miranda terbuka cepat. "Al, jangan dulu, kasihan an–"
Bunyi ketukan pintu membuat perkataan Miranda terpotong. Sementara Alfredo mendengus kesal sebab dia tahu siapa yang berani menganggunya. Tanpa banyak kata Alfredo beranjak kemudian membuka pintu. Melihat Cole di depan pintu kamar dengan menunjukkan wajah menahan sabar.
"Tuan, kita harus pergi sekarang! Kolega meminta Tuan yang menanganinya langsung, saya mohon, Tuan. " Cole mengingatkan sambil membungkukkan badan.
Alfredo tak menyahut namun berjalan mendekati Miranda yang masih di atas tempat tidur.
"Aku pergi, baik-baiklah di sini," ucap Alfredo lalu mengecup singkat kening Miranda.
Sontak Miranda terkesiap, tak menyangka Alfredo bisa bersikap manis padanya. Dia membeku di tempat sambil memandangi punggung Alfredo menghilang di balik pintu.
*
*
__ADS_1
*
Sudah dua hari, Alfredo masih berada di luar kota merampungkan pekerjaannya. Miranda dilanda kerinduan mendalam. Dia benar-benar tak ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Alfredo. Tapi semuanya terhambat oleh ruang dan waktu, Miranda mendesah kasar ketika sebuah nomor asing menghubunginya lagi.
Dengan terpaksa, Miranda menerima panggilan. Perkataan seseorang di ujung sana berhasil membuatnya mematung sejenak. Bagaimana tidak' ternyata Eyang Sari sedang sakit keras dan memintanya pulang ke Indonesia sebentar. Tanpa banyak pikir, Miranda mengiyakan permintaan Eyang.
Miranda tak lupa memberitahu Alfredo akan ke Jakarta hari ini juga. Meski pesan yang dia kirim hanya di baca saja. Selesai mengirim pesan, dia langsung mengajak Tono dan Rikardo bersiap-siap pergi ke bandara.
Sesampainya di Jakarta, Miranda meminta Tono mengajak Rikardo ke apartment miliknya. Setelah itu ia langsung pergi ke kediaman Eyang Sari.
Perasaan Miranda begitu kalut sekarang, selama menjadi menantu Nahendra, tak pernah ia mendengar Eyang sakit namun sekarang wanita yang ia hormati itu dikabarkan sakit keras.
Dengan gesit Miranda melangkah memasuki rumah akan tetapi belum juga sampai di kamar Eyang. Langkahnya terhenti kala Anis menghadangnya tiba-tiba.
"Mau apa kamu kesini ha?!" seru Anis dengan melipat tangan di dada.
Miranda mendengus. "Bukan urusanmu!" ketusnya lalu mendorong kasar tubuh Anis.
"Si@l!" Anis berang, secepat kilat menarik tangan Miranda hingga wanita yang tengah berbadan dua itu hampir terjungkal. Entah datang darimana Tama menahan Miranda agar tak terjatuh.
"Anis?! Apa-apaan kamu?!" murka Tama.
"Apa?! Suka-suka aku! Lagian kenapa mantan istrimu kemari?!" seru Anis dengan melayangkan tatapan dingin ke arah Miranda.
Miranda berdecih sejenak sambil menurunkan tangan Tama dari bahunya kemudian mendekati Anis.
"Aku tidak akan ke sini kalau tidak di suruh, tidak usah mencampuri urusanku, Anis, bukankah kamu sudah hidup bahagia sekarang! Walaupun harus menggunakan cara kotor!" Miranda melirik perut Anis yang sudah terlihat membesar.
Anis meradang kemudian mengangkat tangan ke udara.
Plak!!!
Wanita berambut sebahu itu terlonjak kaget ketika pipi sebelah kanannya di tampar Miranda. Rupanya ia kalah gesit dari rivalnya itu. Tama pun tak kalah terkejutnya melihat kebringasan Miranda.
__ADS_1
"Anis! Selama ini aku diam bukan berarti aku takut padamu! Bisakah kamu tidak mencampuri urusanku lagi! Tama sudah menjadi milikmu, bukan!? Aku hanya ingin menjenguk Eyang, tidak lebih! Lagipula aku sudah bahagia bersama suamiku!" Miranda berseru lantang membuat hati Tama terbakar cemburu sekarang.