Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Bonus Chapter ~ Bukan Anakku!


__ADS_3

Tama kalang kabut, menunggu informasi dari dokter yang berada di ruang IGD sekarang. Tak menyangka akibat kemarahannya membuat Anis dan anaknya terluka. Perasaan takut dan cemas menyelimuti hatinya seketika.


Tiba-tiba dari arah samping, Eyang Sari berserta kedua orangtuanya berjalan mendekati Tama.


"Tama," panggil Eyang Sari.


Tama memutar kepalanya ke sumber suara. "Eyang.. Anakku..." ucapnya lirih.


"Anakmu mati? Baguslah..." Sebuah jawaban singkat membuat Tama tersentak kaget, bagaimana bisa di tengah-tengah kegelisahan hatinya, wanita yang ia hormati malah mengaminkan anaknya meninggal.


Tama mulai tersulut emosi, karena Eyang masih tak menerima Anis sampai saat ini.


"Apa-apaan Eyang, Anis sedang bertarung nyawa di dalam, anakku sedang kritis, Eyang!" seru Tama dengan nafas memburu.


"Tama jangan sekali-kali kamu menaikan suaramu di hadapan Eyang! Kamu yakin itu anakmu!?" Mamanya melayangkan tatapan mencemooh pada Tama.


"Apa maksud mama?" Tama kebingungan.


"Apa kamu tak pernah menerima foto-foto Anis berhubungan badan dengan pria lain?" tanya Eyang Sari. Yang tentu saja dialah dalang di balik foto tersebut. Dia memerintahkan seseorang mengirim foto mesum Anis dan berharap mata Tama dapat terbuka lebar. Tapi yang ada, Anis malah menipu daya Tama lagi. Berkilah bahwa foto itu hanya rekayasa.

__ADS_1


"Iya, aku pernah menerimanya, dan aku berusaha memaafkan Anis, kata Anis foto itu di ambil oleh seorang pria yang terobsesi padanya, dia di beri obat tidur waktu itu,"jelas Tama.


"Lalu, apa kamu pernah berpikir bahwa itu bukan anakmu?!" Kali ini papanya yang membuka suara.


Deg.


Tama membeku. Mengapa dia melewatkan satu fakta penting.


"Sudah kami duga, kamu tak pernah berpikir ke situ. Tama, Tama, Tama, semenjak berpisah dengan Miranda, kamu menjadi pria dungu!" seru Papanya lagi ketika melihat Tama diam seribu bahasa, tak menyanggah perkataannya barusan.


"Eyang dan mama yakin, itu bukan anakmu, lebih baik kamu periksa, Tama." Mama Tama menimpali sambil melirik dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Keluarga atas nama Anis?" Dokter mengedarkan pandangan di ruang tunggu.


Dokter menghembuskan nafas pelan. "Nyonya Anis masih dalam pemulihan, sebentar lagi dia akan siuman, sementara anak anda terpaksa kami lahirkan melalui operasi sesar, tapi–"


"Maksud dokter, anak saya baik-baik saja kan, bagaimana keadaannya?" potong Tama tak sabaran.


Dokter tak serta-merta langsung menjawab, menarik nafas panjang lagi. "Maaf, karena benturan keras di bagian kepala, sehingga membuat saraf anak anda terganggu dan–"

__ADS_1


"Argh!!! Anak si@lan!! Dia bukan anakku!!!" teriak Anis dari dalam ruangan tiba-tiba.


Menjadikan Tama, Eyang Sari dan kedua orangtua Tama terkejut. Mereka pun langsung meminta izin pada dokter untuk menjenguk Anis ke dalam ruangan.


"Anis!" panggil Tama, melihat pacarnya menyodorkan pisau medis pada para perawat di ruangan.


"Tama! Dia bukan anakku! Kenapa wajahnya tak mirip denganku! Argh! Anak si@lan! Mati saja!" Anis hendak melempar anaknya ke lantai namun secepat kilat Tama mengambil paksa bayinya dan mendorong pelan bahu Anis.


Secepat kilat para tenaga medis pun mengamankan Anis dengan memegang tangannya di sisi kanan dan kiri.


Tama melebarkan matanya, melihat wajah anaknya yang ternyata mengalami down syndrome. Begitupula dengan keluarganya tak kalah terkejutnya. Mereka tertegun sambil menatap iba pada bayi tak berdosa itu.


"Argh! Lepaskan aku!" Anis mengigit punggung tangan sang perawat lalu berlari kencang menuju pintu kamar, meninggalkan para medis yang terlihat panik. Sementara Tama begitu kecewa dengan sikap Anis yang ingin membunuh anaknya sendiri.


Sekarang Anis berada di pelataran rumah sakit. Entah apa yang di pikirkan wanita itu saat ini. Dia hendak menyeberangi jalan raya namun dari arah berlawanan sebuah mobil berukuran besar melintas dan menabrak Anis hingga terpental sejauh empat meter.


Sang supir begitu terkejut ketika kendaraan yang ia kemudikan menabrak seseorang. Dia pun mengerem mendadak hingga menimbulkan bunyi decitan ban dan aspal saling beradu.


Cit!!!

__ADS_1


Dalam hitungan menit suara ambulance terdengar mendekat ke sumber kecelakaan.


"Tama..." Secara perlahan pandangan Anis mulai gelap. Dia terbaring di jalanan dengan keadaan bersimbah darah di sekujur tubuhnya.


__ADS_2