
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, memasuki trimester kedua, perut Miranda semakin membesar. Seiring waktu pula sikap Alfredo yang semula dingin seperti kulkas 20.000 pintu perlahan mulai menghangat pada Miranda. Ketika sedang berjauhan ia akan selalu menghubungi istrinya meskipun pekerjaan yang ia lakukan belum rampung. Jika sudah begitu Cole yang selalu menjadi garda terdepan menyelesaikan pekerjaan majikannya.
Alfredo juga menyayangi Rikardo seperti anak kandungnya sendiri. Semula Rikardo merasa asing dan aneh tapi lama kelamaan. Bocah bertubuh tembab tersebut mulai terbiasa dengan kehadiran ayah sambungnya itu.
Seperti hari ini Alfredo menyempatkan waktu mengantar Rikardo bersekolah. Tentu saja Rikardo merasa senang walau di sekolah banyak orangtua teman-temannya terpesona dengan papa sambungnya. Rikardo sebal, sebab tak hanya mama temannya yang sering bertanya tentang papanya melainkan teman sebayanya pun ikut-ikutan tertarik.
"Rikardo, hari ini yang mengantarmu ke sekolah papamu ya?" tanya salah seorang anak kecil berambut blonde.
Rikardo mendelikkan mata. "Iya!" katanya ketus.
"Sepertinya kamu tak suka aku menanyakan papamu?" tanyanya sambil mengerucutkan bibir dengan tajam.
"Tentu saja aku tak suka, dia papaku, suami mamaku, dasar genit! Benar kata papa sambungku! Semua perempuan sama saja, kecuali mama," ucap Rikardo kemudian berlalu pergi meninggalkan teman sekelasnya itu.
"Rikardo! Tunggu aku!" Perempuan bertubuh munggil itu berlarian mengejar Rikardo. Alhasil terjadilah aksi kejar-mengejar di koridor kelas untuk sesaat.
Waktu menunjukkan pukul satu siang. Setelah menyelesaikan pelajaran. Rikardo menunggu dengan sabar kedatangan mama atau papanya.
"Hai, Rikardo, apakah papamu yang menjemputmu?" Bocah tadi pagi menghampiri Rikardo yang tengah menunggu jemputan.
Rikardo menoleh. "Apa kamu tak ada kerjaan menguntitku terus! Kalaupun papaku yang menjemputku, kamu mau apa?! Jemputanku sudah datang dan yang menjemputku adalah papa dan mamaku! Pergi sana kamu!" serunya kesal kemudian mendorong kuat pundak temannya lalu pergi dari hadapan gadis itu yang tertegun di tempat itu.
__ADS_1
Padahal kan aku bingung mencari topik pembicaraan denganmu Rikardo, jangan samakan aku seperti yang lainnya, apa aku salah, hiks, hiks, hiks.
Bocah berperawakan munggil dan imut itu memanyunkan bibirnya, menatap nanar kepergian laki-laki kecil yang berhasil membuatnya jantungnya berdebar-debar setiap kali berdekatan.
*
*
*
"Papa, mama! Kita mau kemana?" tanya Rikardo sambil duduk di kursi tengah lalu membuka tas ransel dan menaruhnya di samping.
Miranda dan Alfredo yang berada di kursi depan, melirik di kaca spion bagian tengah mobil.
"Yei! Setelah dari rumah sakit, kita ke mall ya, Ma. Rikardo mau belikan mainan mobil untuk adik nanti!" seru Rikardo sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara.
Melihat keceriaan Rikardo, Miranda dan Alfredo mengembangkan senyuman.
"Baiklah, sekarang pakai sabuk pengamanmu, kita akan lepas landas," kelakar Alfredo sejenak.
Sontak Miranda dan Rikardo yang mendengar guyonan Alfredo terkekeh pelan. Keluarga kecil itu menikmati hari-hari mereka sebelum anggota baru akan datang
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan kehidupan Tama dan Anis. Bukannya akur keduanya hampir setiap hari selalu beradu mulut. Dari masalah kecil sampai masalah besar pun selalu di besar-besarkan mereka.
Tama semakin stres terhadap sikap Anis yang melunjak. Bagaimana tidak, pacarnya itu selalu menghambur-hamburkan uang, walau perusahaannya sampai saat ini tidak bangkrut sepenuhnya berkat, tapi tetap saja bisa membahayakan manajemen keuangannya.
"Anis! Apa-apaan kamu! Kenapa kamu membeli tas lagi!!!" bentak Tama dengan mengangkat tas yang ia ambil di lemari khusus Anis tadi.
Anis meletakkan alat pedicure-nya di atas meja, kemudian mendongkakkan wajah.
"Memangnya, kenapa? Tas itu limited edition Tama, lagipula semua ini keinginan anakmu, sepertinya anakmu perempuan."
Tama mengepalkan kedua tangan. Untuk kesekian kalinya, Anis selalu menjadikan anaknya tameng.
"Tidak usah mengatakan itu keinginan anakku, Anis! Kamu harus berhemat, Anis, sebentar lagi kamu akan melahirkan, kalau kamu ingin membeli peralatan dan perlengkapan bayi! Aku tidak mempermasalahkan hal itu! Tapi ini apa?! Tas?" bentaknya sambil melempar tas Anis ke lantai.
"Tama! Nanti tas aku lecet tahu!" Anis mendengus sambil berjalan hendak mengambil tas-nya.
Mendidih darah Tama. "Terserah! Aku akan membuang semua tasmu!" serunya lalu berjalan cepat ke lantai dua.
"Tama! Jangan!" Anis melebarkan mata, secepat kilat menyusul Tama namun ketika di tangga kakinya tersandung.
"Argh! Tama!" Anis berguling-guling sampai ke anak tangga.
__ADS_1
Tama reflek memutar tubuhnya, melihat Anis berada di bawah tangga dengan keadaan tubuhnya berlumuran darah sekarang.
"Anis!!!" teriak Tama.