
21 +++
🍁🍁🍁
Badan Miranda serasa kaku, pikiran dan keinginan hatinya tak selaras sekarang. Tanpa dia ketahui jika dari tadi Alfredo berbicara padanya tapi dia tak menyadarinya sama sekali. Untuk sejenak, tubuh Miranda membeku namun dalam sekian detik ia segera tersadar kala Alfredo mengecup pundaknya yang terbuka lebar.
"Al, apa yang kamu lakukan?" Miranda langsung melepaskan tangan Alfredo dari perutnya kemudian menutup aset pentingnya dengan kedua tangannya.
"Aku hanya mengikuti naluriku, seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan saat ini?" Alfredo kembali menarik tubuh Miranda dalam satu kali hentakan hingga istrinya setengah berteriak sekarang.
"Al! Lepaskan aku!" seru Miranda ingin terlepas dari jeratan Alfredo manakala pria itu memutar tubuhnya dan mengurungnya dalam pelukan.
Bukannya mengubris ucapan Miranda. Alfredo malah mengangkat dagu istrinya, kemudian menuntunnya untuk melihat kedua bola matanya sebab Miranda sedari tadi tak berani menatapnya.
Sekarang Miranda kalang kabut, nafasnya tercekat, perasaannya sangat tak karuan. Ia bingung dengan situasi saat ini, apalagi bisa saja ia menjadi santapan makan malam bagi suaminya.
"Al, apa maumu? Kamu lupa perjanjian kita?" Sebisa mungkin Miranda berusaha tak menatap mata Alfredo, dengan mengarahkan matanya ke samping.
__ADS_1
Alfredo menyeringai tipis, lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Miranda dan berjalan cepat menuju kasur.
"Al! Turunkan aku! Kamu gila atau apa?! Ha!!" Miranda menjerit kala Alfredo mengukung tubuhnya di tempat tidur.
Gleg!
Miranda menelan ludah dengan susah payah, kala kedua mata insan dua manusia itu saling bertubrukan sama lain. Miranda dapat melihat dengan jelas, sepasang mata berwarna coklat itu tengah menahan gairah.
"Al, lepaskan ak-hmff!!"
Miranda tersentak saat Alfredo mencium kasar bibir sensualnya. Alam bawah sadarpun pun seketika memberontak dengan mendorong dada Alfredo namun karena kalah tenaga, yang ada Alfredo malah semakin mempererat pelukannya hingga kulit keduanya saling menempel tanpa ruang sedikitpun.
Sementara Alfredo, melilit dan melahap habis bibir Miranda sekarang. Secara bersamaan pula kedua tangannya sudah menjelajahi tubuh istrinya, sampai-sampai sekarang tubuh Miranda polos tanpa satu helai benangpun.
Kini Alfredo mengecup perlahan leher jenjang Miranda sembari menyibak rambut panjangnya. Deru nafasnya semakin memburu kala mendengar suara mendayu keluar dari bibir istrinya.
"Al, please..." Dengan mata terpejam, Miranda memohon pada Alfredo untuk menghentikan aksinya.
__ADS_1
Enggan menyahut, lidah Alfredo semakin turun ke bawah. Lalu menatap sejenak aset penting Miranda. Ternyata bentuk dan rupanya masih sama seperti tempo lalu kala ia menjamah Miranda sampai subuh. Namun Miranda sama sekali tak sadar jika ia dan Alfredo telah menghabiskan satu malam bersama kala itu.
"Ha, Al...." Miranda mencengkram kuat rambut Alfredo. Saat suaminya bermain di asetnya sehingga membuat tubuhnya melengkung ke atas.
"Al, ada anakku, dokter mengatakan padaku kalau di trimester pertama tak boleh berhubungan badan..." ucap Miranda lirih, masih dengan matanya yang tertutup sempurna.
Alfredo menjauhkan wajahnya seketika kemudian menempelkan keningnya ke kening Miranda.
Miranda dapat merasakan deru nafas Alfredo menerpa wajahnya. Ia pun membuka perlahan kelopak matanya.
"Maaf, lain kali jangan membuka pakaian sebelum melihat keadaan sekitar, beristirahatlah, aku tak mau anakku sampai kenapa-kenapa." Alfredo menatap dalam mata Miranda sambil menyentuh pipi sebelah kanannya.
"Tapi ini anakku...." Miranda melebarkan mata saat sebuah bayangan-bayangan wajah seseorang samar-samar melintas cepat di benaknya.
Alfredo enggan mengubris, namun mengecup singkat bibir Miranda yang nampak membengkak karena ulah permainannya tadi. Kemudian beranjak dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju toilet.
Selepas kepergian Alfredo, Miranda langsung memegang dadanya yang berdegup kencang sekarang. Ada gelanyar aneh menyelimuti hatinya tatkala Alfredo mencumbunya tadi. Ia seperti dejavu dengan kejadian barusan. Seakan pernah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
Mengapa rasanya aku pernah mengalami ini? Apa mungkin...