Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Hamil?


__ADS_3

Kediaman Nahendra


Esok harinya.


"Heh banci! Kenapa kamu membawa koper kemari?!"


Anis meradang, melihat kedatangan Tina alias Tono menyelenong masuk ke dalam mansion sembari menyeret koper berukuran besar. Rahangnya mengeras saat Tono tak membalas ucapannya dan malah melengos pergi.


"Tono!!!" pekik Anis dengan bangkit berdiri dari sofa lalu melangkah cepat, mendekati Tono.


"Berhenti! Mau kemana kamu?!" Menahan Tono dengan mencengkal pergelangan tangan pria gemulai itu. Namun secepat kilat Tono mengibaskan tangan Anis.


"Apa urusan you?! Eyke mau ke kamar!" Tono menatap nyalang sambil mendorong bahu Anis kemudian menaiki tangga dengan cepat. Anis bagai orang kesetanan berteriak histeris di bawah sana.


"Haha, mampus you! Dasar pelakor!" Sebelum menghilang, Tono menjulurkan lidah sejenak pada Anis, kemudian bergegas menuju kamar asisten.


Di lantai satu. Anis mandir-mandor sambil menghubungi Tama yang saat ini susah sekali dihubungi.


"Argh!" Anis menggerutu sambil membanting ponsel ke lantai hingga benda pipih bermerk apple tersebut retak seketika.


"Anis! Kamu gila atau apa?!" Miranda dan Rikardo baru saja tiba di mansion. Pertama kali masuk ke ruangan utama, dia terkejut, melihat Anis melempar ponsel sampai hancur berkeping-keping.


"Apa?! Suka-suka aku! Ini semua gara-gara teman bancimu itu! Kenapa dia ada di sini? Berkuasa selayaknya Tuan rumah!" Anis berkacak pinggang sambil menatap tajam Miranda.


Miranda menggeleng sejenak. "Anis, Anis, aku yang meminta Tono tinggal di sini, karena dia akan menjaga Rikardo jika aku tak sempat menjemputnya," terangnya.


Anis semakin berang, kehadiran Tono membuatnya pusing tujuh keliling sebab semalam saja ketika Miranda menawarkan makan pada Tono, ia dan Tono berdebat hebat di meja makan.


Masih teringat dengan jelas saat Tono menyindirnya secara terang-terangan di depan Tama. Anis menahan sebal, berharap Tama membela dirinya namun kenyataannya pria itu diam seribu bahasa. Anis tentu saja, marah. Dan berakhir beradu mulut dengan Tama sepanjang malam.


"Seharusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri. Bukan kah kamu yang bersikap seperti bos di rumahku ini."


Miranda melirik meja ruang tamu, memperlihatkan beberapa bungkusan cemilan keripik tergeletak tak beraturan di sembarang tempat dan terdapat bekas minuman anggur tumpah di permadani mahalnya.


Gurat keheranan muncul tiba-tiba diwajahnya ketika melihat sebotol anggur merah yang terlihat kosong.


"Anis, bukannya kamu hamil? Kenapa kamu minum anggur merah, itu ada alkoholnya." Bertanya sambil menyipitkan mata, Miranda curiga dengan kehamilan Anis.


Bodoh! Kenapa aku sampai lupa membuang botol itu! Aku harus cepat hamil, cih! Si@l! Akhir-akhir ini Tama susah sekali untuk di ajak berkerjasama! Malam ini aku harus tidur dengannya!

__ADS_1


Anis menutupi kegugupannya dengan melipat tangan di dada dan mengangkat angkuh dagunya.


"Anis! Apa yang kamu pikirkan? Kamu benar-benar hamil, Kan?" tanya Miranda, membuat jantung Anis berdegup kencang.


Sebisa mungkin, Anis menutupi keresahannya. "Berhenti bertanya hal yang tidak penting padaku! Iya, aku hamil!" kata Anis lalu melenggang pergi dari hadapan Miranda dan Rikardo yang tengah saling melemparkan pandangan.


"Ma!" Selepas kepergian Anis, Rikardo mendongakkan kepalanya ke atas, menatap dengan seksama mamanya.


"Iya, sayang." Mengulas senyum sambil mengelus perlahan kepala Rikardo.


"Kenapa tante Anis tinggal di sini? Lalu mengapa papa dan dia semalam berkelahi ma?" Tadi malam Rikardo tak sengaja mendengar papanya beradu mulut bersama Anis di lorong lantai dua.


Sebelum menjawab pertanyaan anaknya, Miranda menarik nafas panjang. "Tante Anis sedang hamil, jadi dia tinggal di sini sebentar, mereka tidak berkelahi, sayang, papa dan Anis hanya sedang berdebat masalah orang dewasa.


"Oh, begitu, tapi Rikardo tidak suka tante Anis ada di sini," ucap Rikardo dengan memanyunkan bibir.


Mama pun tak suka dia ada di sini sayang, tapi mau bagaimana lagi, papamu mencintai dia.


Miranda hanya mampu berucap di dalam hati sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Rikardo.


"Anak mama, kenapa tidak suka tante Anis tinggal di sini?" Miranda penasaran mengapa sang anak tak menyukai Anis. Setahunya Rikardo merupakan anak dengan kepribadian ramah pada semua orang. Dan baru kali ini ia mendengar anaknya tidak menyukai seseorang.


"Hm, ya sudah, kalau Rikardo nggak mau bilang, sekarang kita ke atas yuk, ada om Tono di atas." Miranda mencubit gemas pipi Rikardo kemudian berdiri cepat.


Dalam hitungan detik, mimik muka Rikardo berubah drastis ketika mendengar Tono berada di lantai dua. Tak mau membuang banyak waktu, ia segera mengenggam tangan mamanya sambil melangkah menuju tangga.


Rikardo tak sabaran bertemu Tono yang selalu menjadi teman bermainnya dikala bosan di rumah. Kaki munggilnya itu menuntun Miranda ke kamar khusus para asistent.


*


*


*


Siang menjelang sore. Miranda tengah sibuk memasak untuk Rikardo. Semenjak mengetahui suaminya berselingkuh, ia memilih menyibukkan diri agar tak terlalu memikirkan biduk rumah tangganya yang kini di ambang kehancuran.


Sementara, Rikardo dan Tono bermain di sekitar ruang tengah. Keduanya tengah berlari-larian kesana kemari.


Sedangkan Anis asik dengan dunianya sendiri sambil menatap sinis Rikardo dan Tono di ujung sana. Jejak kemarahan tergambar jelas di wajahnya kala mendengar suara cekikikan mereka, mengusik aktivitasnya.

__ADS_1


Sebentar lagi, Tama datang, aku harus melakukan sesuatu agar banci itu! Keluar dari rumahku!


Anis beranjak, lalu melangkah cepat hendak menhampiri Rikardo.


Melirik sekilas dinding raksasa berukiran kayu jepara di sisi kanannya. Yang menunjukkan pukul empat sore. Anis tersenyum sinis saat mendapat ide cemerlang tiba-tiba kala mendengar suara deru mobil Tama dari luar.


"Awh!"


"Rikardo!"


Tama melebarkan mata tatkala melihat Anis di dorong Rikardo hingga tersungkur ke atas lantai. Tama panik bukan main, takut jika kandungan Anis kenapa-kenapa. Secepat kilat ia menolong Anis sambil menatap dingin anaknya yang sekarang berlindung di tubuh Tono.


"Rikardo, kenapa kamu mendorong tante Anis?!" Selepas merebahkan Anis di sofa, Tama mendekati Rikardo dan menarik kuat lengan anaknya.


"Rikardo, nggak dorong tante Anis pa, tadi dia yang tiba-tiba datang terus jatuhin diri di depan Rikardo," jelas Rikardo apa adanya. Masih teringat jelas Anis tiba-tiba menghadangnya dan menjatuhkan diri di hadapannya.


"Pembohong! Jelas-jelas tadi dia mendorongku!" Anis tengah berusaha memutarbalikkan fakta.


"Sudah pandai berbohong kamu! Tono, seharusnya kamu bisa menjaga Rikardo agar tidak nakal, baru berapa hari berkerja, kamu udah nggak becus urusin anak saya!" seru Tama dengan muka merah padam lalu menyentak kasar tangan Rikardo.


Reflek Tono menahan tubuh Rikardo agar tak terjatuh. Menahan marah melihat perlakuan Tama pada Rikardo.


"Tuan Nahendra yang terhormat, ternyata bodoh sekali, mau di tipu daya oleh seorang pelakor! Ckck Dan lebih percaya selingkuhan daripada anaknya sendiri!" seru Tono cepat.


Lalu beralih menatap Anis. "Hei nenek lampir! Jangan berharap bisa mengusir eyke dari sini!"


Tono tak mau kalah. Menebak jika Anis tengah merencanakan sesuatu sebab dari tadi dia memperhatikan gerak-gerik Anis yang nampak mencurigakan.


"Ada apa ini?" Miranda baru saja tiba. Masih memakai celemek, beberapa detik yang lalu mendengar suara Tono dan Tama beradu mulut di ruang tengah.


"Mama!" Rikardo mendekati Miranda sambil merentangkan kedua tangannya. Sementara Miranda mengerutkan dahi sambil mensejajatkan tubuh dan memeluk anaknya.


Dari kejauhan Tama dapat melihat Rikardo tengah berbisik di telinga Miranda. Kemarahannya belum mereda, dengan tangan terkepal ia menatap tajam Tono.


Miranda menghampiri Tama sambil mengendong anaknya. "Tama, apa benar kamu memarahi anakku?"


"Iya, karena dia mendorong Anis, kamu tahu sendiri kan Anis sedang hamil! Bagaimana kalau dia sampai kenapa-kenapa! ! Tono tak becus berkerja!" Tama melirik sekilas Tono, yang masih bergeming di tempat.


Mendidih darah Miranda mendengarnya. "Sampai kapanpun aku tidak akan memecat Tono! Kamu benar-benar ayah yang bodoh! Memarahi anakmu sendiri tanpa bukti yang jelas!" balas Miranda cepat.

__ADS_1


"Hamil? Aku rasa pacarmu itu tidak hamil?!" Senyum sinis terukir jelas diwajah Miranda sambil menatap Anis sekilas.


__ADS_2