Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Jangan Sentuh Istriku


__ADS_3

"Haha, bahagia? Cih, aku yakin kamu tidak bahagia, bukankah kamu menikahi Alfredo hanya sebatas bisnis saja. Kamu pikir aku bodoh!"


Kedua tangan Miranda terkepal kuat, mendengar perkataan Anis. Tak menyangka Anis mengetahui mengenai pernikahan bisnisnya. Menghela nafas kasar sambil menatap tajam Anis.


"Walaupun hanya bisnis, setidaknya sekarang kami saling mencintai!" sergah Miranda.


Meski bibir mengucap kata cinta, tapi di relung hati Miranda dilanda keraguan, apakah Alfredo juga mencintainya, namun dia tak ingin Anis semakin menang jikalau sampai saat ini Alfredo tak mencintainya, mengingat pernikahan keduanya hanyalah bisnis belaka.


Miranda melayangkan tatapan tajam ke arah Anis yang sepertinya masih ingin menantangnya. Entah apa mau wanita itu, dia heran.


"Aku tak yakin! Pria tampan seperti Alfredo, tak mungkin mau menikahi janda sepertimu yang tak tahu siapa yang menghamilinya! Alfredo tak mungkin mencintaimu!" Anis berkata dengan tegas.


Miranda tersenyum sinis. "Oh ya? Asal kamu tahu janin yang bersemayam diperutku adalah anak Alfredo!"


Perkataan Miranda barusan, membuat Tama tercengang. Secepat kilat ia mendekati mantan istrinya lalu mencengkram bahunya dengan sangat kuat.


"Apa katamu?! Jangan-jangan selama ini kamu berselingkuh dengan Alfredo lalu mengatur strategi menghancurkan perusahaanku ha?!" bentak Tama, menatap tajam ke arah Miranda.


Miranda tak menyahut, berusaha memberontak agar terlepas dari jeratan Tama, namun usahanya sia-sia sebab tenaganya kalah dari mantan suaminya.


"Lepaskan aku, Tama! Jangan memutar balikan fakta! Aku mabuk malam itu, mengira pria di club malam adalah dirimu, tapi nyatanya bukan, melainkan Alfredo." Miranda meringis sejenak kala Tama semakin mengeratkan cekalannya.


Tama tak mengindahkan penjelasan Miranda. Matanya menggelap seketika, menatap sang mantan dengan sorot mata penuh kebencian.


Sementara Anis yang menyaksikan pemandangan di depan, hanya tersenyum sinis. Sebab tak perlu bersusah payah, Miranda membuka kartunya sendiri.


Entah datang darimana, seseorang berlari cepat menghampiri ketiganya, kemudian melayangkan pukulan di wajah Tama.


Bugh!


"Tama!" Anis memekik melihat Tama terjungkal ke lantai, nampak percikan darah terukir di porselen putih tersebut. Secepat kilat ia melangkah, mendekati Tama dan memapahnya.


Miranda syok, tanpa pikir panjang memeluk Alfredo tengah menatap Tama bagai malaikat kematian. "Al, aku merindukanmu." Ia tak peduli, jika di ruangan bukan hanya dirinya dan Alfredo.


"Apa ada yang terluka?" Alfredo mengurai pelukan kemudian menelisik tubuh istrinya.


Miranda menggeleng cepat. "Al, mengapa kamu datang ke sini, bukankah kamu ada perkerjaan yang harus dikerjakan."

__ADS_1


"Tentu saja aku harus ke sini, perasaanku tak tenang karena kamu akan datang ke rumah bed3bah ini!" murka Alfredo mengalihkan pandangan ke arah Tama sejenak yang masih kesakitan. "Mengapa kamu tak mengangkat teleponku, Mira?"


Miranda tersenyum kecut. "Sepertinya baterai ponselku lowbat," jawabnya apa adanya.


"Wah-wah, benar katamu Tama, sepertinya mereka sudah lama berselingkuh, sulit dipercaya, ternyata mantan istrimu itu, pemain sesungguhnya!" kata Anis sengaja memanasi-manasi Tama.


Tama mendengus, melayangkan tatapan mencemooh pada Miranda dan Alfredo secara bergantian.


"Diam kamu!!!" bentak Alfredo membuat Anis terperanjat kaget. "Kamu dan pria b@jingan inilah yang berselingkuh, sejujurnya aku berterimakasih padamu, kalau bukan berkat kalian berdua yang ketahuan berselingkuh, maka aku tidak kan bisa menikahi berlian seperti Miranda. Sayang sekali Tuan Tama, anda adalah lelaki bodoh yang mau di tipu daya oleh seorang wanita ular seperti dirinya." Alfredo menunjuk Anis seketika.


"Jangan menyentuh istriku! Kalau kalian menyakitinya lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidup kalian!!!" Lanjut Alfredo tanpa melepaskan pandangan dari pasutri dihadapannya.


Selama mengenal Alfredo, Miranda tak pernah mendengar suaminya berkata panjang lebar. Dia sangat terharu dengan penuturan Alfredo barusan. Sekarang tak ada lagi keresahan di relung hatinya mengenai perasaan Alfredo padanya.


Tama terdiam. Pancaran mata yang menyiratkan kebencian, meredup perlahan. Sedangkan Anis menggerutu di dalam hatinya, tak berani menyahut saat melihat mata Alfredo menatapnya sinis.


"Sudahlah, Al, ayo kita ke dalam, aku harus menjenguk Eyang," pungkas Miranda sambil merangkul tangan Alfredo, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Eyang di lantai empat.


Di sepanjang jalan, Miranda mencuri pandang ke samping, memandangi Alfredo dengan tatapan penuh damba.


Langkah kaki Alfredo terhenti. Langsung mencondongkan badannya ke arah Miranda.


"Kamu mau tahu alasannya?"


"Iya." Miranda membuang muka ketika Alfredo menatapnya tanpa mengedipkan mata.


"Karena kamu istriku," ucap Alfredo singkat.


Miranda tak tahu saja, Alfredo yang sedang rapat bersama kolega perusahaan terlihat gusar saat Cole memberitahunya jikalau Miranda pergi ke Indonesia hendak menemui Eyang yang sakit keras. Tanpa basa-basi ia menghentikan pertemuan dan langsung menyusul Miranda.


Miranda cemberut, tak puas dengan jawaban yang diberikan Alfredo.


"Hanya itu?"


"Tidak."


"Lalu?" Dengan sabar Miranda bertanya pada pria sedingin kulkas itu Apalagi mimik muka Alfredo benar-benar tak bisa terbaca, terkesan kaku dan datar.

__ADS_1


"Nanti akan ku jelaskan, sekarang kita temui Eyang, agar kita cepat pulang."


*


*


*


Sesampainya di dalam kamar Eyang. Miranda nampak sedih manakala melihat paruh baya itu terbaring lemah di atas tempat tidur, terpasang infus di tangan dan alat pernafasan di hidungnya. Beberapa meter darinya mantan mertua serta sanak saudara Tama menunduk sedih, melihat ketidakberdayaan Eyang.


"Eyang..." panggil Miranda dengan lirih sambil menyentuh punggung tangan Eyang.


Samar-samar Eyang mendengar suara yang sangat ia rindukan. Secepat kilat ia membuka matanya, melihat Miranda memandanginya dengan sendu.


"Miranda, kamu sudah di sini? Eyang rindu padamu, Mira. Apa kabar? Bagaimana cucuku? Apa dia baik-baik saja?" cecar Eyang beruntun.


"Eyang, aku dan Rikardo baik-baik saja, Mira juga rindu sama Eyang, apa Eyang tahu pria yang ternyata menghamililku adalah Alfredo." Miranda menerangkan sambil melirik sekilas Alfredo yang berdiri di sampingnya seperti patung.


Eyang Sari hanya mengulas senyum, kemudian memberi kode pada Alfredo untuk mendekat.


Alfredo mengerti, lalu melangkahkan kakinya mendekati ranjang.


"Nak, Eyang minta tolong, jagalah Miranda dengan baik, jangan sakiti dia, cintailah dia dengan sepenuh hati, cucu Eyang tak bisa menjaganya." Pinta Eyang memelas.


Alfredo mengangguk. "Tenanglah, Eyang, aku akan menjaganya dengan baik," jawabnya membuat hati Eyang lega seketika.


"Mira, Eyang dari kemarin tak mau makan, bisakah kamu sekarang menyuapinya, dia seperti anak kecil saja!" seru mantan mertua Miranda tiba-tiba.


Eyang mendengus sejenak. Sementara anggota keluarga yang lainnya terkekeh pelan.


***


Setelah selesai memberi makan Eyang. Wajah wanita paruh baya bertubuh ringkih itu, sudah tak terlihat pucat seperti tadi. Miranda berharap Eyang lekas membaik.


Sepuluh menit kemudian, Miranda dan Alfredo pun pamit undur diri. Di perkarangan mansion, Tama menatap nanar kepergian Miranda. Dia termenung sesaat, perkataan Alfredo tadi terngiang-ngiang terus dibenaknya.


Mengapa aku sangat bodoh, melepas sebongkah berlian demi batu kerikil! Tama melirik Anis tengah bersungut-sungut kecil memandangi mobil Alfredo menghilang dari balik pagar.

__ADS_1


__ADS_2