
Miranda keluar dari restaurant dengan bersungut-sungut kecil. Wanita bertubuh molek itu melangkah cepat menuju mobilnya.
Brak!
Ia menutup pintu mobil dengan sangat kuat, langsung menghempas bokongnya di kursi kemudi. Kemudian mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Tono, kamu di mana?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Helloooo, eyke lagi di kantor, you kenapa?" Dari sebrang sana Tono mengerutkan dahi saat mendengar helaan nafas Miranda yang amat berat.
"Oke, aku akan ke sana!"
"Ha? Tapi kan you sa–"
Miranda memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tono mengumpat kesal di ujung sana karena Miranda langsung menutup telepon. Setelah menghubungi Tono, Miranda bergegas ke perusahaan Gunadhya Groups.
"Eh bu Mira, kenapa? Serem amat?"
Salah seorang karyawan bergedik ngeri melihat Miranda melangkah cepat, sembari menampilkan ekspresi dingin. Wanita itu tak menyapa sama sekali karyawan yang lalu lalang di lantai satu.
"Nggak tahu, pasti gara-gara si pelakor!" celetuk wanita berambut model bob. Ia melebarkan mata kala suaranya terdengar cukup nyaring.
Langkah kaki Miranda terhenti seketika. Lalu menoleh pada karyawan yang berjarak dua meter darinya.
"Kamu di gaji untuk berkerja, bukan untuk ngerumpi!!!" bentaknya menggelegar hingga sang karyawan terperanjat kaget.
Sang karyawan langsung tertunduk. Dia tak berani menatap Miranda. Saat ini Miranda melototinya sekarang, rasa takut tiba-tiba melandanya.
Miranda mendengus, lalu berkata,"Kalau masih ada yang membicarakan aku lagi! Kalian angkat kaki dari perusahaan ini!"
Setelah mengucapkan sebuah kalimat yang mampu membuat para karyawan berhenti bernafas. Miranda melenggang pergi menuju ke lantai tiga.
"Mir! Kenapa nggak istirahat?" Tono bangkit berdiri kala melihat Miranda masuk ke dalam kantor sambil membanting pintu berganda tersebut.
Enggan menyahut, Miranda malah duduk di sofa dan melempar tas di atas meja kemudian memijit keningnya yang berdenyut nyeri.
"Mir, are you okay?"
Tono mendekat, lalu duduk di samping Miranda yang mukanya nampak semrawut. Miranda menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Tono.
"I'am not okay, Ton, karena aku hamil."
Tono terkejut sekaligus sedih. Pria gemulai itu nampaknya belum mengetahui permasalahan Miranda dan mengira sahabatnya hamil anak Tama.
"Mir, selamat ya, eyke nggak tahu mesti nangis atau bahagia, sebentar lagi Rikardo punya adik, jadi you yakin mau ceraiin Tama?" tanyanya, penasaran.
__ADS_1
Mata Miranda mendelik. "Tentu saja aku yakin, lagipula ini bukan anak Tama!"
"Mir, bercanda you nggak lucu deh, nggak mungkin you hamil anak hantu!" sembur Tono langsung.
"Aku nggak bohong, Ton. Aku udah lama nggak berhubungan intim sama Tama." Miranda berucap dengan penuh penekanan.
Tono terdiam sejenak, menatap lekat Miranda. Apa sahabatnya itu telah berbohong, tapi tak ada kebohongan yang terpancar dari bola mata Miranda.
Mulut Tono terbuka sedikit. "Terus itu anak siapa bok? You nakal banget sih! Cepat ceritain ke eyke, siapa yang udah buat you hamil? Siapa!?" tanyanya beruntun bak rel kereta api.
"Justru itu aku nggak tahu, siapa papanya..." ucapnya lirih.
"What?!" Lagi dan lagi Tono terkesiap, mendengar penuturan Miranda barusan. "But, how, Mir, kan nggak mungkin you having s3x with hantu?" Lanjutnya lagi, masih tak percaya dengan penjelasan Miranda.
Miranda mengedikkan bahunya sedikit, menandakan ia pun tak tahu, bagaimana dia bisa hamil. "Tadi aku berantem sama Tama di restaurant. Dia udah tahu kalau aku hamil, dan dia nuduh aku selingkuh, parahnya lagi dia suruh aku gugurin anak ini."
Helaan nafas berat terdengar dari Tono, mendengar dengan seksama curahan hati sahabatnya itu.
"Walaupun aku nggak tahu siapa anak ini, aku akan tetap pertahanin dia, Ton. Aku mau bercerai secepatnya dari Tama, dia keterlaluan Ton, tadi di depan umum dia nampar aku."
Tono menutup langsung mulutnya. Menahan amarah karena sahabatnya diperlakukan kasar oleh seorang pria.
"Tapi aku bingung, bagaimana dengan perusahaan ini," ucapnya lesu sambil memandang Tono yang kini ekspresi wajahnya berubah.
"Mir, eyke mau kasi kabar bahagia buat you, barusan sebelum you datang kemari, ada orang telepon eyke kalau dia mau menikah sama you."
Beberapa menit yang lalu, Tono mendapatkan panggilan dari nomor asing yang mengatakan mau menikahi Miranda. Bagai terkena durian runtuh, Tono sangat senang, saat ada seseorang yang mau menikahi Miranda. Lalu dia pun menanyakan dari perusahaan mana, dan apa alasan ingin menikahi Miranda.
Dengan gamblang sang penelepon menjawab, tak ada alasan. Dan yang lebih mencengangkan, dia meminta agar pernikahan dilaksanakan secepat mungkin. Tentu saja, Tono kelabakan, tak mungkin memutuskan secara sepihak. Namun, karena di beri tekanan, Tono mengiyakan. Dan sekarang, sepertinya semesta tengah berpihak pada Miranda.
"Benarkah?" Miranda seakan tak percaya, kegundahan yang sempat menyelinap dihatinya perlahan sirna.
Tono mengangguk. "Eyke akan urus surat perceraian you hari ini, sekarang you telepon Eyang dan keluarga you, oke?"
Miranda mengulas senyum kemudian menyambar ponsel di dalam tasnya. Ingin mengatakan pada keluarga besarnya perihal perceraian antara dirinya dan Tama.
*
*
*
Seminggu telah berlalu. Proses perceraian Tama dan Miranda berjalan dengan lancar tanpa hambatan sedikitpun. Media masa tak henti-hentinya menyoroti pemberitaan tentang Tama Nahendra yang sudah menyandang status duda.
Mereka menerka-nerka karena apa? Dan semakin penasaran kala video berdurasi lima menit tersebar di sosial media, di saat hari persidangan Tama berlangsung.
__ADS_1
Di dalam rekaman, wajah wanita bertubuh molek di blur, sedangkan wajah Tama dan salah seorang wanita berambut sebahu nampak jelas, ketiganya tengah berseteru, sayang sekali video tersebut, tak memiliki suara.
Jadi, para netizen tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan, tapi yang jelas, mereka menebak jikalau pemicu retaknya rumah tangga Tama Nahendra adalah faktor orang ketiga.
Sejak seminggu pula, Anis tak bisa kemana-mana sebab tayangan video masih beredar luas. Dia menyumpah serapah Miranda sejenak. Seharusnya ia bahagia karena sebentar lagi akan menikahi Tama, tapi yang ada dia malah stres dengan tekanan dari para netizen yang menyerbu laman instagram-nya dan melontarkan kata-kata kasar.
"Argh!! Miranda, si@lan!" Anis melempar ponsel ke segala arah dan membuat benda pipih itu hancur seketika.
"Anis! Kamu kenapa?!" Tama baru saja tiba. Gurat kelelahan terukir jelas diwajahnya saat ini.
"Ini semua gara-gara mantan istrimu itu?! Aku tidak mau tahu, cepat minta orang hapus semua videoku di sosial media!!!" teriaknya nyaring.
"Cukup, Anis! Kamu pikir hanya kamu saja yang memiliki masalah, aku juga, perusahaanku di ambang kehancuran, beberapa investor menarik semua sahamnya, aku juga sedang mengusahakan untuk memblok semua video itu, bersabarlah sedikit, Anis!" Terang Tama dengan berkacak pinggang.
"Aku nggak bisa sabar, Tama. Aku nggak bisa jalan-jalan keluar, semua orang menghinaku! Aku nggak peduli, itu urusanmu! Maka dari itu cari lah cara agar perusahaanmu tidak bangkrut!" seru Anis.
Tama menarik nafas panjang, tatkala sang pacar malah memojokkannya dan tak mau meringankan bebannya sedikitpun.
Tiba-tiba terdengar panggilan masuk dari ponsel Tama. Secepat kilat ia mengambil ponsel, sepasang mata berwarna hitam legam itu berkedip cepat, melihat satu nama terukir di layar ponsel. Sebab beberapa menit yang lalu ia menghubungi Miranda, bermaksud ingin mengetahui keadaan Rikardo, tapi nomor yang dihubungi tak aktif.
Yaps, sudah seminggu pula Miranda dan Rikardo hilang di telan bumi. Walaupun ia tak mencintai Miranda, tapi Rikardo tetaplah buah hatinya. Tama frustrasi ketika Miranda tak memberinya akses untuk bertemu Rikardo. Apalagi sekarang Miranda sangat sulit dihubungi. Dia pun berniat menelepon mantan mertua, siapa tahu saja keduanya berada di Singapura.
"Hallo," sapa Tama terlebih dahulu.
Tak ada sahutan di ujung sana, hanya terdengar hembusan nafas berdengung di telinga Tama.
*
*
Di sisi lain, jika Tama dan Anis sedang gelisah sekarang, tapi berbeda dengan Miranda. Dia merasa bebas dengan statusnya sebagai janda untuk sejenak. Kini ia sedang duduk di restaurant, menunggu dengan sabar seseorang. Ya, hari ini, dia ada janji temu dengan calon suami. Dan akan mengucapkan terimakasih kepadanya karena berkat Castello Group membuat perusahaanya tetap stabil. Serta ingin memberitahu perihal dia hamil pada Alfredo Castello.
Miranda begitu gugup, ketika seorang pria bertubuh tinggi dan besar, di ujung sana berjalan perlahan mendekatinya. Dan di belakang sang pria, ada Cole, tangan kanan calon suaminya. Miranda sudah dua kali bertemu Cole, sedangkan Alfredo, ia teringat, pernah melihat pria itu di restaurant tempo lalu.
Saat Alfredo di hadapannya. Miranda beranjak lalu hendak menjabat tangan. Namun, yang ada Alfredo malah langsung duduk dan mengabaikan sikap ramah tamah Miranda.
Miranda terlihat salah tingkah dan melempar senyum kikuk pada Cole.
"Silahkan duduk, Nyonya, maafkan Tuan yang sedikit lancang." Cole tersenyum tipis, melihat tingkah Miranda.
Miranda mengangguk lalu duduk cepat. Sekarang dia bingung, memulai pembicaraan sebab aura Alfredo mampu membuatnya tak bisa bernafas, belum lagi tatapannya sangat tajam.
Bagaimana menjelaskan padanya kalau aku hamil ya, lihat itu matanya, apa dia akan menyayangi anakku nanti?
Miranda meremas ujung pakaiannya di bawah meja saat Alfredo menatapnya tanpa berkedip sekarang. Ia tak dapat membaca raut wajah Alfredo yang sangat kaku dan datar itu.
__ADS_1