
John hanya diam, tak menjawab ataupun menatap anak sang majikan. Langsung menunduk dan mundur beberapa langkah dari Alfredo.
"Al, ada apa denganmu? John ingin sarapan, lagipula hanya bangku ini yang kosong," ucap Theresa dengan lembut, berusaha mencairkan suasana.
Bukannya menanggapi perkataan Theresa. Alfredo malah menatap dingin John yang masih bergeming di posisi semula. Kemudian berkata,"Duduk di bangkuku! Aku akan duduk di sini."
Sebuah kalimat perintah yang tak bisa di bantah ia lontarkan dari bibir tipisnya itu, membuat Miranda lagi dan lagi tersentak.
Dia kenapa? Apa dia cemburu? Tapi itu tidak mungkin.
Miranda melemparkan senyuman kikuk pada kedua mertuanya yang sama-sama terkejut pula. Namun raut wajah kaget itu tergantikan dengan senyum lebar di bibir Theresa.
"John, maafkan Al, dia sepertinya sedang cemburu." Theresa menggoda John yang sudah duduk di bangku Alfredo sebelumnya.
John mengangguk sedikit. "Tak apa-apa, Nyonya," jawabnya cepat.
"Aku tak cemburu, hanya saja aku tak mau anakku duduk bersebelahan dengan pria lain," sanggah Alfredo sambil duduk di samping Miranda.
Theresa dan suaminya enggan menyahut, malah saling melemparkan pandangan penuh arti. Sementara, Miranda kebingungan mengapa Alfredo seakan cemburu padanya, namun alam bawah sadarnya mencoba berpikir positif, mungkin saja ini drama yang dilakoni Alfredo agar rumah tangga keduanya nampak baik-baik saja di depan mertuanya. Sebab tadi pagi sebelum keduanya turun ke bawah. Alfredo meminta padanya bersikap layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Tentu saja, Miranda mengiyakan perintah Alfredo yang tak bisa di ganggu gugat tersebut.
"Oh, begitu, baiklah, Mommy pikir kamu cemburu, Al. Kalau begitu John akan mulai berkerja hari ini, selesai sarapan Mommy dan Daddy harus ke New Zealand."
"Hmm." Alfredo tak menatap lawan bicaranya, malah asik memotong steak di dalam piring.
Miranda curi-curi pandang sesaat, melirik Alfredo di sampingnya. Menurutnya sikap Alfredo semakin aneh, apalagi suaminya itu mengatakan secara lugas bahwa janin yang di dalam kandungannya adalah anaknya.
"Miranda, sarapanlah, sayang, jangan perhatikan terus Alfredo, Mommy tahu kamu tak bisa berjauhan dengannya, Kan?"
__ADS_1
Kali ini perkataan Theresa berhasil membuat Miranda tersipu malu. Dengan cepat ia menundukkan wajah dan mulai memasukkan kembali potongan sandwich.
*
*
*
Matahari semakin meninggi, suasana di dalam mansion begitu hening. Selepas kepergian mertuanya dan Alfredo yang pergi berkerja. Miranda bersantai sejenak di tepi kolam renang sambil meneguk minuman smoothies sayuran yang dibuatkan khusus oleh koki di rumah.
Beberapa meter darinya, John berdiri tegap bagai patung manekin. Menatap lurus ke depan sambil sesekali melirik-lirik Miranda yang kini tengah memejamkan matanya, menikmati semilir angin di sekitarnya.
"John!" panggil Miranda seketika.
John menoleh, lalu berkata,"Iya, Nyonya."
"Kemarilah, aku butuh teman berbicara," ucap Miranda. Membuat John menghela nafas kasar, masih teringat dengan jelas tadi saat Alfredo mengancamnya akan mematahkan tulangnya jikalau berbicara dengan Miranda.
"John! Apa kamu tak kasihan padaku? Kemarilah! Ada apa! ?" Miranda bertanya setengah berteriak.
Tanpa banyak kata, John melangkah, mendekati Miranda lalu memberi jarak sekitar satu meter.
"Ada apa Nyonya?" John memberanikan diri membuka suara kala Miranda terdiam membisu sambil menatap riak air di dalam kolam renang.
"Aku ingin bertanya padamu, apa menurutmu aku pantas dicintai?" Suara Miranda terdengar sendu, sedari tadi wanita itu tengah memikirkan perasaannya pada Alfredo. Namun karena rasa traumanya masih menjalar karena ulah Tama, mantan suaminya yang tak tahu kabarnya bagaimana sekarang, membuat ia enggan merasakan jatuh cinta lagi.
"Anda pantas di cintai, Nyonya, buktinya Tuan Alfredo sangat posesif dengan anda." John memberikan jawaban sesuai pandangannya tentang Alfredo.
__ADS_1
Miranda terkekeh sejenak. Menertawai akting Alfredo membuat John terkecoh karena mengira keduanya saling mencintai, namun nyatanya tidak.
"Posesif? Tidak, dia hanya-"
"Miranda!!!" teriak seseorang dari arah belakang. Membuat Miranda bangkit berdiri seketika dan menoleh ke sumber suara.
"Alfredo, mengapa kamu pulang cepat? Bukannya ini belum waktunya istirahat?" Miranda memperhatikan Alfredo berjalan cepat mendekatinya.
Krek!!!
"Argh!" John memekik kala Alfredo mematahkan tangan kanannya tiba-tiba.
"Alfredo! Apa yang kamu lakukan?!" Miranda syok melihat Alfredo menyerang John.
Alih-alih menjawab Miranda. Alfredo menyentak kasar tubuh John hingga pria berambut blonde tersebut, terjatuh ke lantai sambil menahan rasa sakit yang mendera di sekujur tangannya.
"Kamu di pecat! Cole urus pria ini!" titah Alfredo, begitu melihat Cole baru saja tiba.
Cole mendesah kasar tanpa banyak kata melakukan perintah sang Tuan. Sementara Miranda mundur beberapa langkah saat Alfredo mulai mendekatinya.
"Ikut aku!" desis Alfredo dengan menarik tangan kanan Miranda.
Sementara, Miranda dilanda kepanikan, saat Alfredo mengiringinya ke lantai dua. Dia berusaha memberontak dengan sekuat tenaga namun percuma saja. Selepas kepergian Alfredo dan Miranda. Cole langsung menepuk pundak John.
"John, maafkan bosku, dia memang sedikit gila karena di mabuk cinta."
John membalas dengan tersenyum hambar.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tabur sesajen biar author semangat menulis