Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Penyesalan Tama


__ADS_3

Di sisi lain. Tama menyeret paksa Anis menuju mobilnya. Ia nampak kewalahan, sebab Anis tak terkendali sedari tadi.


"Anis!!!" teriak Tama menggelegar, di basement parkiran mobil.


Anis tersentak. Melihat Tama melayangkan tatapan tajam padanya sekarang.


"Bisa kah kamu tak usah kekanak-kanakan!" bentaknya sambil mengibaskan tangan Anis.


"Aku?" Anis menunjuk diri sendiri sesaat. "Kamu bilang kekanak-kanakan?! Jangan ngawur kamu! Jelas-jelas mantan istrimu itu yang seperti anak kecil, berani-beraninya mengirim foto rekayasa untuk menghancurkan hubungan kita!!" protesnya, cepat.


Muka Tama merah padam. Masih teringat jelas kemarin dia dikirimi foto-foto oleh nomor misterius. Foto Anis bersama seorang pria tengah berbagi peluh di dalam hotel.


Anis mengelak bahwa foto yang didapatkan Tama adalah hasil rekayasa dan menuduh Miranda yang mengirimkan foto tersebut pada Tama. Tapi Tama tak peduli semua pembelaan Anis.


Mendidih darah Tama. Ternyata selama ini dibodohi Anis. Belum lagi sikap Anis berbanding terbalik dengan sikap Miranda sekarang.


Semenjak berpisah dengan Miranda, perusahaannya perlahan mulai bangkrut. Dia pun meminta pertolongan Eyang dan kedua orangtuanya. Namun yang ia dapatkan hanyalah cacian dari Eyang dan mamanya. Hal itu membuat Tama semakin stres.


Jika pulang ke rumah bukannya mendapat ketenangan, dia malah di cecar habis oleh Anis dan hampir setiap hari meminta uang padanya.


Tama pun menyesali perbuatannya saat ini karena telah berselingkuh dari Miranda. Dan mengakui kalau apa yang ia dapatkan sekarang, hasil perbuatannya dahulu.

__ADS_1


Secepat kilat ia berjalan menuju mobilnya. Mengabaikan teriakan Anis yang nyaring itu.


"Tama!!!" raung Anis sambil mengejar Tama.


Brak!


Anis membanting kuat pintu mobil, lalu duduk di samping Tama sembari memasang seatbelt.


"Keluar!!!" teriak Tama dengan nafas yang memburu.


"Nggak, Tama, aku mau pulang bersamamu, hiks, hiks!" Berderai air matanya seketika. "Tama, ingat ada anakmu di sini." Anis mengelus perutnya perlahan.


Malas berdebat, Tama masih memiliki sisi manusiawi. Ia langsung menyalakan mobil dan pulang ke mansion bersama Anis. Dalam perjalanan tak ada yang membuka suara, hanya terdengar suara tangisan dari bibir Anis.


"Tama! Tunggu aku!!"


Dengan langkah tergesa-gesa, Anis berjalan menapaki lantai murmer iti, hendak mengejar Tama.


"Wow, wow, coba lihat ini, ternyata pelakor masih punya muka!"


Entah datang darimana, Eyang Sari mencekal tangan Anis tiba-tiba.

__ADS_1


"Awh! Lepaskan aku!" Anis mengaduh kesakitan kala Eyang mencengkram kuat tangannya.


"Tidak akan, sebelum kamu angkat kaki dari rumah ini!" Eyang menatap sengit Anis tanpa melepaskan tangannya.


"Eyang, lepaskan dia, jangan habiskan tenaga meladeninya! Aku akan mengusirnya jika dia sudah melahirkan, walau bagaimanapun ada anakku di dalam tubuhnya!" seru Tama, membuat Anis ketakutan sebab kehamilannya hanyalah kebohongan belaka. Tempo lalu ia meminta dokter memalsukan informasi kehamilan asalkan Anis mau tidur bersamanya.


Eyang Sari berdecih kemudian mengibas kuat tangan Anis.


"Tapi Eyang tidak terima, dia di sini hanya makan tidur, maka dari itu, biarkan dia berkerja sebagai pembantu di sini, lagipula semua maid sudah tak ada," ucap Eyang sambil mengangkat wajahnya dengan angkuh.


"Terserah, Eyang, aku mau ke atas." Tama segera berlalu pergi.


Maafkan, Eyang, Tama, ini demi dirimu, agar kamu sadar apa yang kamu lakukan selam ini. Tenanglah ini tidak akan lama, sampai kamu benar-benar berubah.


Sebenarnya perusahaan Tama, tak serta-merta bangkrut. Tempo lalu karena kebaikan hati Miranda, Eyang mendapatkan suntikan dana dari Miranda, namun dengan satu syarat Tama tak boleh mengetahui jikalau perusahannya masih berjaya. Dengan di bantu orang kepercayaan Eyang, dia meminta para investor yang ia kenal berkerjasama dengannya. Alhasil para investor itu berakting sangat baik, hingga membuat Tama frustrasi.


"Mir, maafkan aku yang bodoh ini, mengapa aku tak bisa melihat ketulusan hatimu."


Tama mengelus foto dirinya bersama Miranda tengah bergandengan tangan.


"Seandainya saja waktu dapat diputar, aku tidak akan berselingkuh..."

__ADS_1


Kini, Tama baru menyadari perasaannya terhadap Miranda. Ternyata dia mencintai dan menyayangi mantan istrinya itu namun semua sudah terlambat, yang ada hanyalah penyesalan Tama saat ini.


__ADS_2