
Tak butuh waktu lama. Akhirnya Miranda, Alfredo dan Rikardo telah sampai di Jerman. Alfredo memerintahkan Cole untuk langsung ke mansion, saat melihat Rikardo begitu lemas, sebab di dalam pesawat, bocah kecil itu mabuk.
Kali ini, Miranda tak mau terjebak dengan perhatian yang diberikan Alfredo karena nyatanya itu hanya pencitraan saja.
"Apa dia selalu seperti ini?" Alfredo mengusap pelan kening Rikardo yang berkeringat. Bocah itu tengah berada di pangkuannya.
"Tidak, ini baru pertama kalinya, dia melakukan perjalanan jauh," ucap Miranda sambil memijit tungkai kaki Rikardo. Alfredo tak menyahut, hanya menghela nafas kasar.
"Apa rumahmu masih jauh?" Miranda merasa perjalanan ke rumah Alfredo, lumayan jauh, ketika melihat di luar mobil, terpampang lapangan golf yang cukup luas.
"Tidak, sebentar lagi."
Miranda mengangguk, lalu menyelimuti kaki anaknya yang dingin itu. Ia terlihat panik karena suhu tubuh anaknya tak normal.
"Apa lebih baik kita ke rumah sakit?" tanya Alfredo tiba-tiba.
"Tidak usah, aku tak mau merepotkanmu, aku akan memberinya obat nanti."
"Ck, keras kepala! Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?" bentak Alfredo berhasil membuat Rikardo menggeliat sejenak.
__ADS_1
"Papa!" serunya dengan mata terpejam. Anak itu sepertinya mengigau.
Lantas Alfredo langsung menatap lekat Rikardo, kemudian tanpa banyak kata. Pria itu memeluk bocah tersebut. Sedangkan Miranda menarik nafas panjang, manakala melihat perhatian Alfredo terhadap Rikardo yang menurutnya agak berlebihan.
Alfredo menggelus punggung belakang Rikardo sambil berbisik di telinga bocah itu. Tentu saja, Miranda penasaran apa yang diucapkan Alfredo, tapi dia tak dapat mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan suami barunya itu.
"Al, eh maksudku, Tuan Alfredo, sudahlah berikan saja padaku, nanti dia akan sembuh sendiri." Miranda hendak mengambil Rikardo dari pangkuan Alfredo, akan tetapi suaminya malah memeluk erat Rikardo.
"Jangan membantah perkataanku, sekarang kita ke rumah sakit!" ucapnya, ketus.
Miranda mendengus sejenak, mau tak mau mengiyakan perintah Alfredo.
Sesampainya di rumah sakit. Rikardo langsung diberikan penanganan pertama, hal itu membuat Miranda bertanya-tanya, mengapa para petugas kesehatan membawa anaknya ke ruang VIP. Dalam sepersekian detik ia baru menyadari jika rumah sakit ini milik Alfredo, jadi tak heran kalau pria itu berkuasa di rumah sakit.
Lima menit kemudian. Dokter khusus anak memberi informasi jika Rikardo mengalami dehidrasi. Dan untuk sementara waktu harus rawat inap di rumah sakit.
Mendengar hal itu, Miranda diterpa gelisah. Dia terduduk lemas di luar ruangan sambil menunggu para medis selesai memeriksa keadaan Rikardo.
"Apa kataku, anakmu harus di bawa ke rumah sakit, apa sikapmu memang seperti ini? Melalaikan peran sebagai seorang ibu, maka tak heran mantan suamimu berselingkuh."
__ADS_1
Mendidih darah Miranda seketika. "Jangan mencampuri urusanku!" Dia tak terima dengan tuduhan Alfredo. Pria itu terlalu ikut campur urusannya. Dia tak tahu saja apa yang terjadi di dalam rumah tangganya.
"Mengapa kamu marah? Apa kamu tersinggung?" tanya Alfredo dengan mimik muka datar.
"Aku tak merasa seperti yang kamu ucapkan. Tuan Alfredo, kamu tak tahu tentang diriku, ingat, pernikahan kita hanya sebatas, pernikahan bisnis, tak lebih, lagipula dia bukan anakmu! Tak usah memberikan perhatian yang bisa membuat orang salah paham!" cerocos Miranda, kemudian dengan cepat masuk ke dalam kala melihat dokter dan perawat baru saja kelur dari ruangan.
Sedangkan Alfredo terpaku di tempat, namun lima menit kemudian dia masuk juga ke dalam ruangan, ingin melihat keadaan Rikardo.
"Apa dia belum bangun?" tanya Alfredo sambil menatap Rikardo.
"Belum, maaf, aku berkata kasar padamu tadi," ucap Miranda dengan melirik Alfredo sekilas.
Sebelum bibir Alfredo membalas perkataan Miranda. Terdengar suara pintu terbuka sehingga mengalihkan perhatian keduanya. Nampak seorang wanita tua berambut putih dan wanita muda berambut coklat, menyembul dari balik pintu sambil berlarian kecil menghampiri Alfredo.
"Alfredo, mama pikir kamu yang sakit," ucap Mama Alfredo, yang bernama Theresa Castello. Ia langsung memeluk erat putranya lalu mengurai pelukkan seketika.
Setelah itu sang wanita berambut cokat itu, langsung merengkuh Alfredo dan mengecup singkat kedua pipinya.
"Al, i miss you," ucapnya, manja.
__ADS_1
Melihat pemandangan di depan, badan Miranda serasa panas. Apalagi Alfredo hanya berdiam diri sedari tadi dan membiarkan wanita itu memeluknya seperti seorang kekasih.