Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Miranda tak percaya dengan kenyataan bahwa dia hamil. Bingung, resah dan gelisah, itulah yang dirasakan Mianda saat ini. Pantas saja ia bulan ini tanggal menstruasinya telat. Miranda memijit pelipisnya sesaat kemudian menarik nafas panjang.


"Tenanglah Miranda, mungkin test-pack ini rusak, lebih baik kamu memeriksakan diri ke dokter saja." Miranda tengah berbicara sendiri sambil menatap cermin di depan.


"Iya, benar, jangan gelisah, mungkin saja Tono sedang mengerjaimu," cerocos Miranda berharap ini hanyalah prank dari Tono, akan tetapi walau ia dilanda ketakutan kalau benar dirinya hamil. Lalu jika benar, anak siapakah yang berada diperutnya, tak mungkin anak Tama.


Miranda memutuskan untuk segera membersihkan diri kala melirik jam di dinding toilet menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit.


Selepas mandi, Miranda masih memikirkan dirinya, apa yang harus dia lakukan nantinya. Semakin di pikir, membuatnya semakin menggila.


*


*


Lantai satu.


Ruang makan.


Miranda berjalan cepat menghampiri Rikardo di meja makan, tengah menunggunya sedari tadi.


"Mama, kenapa? Kok mukanya pucat? Mama sakit?" tanya Rikardo, melihat wajah mamanya tak berseri seperti biasa.


Mendengar hal itu, lantas Tama dan Tono menatap intens Miranda yang tengah menjatuhkan bokong di kursi. Sementara Anis acuh tak acuh, memilih menyantap sarapannya.


"Yaolo yaolo, you kenapa bok? Kalau sakit, istirahat saja!"cerocos Tono sambil bangkit berdiri dan menghampiri Miranda lalu menempelkan tangan ke keningnya.


Miranda mengibas tangan Tono seketika. "Nggak apa-apa Ton, aku cuma kecapean."


"Ih, Mir, you sakit, nggak usah kerja. Nanti eyke yang antar Rikardo sama handle semua pekerjaan you hari ini." Barusan Tono merasakan suhu badan Miranda cukup tinggi, apalagi sekarang wajah sahabatnya itu terlihat pucat.


"Benar kata, Tono, Mir, kamu istirahat saja dirumah, sekaligus kamu dan Anis bisa berteman seperti dahulu," ucap Tama tanpa memikirkan perasaan istrinya sama sekali.


Tono melebarkan mata, sementara Miranda mengerlingkan mata ke atas. Sedangkan Anis mengumpat di dalam hati sebab tempo lalu Tama memintanya akur dengan Miranda. Bibirnya mengatakan iya, tapi hatinya menolak. Mengapa pula ia harus berteman baik dengan musuhnya.


"Ma, di rumah saja ya, biar om Tono yang antar Rikardo. Nanti kalau Rikardo udah besar, bisa bantu mama kerja!" Rikardo menyentuh punggung tangan kanan Miransa sembari menatap sendu.


Mengulas senyum sejenak saat mendapatkan perhatian dari anaknya sendiri. "Baiklah, karena anak mama yang meminta, mama akan istirahat di rumah. Cepatlah beranjak dewasa, nak," ucapnya sambil mencubit gemas pipi gembul Rikardo.


"Oke!" seru Rikardo lantang.


Selepas kepergian Rikardo dan Tono. Miranda langsung masuk ke dalam dengan melewati Tama dan Anis yang masih berpelukan di depan pintu utama mansion.

__ADS_1


Anis heran mengapa Miranda tak cemburu, melihat kedekatannya dan Tama. Namun dia bersorak senang karena sepertinya Miranda tak menyukai Tama lagi.


"Aku pergi dulu, baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa, kabari aku." Tama mengurai pelukan sambil mengecup sekilas kening Anis.


Anis mengangguk seraya tersenyum simpul.


Setelah mobil yang di tumpangi Tama menghilang di depan sana. Anis bergegas melangkahkan kaki ke dalam mansion.


"Wow, wow, enak sekali ya, makan-makan di rumah sementara Tama berkerja." Anis memandangi Miranda tengah menyantap lagi nasi goreng buatan asisten.


Miranda meletakkan sendok dengan kuat kemudian menoleh. "Apa aku tidak salah mendengar? Berkacalah j@lang!" serunya dengan melayangkan tatapan dingin. Sebab Anis membuat moodnya memburuk sekarang.


"Kamu berani denganku ha?!" Anis naik pitam saat mendengar Miranda mengatainya jal@ng. Secepat kilat ia melangkah, mendekati Miranda, hendak memukul wanita itu.


Plak! Plak!!


"Awh!" Bukan Miranda yang meringis tapi Anis lah yang mengaduh kesakitan kala Miranda menampar pipinya secara bergantian sampai darah mengalir di sudut bibirnya.


"Kamu pikir, aku nggak bisa melawan kamu! Seharusnya kamu berkaca Anis, jadi wanita simpanan saja bangga! Cih dasar sampah! Wanita sepertimu hanya bisa menjatuhkan harga diri wanita!" seru Miranda sambil mendorong bahu Anis seketika.


Anis tergugu, untuk pertama kalinya mendapatkan pukulan di pipi dan kedua matanya mulai nampak berkaca-kaca.


"Aku akan mengadukan mu pada Tama!" Anis melihat Miranda tengah menyendok nasi goreng lagi.


"Ada apa ini?" Suara seseorang yang sangat Miranda kenali, terdengar di ruangan. Secepat kilat ia memutar kepalanya melihat ke sumber suara.


"Ibu, Eyang..." Miranda beranjak cepat kemudian memeluk singkat kedua wanita berbeda generasi tersebut.


"Kamu kenapa? Sakit?" Eyang Sari merasakan tubuh Miranda begitu hangat.


"Hanya kecapean Eyang, biasa kerjaan di kantor."


"Ya ampun, Miranda kalau kerja jangan di porsir sayang, apa kamu stres dengan Tama yang berselingkuh."


Nyonya besar, ibu Tama Nahendra, sangat sedih mendengar berita tentang Tama yang menduakan Miranda dari Eyang kemarin. Ia baru saja tiba di Jakarta kemarin setelah beberapa waktu lalu pergi ke benua Eropa bersama suaminya.


Enggan menyahut, Miranda hanya tersenyum getir. Lantas Ibu Tama langsung mendekap lagi menantunya itu.


"Maafin ibu ya sayang, Tama benar-benar keterlaluan, padahal kamu wanita sempurna yang pernah ibu temui, kamu jangan terlalu stres memikirkan Tama ya," ucapnya dengan mengelus pelan punggung Miranda.


Miranda mengangguk sembari mengurai pelukan.

__ADS_1


"Heh, ngapain kamu nangis?!" ucap Eyang Sari tiba-tiba saat melihat Anis di ujung sana tengah menangis sambil memegangi pipinya.


Anis mendekat. "Eyang, Miranda menampar ku tadi, dia sangat kejam! Tak pantas bersanding dengan Tama!" serunya dengan menyeka air matanya cepat.


"Cih! Baru di tampar saja sudah menangis, belum di banting." Eyang menatap sinis Anis lalu melirik Ibu Tama sekilas.


Sementara Ibu Tama memandangi Anis dari atas hingga ujung kaki, melihat penampilan Anis yang berlebihan, menurutnya.


"Jadi ini, pelakornya!" sahutnya tiba-tiba membuat Anis menelan ludah berulang kali saat melihat tatapan calon mertuanya menghunus ke matanya.


"Iya, ini lah wanita yang tak tahu diri itu!" Eyang Sari memercikkan api di atas bensin. Menggeram sebal saat melihat wajah angkuh Anis saat ini.


Bibir Anis kaku. Ingin membela diri tapi tak bisa karena dia kalah jumlah. Ia terpaku di tempat dengan menundukkan kepala.


"Mir, berbaringlah di sofa, sayang, Eyang akan memasakkan bubur kesukaanmu," ucap Eyang.


Miranda sedikit terkejut saat Eyang akanmembuat bubur untuknya. "Jangan Eyang, aku bisa meminta asisten memasak untukku nanti."


"Shft, sudahlah, jangan banyak membantah!" Eyang Sari melenggang pergi ke dapur meninggalkan Miranda dan Ibu Tama.


"Nak, ayo sekarang kita duduk di ruang keluarga saja, ibu rindu sama kamu, sudah lama kita tidak berjumpa." Ibu Tama merangkul Miranda, berlalu pergi meninggalkan Anis seorang diri.


Anis mengepalkan tangan saat Ibu Tama, mengacuhkan dirinya dan tak menganggap keberadaannya barusan.


Si@lan! Awas saja kamu Miranda, aku bakalan laporin ke Tama nanti.


*


*


*


Di sisi lain. Cole menggaruk kepalanya saat mendapatkan informasi dari anak buahnya kalau Miranda tengah mencari kandidat calon suami.


"Hm, aneh sekali, apa dia mau poliandri?"


"Tapi itu tidak mungkin, Miranda wanita bangsawan pasti dia hanya bermain-main! Tapi...." Cole nampak berpikir apa ada masalah antara Tama dan Miranda, mengingat rekam jejak hubungan keduanya berawal dari perjodohan.


"Cole!"


Cole tersentak sambil menjatuhkan dokumen seketika saat mendengar suara Alfredo berasal dari belakang. Cole memutar tubuhnya lalu tersenyum hambar kepada Alfredo.

__ADS_1


Apa dia ini hantu? Selalu saja mengagetkan ku, huh...


__ADS_2