Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Tidak Mungkin, Aku Hamil?


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dengan sabar Miranda mencari pria yang pantas menjadi partner bisnisnya kelak agar bisa terlepas dari belenggu rumah tangganya yang tak sehat.


Selama itu pula ia harus sabar menghadapi sikap Anis yang semakin hari semakin menjadi, dan bertingkah semau hati. Beberapa hari lalu,Tama memberikan kertas berisi informasi mengenai kehamilan Anis. Dengan hati berbunga-bunga, suaminya sendiri menceritakan kebahagiannya akan memiliki anak lagi dari perempuan lain.


Miranda tersenyum miris, Tama tanpa rasa bersalah meminta padanya, menerima Anis menjadi madunya Bulan depan, mau tak mau ia harus menikahi Anis. Dan meminta pada Miranda tak membeberkan rencananya pada Eyang dan keluarganya.


Lantas, Miranda enggan menanggapi, memilih menyibukkan diri mencari papa sambung Rikardo. Melihat sikap istrinya, berubah drastis, membuat Tama pasrah dan berharap suatu saat nanti, Miranda akan menerima Anis menjadi madunya dan keduanya bisa menjadi teman seperti dahulu kala.


Tama tak tahu saja, impiannya akan sirna sebentar lagi. Miranda bukan lah tipikal wanita yang mau dibodohi oleh cinta, ia wanita yang kuat, sekuat kerang di terpa ombak di lautan.


"Kamu mau kemana, Mir?" Tama heran melihat Miranda dan Rikardo berpakaian rapi di malam minggu.


Sebelum bibir sensual Miranda terbuka, Rikardo berkata cepat,"Rikardo sama mama mau malam mingguan ke mall!"


"Malam mingguan? Kok nggak ngajak papa?" Tama menatap Miranda sekilas, meminta penjelasan. Namun Miranda diam seribu bahasa, enggan menyahut ataupun menimpali.


"Kan papa sibuk terus sama teman baru papa!" Rikardo menatap sinis Anis di belakang tubuh Tama tengah melipat tangan di dada. "Udah yuk ma, entar kita telat nonton filmnya!" seru Rikardo sambil melompat-lompat kecil.


Tama menghela nafas sejenak. "Rikardo, mengertilah tante Anis sedang hamil jadi papa harus menemaninya."


Dahi Rikardo berkerut kuat. "Hamil?" Tentu saja anak bertubuh tambun itu tak mengerti permasalahan yang terjadi antara mama dan papanya.


Ia semakin bingung.


"Sudah lah, Tam, lebih baik kamu urusi saja pacarmu itu, aku dan Rikardo mau bersenang-senang." Miranda mengenggam tangan Rikardo dan bergegas pergi, meninggalkan Tama yang nampak kalut.


Kemana mereka? Tidak biasanya Miranda ingin pergi keluar di malam minggu?


"Tama! Kamu temani aku saja di sini, bagaimana kalau kita menonton film di televisi!" Anis merangkul tangan Tama seketika sambil menyenderkan kepalanya di pundak kekasihnya itu.


Tama mengelus pelan kepala Anis sejenak, lalu tersenyum tipis."Baiklah, ayo kita menonton."


*


*


*


Basement Mall.


Kini Miranda dan Rikardo telah sampai di pusat perbelanjaan terdekat. Malam ini ia ada pertemuan bersama seorang pria. Miranda sedikit senang, saat mendapatkan informasi jikalau kandidat calon suaminya mengajak bertemu di mall. Tak mau melewatkan kesempatan, ia pun mengajak Rikardo.

__ADS_1


"Hai bok, you udah siap ketemu calon suami, hehe," cerocos Tono, saat melihat Miranda dan Rikardo baru saja keluar dari mobil.


"Hm, siap nggak siap, awas ya, kalau teman kencanku sikapnya beda 180 derajat, aku gantung kamu di pohon kelapa!" Dengus Miranda sambil merapikan sesaat rambut Rikardo yang berantakan.


"Ih, iya, iya, tenang aja kali ini sesuai sama deskripsi." Tono meliukkan tangan lentur.


Miranda hanya membalas dengan mengerlingkan mata.


"Rikardo, mama mau ketemu teman mama dulu ya, nanti mama nyusul," ucap Miranda kepada Rikardo, sebelum memasuki restaurant sebagai tempat janji temu.


Rikardo mendongakkan kepalanya ke atas. "Oke ma, jangan lama-lama, mama harus lihat Rikardo lempar bola basket nanti!" serunya, kegirangan.


Miranda mengulas senyum. "Iya, mama nggak lama kok." Beralih menatap Tono. "Ton, titipin anakku ya, pakai aja kartu yang aku kasi ke kamu tadi, untuk kalian makan dan main."


"Oke cyin, gampil itu, sukses bok, ya uda yuk, kita pergi!" Tono menoel pipi bulat Rikardo lalu menuntun Rikardo ke pusat permainan dan melenggang pergi dari hadapan Miranda.


*


*


Sudah lima menit berlalu, Miranda dan sang pria di hadapannya sama-sama terdiam membisu. Ia bersyukur sebab sang pria benar-benar sesuai deskripsi. Dingin, cuek, arogan, dan bermuka datar. Itulah sifat yang sangat ia sangat tak suka, Miranda sengaja mencari pria yang bertolak belakang dengan Tama karena tak mau jatuh cinta lagi. Miranda trauma, membiarkan hatinya cepat mati rasa.


"Hmm." Dehaman rendah dari pria di depan yang bernama Lionel, berhasil mengalihkan atensi Miranda.


"Belum," ucapnya.


Miranda menghela nafas sejenak. "Baiklah, aku langsung saja, anda pasti sudah tahu apa yang membuat saya ingin menikahi anda bulan depan?"


Lionel mengangguk.


"Maka dari itu, apakah anda setuju, dengan syarat yang saya berikan?"


Lagi dan lagi Lionel mengangguk, menandakan ia setuju dengan syarat yang dibuat Miranda. Wanita itu menghela nafas sesaat, karena keinginannya sebentar lagi akan terwujud.


Seketika Miranda merasa mual kala mencium bau parfum menyeruak ke hidungnya saat Lionel tiba-tiba menyemprotkan parfum di tangannya.


"Maaf!" Miranda bangkit berdiri lalu berjalan cepat menuju toilet.


Miranda memuntahkan semua isi lambungnya. Mual kala mencium bau menyengat dari parfum, ia heran mengapa akhir-akhir ini penciumannya sangat sensitif. Dadanya nampak naik dan turun kala mmenyemburkan makanan di wastafel.


"Hoek, hoek, hoek, aah ada apa denganku?" Miranda bergumam pelan sambil membasuh bibirnya dengan air.

__ADS_1


Sepasang mata berwarna hitam itu menatap ke cermin, melihat pantulan dirinya. Mengamati pipinya sekarang terlihat chubby. Dia mengakui memang dalam sebulan ini selalu makan sembarangan dan tak menjaga pola makan.


Miranda memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri sekarang. Pusing, merasa ruangan toilet berputar-putardipenglihatannya.


Secepat kilat ia mengambil ponsel di saku celana lalu menghubungi Tono, meminta pria itu menjemputnya di depan pintu toilet dan mengatakan pada Lionel untuk menyudahi pertemuan, dan memberikan alasan bahwa dirinya sedang tak enak badan.


*


*


*


Sesampainya di mansion. Miranda bergegas mengantar Rikardo ke kamar dan menidurkan putra semata wayangnya itu. Dari lantai atas dia dapat melihat Tama dan Anis tengah menonton sambil merangkul satu sama lain.


Miranda sengaja tak lewat pintu utama tadi agar tak melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya tapi mau bagaimana pun ia tak bisa menghindar.


Dalam sekian detik, Miranda masuk ke dalam kamar sambil membawa kantong berisikan test-pack yang dibelikan Tono saat dalam perjalanan ke rumah.


Tono curiga jika Miranda hamil, jadi dia berinisiatif membeli test pack untuk Miranda. Tapi Miranda mengatakan padanya bahwa ia tak mungkin hamil mengingat ia dan Tama sudah lama tak berhubungan badan, sebab ia berada di Singapura sekitar dua bulan lamanya, membantu proyek keluarganya di sana. Namun Miranda tetap mengambil test-pack pemberian Tono.


"Walaupun gejala awalku hamil Rikardo dulu kurang lebih sama, tapi aku yakin, aku tak mungkin hamil." Miranda duduk di tepi ranjang sambil mengelus perutnya yang datar.


*


*


Pagi menjelang. Miranda segera beranjak dari tempat tidur kala merasakan gejolak diperutnya dan melangkah cepat menuju toilet.


"Hoek, hoek, hoek, hoek." Nafas Miranda tersengal-sengal setelah memuntahkan cairan dari mulutnya ke wastafel.


"Astaga, ada apa denganku?!"


Miranda melirik tempat sampah, berisikan test-pack semalam yang ia buang. Perasaannya kalut sekarang. Tak mau berpikiran yang aneh-aneh, Miranda menyambar test pack dan membawanya ke dalam toilet.


Miranda mondar-mandir di depan kaca, menunggu hasil test pack tersebut muncul.


Selang beberapa menit, dengan takut-takut Miranda mengangkat test-pack dari gelas.


Deg.


Mata Miranda membulat sempurna, kala melihat dua garis merah nampak jelas di alat test kehamilan itu. Menandakan dia tengah hamil. Dia sangat syok! Secepat kilat ia mengambil lagi testpack di kantong dan memeriksa kembali. Hasilnya sama, menunjukkan garis dua.

__ADS_1


"Argh! Ini tidak mungkin?! Aku dan Tama sudah lama tak berhubungan badan!" teriak Miranda dengan mengacak-acak rambut, frustasi.


__ADS_2