
Mendengar hal itu, dari kejauhan Anis menangis kuat sembari mengelus perut datarnya.
"Lihatlah, Nak, mereka tak menerima kehadiranmu," ucapnya dengan berurai air mata.
Lantas kebohongan Anis, membuat Tama percaya. Padahal tak ada janin ataupun makhluk hidup yang bersemayam di dalam perutnya saat ini.
"Miranda! Kamu benar-benar keterlaluan! Jangan menuduh Anis! Dia benar-benar hamil!" sergah Tama.
Sudut bibir Miranda terangkat sedikit. "Buktikan! Bawa ke rumah sakit besok!!" serunya lantang membuat Anis ketar-ketir seketika.
"Oke! Kalau hasilnya dia positif hamil! Kamu harus memecat Tono!" Tama tetap kekeh pada pendiriannya.
"Kalaupun Anis hamil! Aku tidak akan memecat Tono!" Tolak Miranda membuat Tama kembali mengepalkan tangannya.
"Miranda, kamu sudah berani melawanku?! Kemana Miranda yang dulu?" Dahulu Miranda tak pernah menaikan suaranya, terkesan lemah lembut dan patuh padanya tapi sekarang, perbedaan sikap Miranda terlihat sangat kentara.
"Semenjak mengetahui suaminya berselingkuh, Miranda yang kamu kenal dulu sudah lama mati! Jangan berharap aku akan menuruti kemauanmu lagi Tama! Aku membencimu!"
Miranda melayangkan tatapan dingin membuat Tama terpaku di tempat. Secepat kilat ia mengajak Tono dan Rikardo ke dapur. Meninggalkan Tama yang menatap nanar kepergian Miranda.
Mengapa hatiku sakit, ada apa denganku? Mengapa sikap Miranda berubah drastis.
"Tama, aku tidak mau tahu cepat pecat Tono, aku stres karena ulahnya itu!" Anis menghampiri Tama yang masih melamun memikirkan perubahan sikap istrinya.
"Tama!" panggil Anis membuyarkan lamunan Tama. Dia meradang karena Tama tak langsung menjawab pertanyaannya.
Tama segera tersadar lalu menoleh ke samping melihat Anis sudah berdiri didekatnya.
"Tama, apa yang kamu pikirkan? Kamu mendengar aku tidak?" cecar Anis beruntun sambil menatap tajam Tama.
"Kamu mengatakan apa tadi Nis? Maaf, aku memikirkan bagaimana caranya mengusir Tono dari mansion," kilah Tama cepat. Tak mau Anis memikirkan yang tidak-tidak. Jika Anis sampai mengetahui dia tengah memikirkan Miranda. Mungkin Anis akan kembali berang padanya.
Anis memicingkan mata sambil memperhatikan gelagat suaminya.
*
*
Sore hari. Di ruang atas Miranda tengah bercengkrama bersama Rikardo dengan bermain puzzle. Miranda sesekali melihat Tono duduk di atas sofa yang tengah mengotak-atik ponselnya.
Pria gemulai itu terlihat sibuk, menghandle semua perkerjaan Miranda yang ditinggalkan selama beberapa hari terakhir ini. Tono juga sedang mencari cara agar atasan sekaligus sahabatnya dapat bercerai tanpa harus membuat perusahannya bangkrut.
Ekspresi Tono berubah-ubah, kadang terkejut, kadang sedih, kadang pula senyam-senyum sendiri.
__ADS_1
Miranda menggeleng pelan kala melihat Tono meliukkan tangannya seperti ulat bulu. Heran, mengapa Tono tak berubah sedari dulu, padahal pria berhidung mancung itu normal dan sudah memiliki tunangan, yang sekarang menjalin hubungan jarak jauh.
"Tono!" panggil Miranda, saat Tono tertawa keras sekarang. Tentu saja ia penasaran.
Tono menoleh masih dengan memegang perutnya karena kecapean tertawa barusan. Entah apa yang ia tertawakan tapi sampai-sampai membuatnya sakit perut.
"Kenapa bok?" Meliukkan tangan kanannya lalu menyelipkan rambut pendeknya ke telinga.
"Apa sudah ketemu?"
Setelah menimbang-nimbang, saran yang diberikan Tono kemarin. Mau tak mau Miranda menuruti rencana Tono tapi dengan tiga syarat. Ia meminta Tono membuat perjanjian nikah yang menyatakan bahwa ia dan sang pria tak boleh saling mencintai. Lalu tak boleh mencampuri urusan masing-masing. Dan yang terakhir tak boleh berhubungan badan.
Semula Tono keberatan dengan syarat yang dipinta Miranda karena menurutnya permintaan Miranda sangat tak wajar. Sebab Tono menganggap pernikahan adalah sakral. Namun saat mendengar alasan Miranda, ia terpaksa mengiyakan permintaan Miranda. Menurut Tono, Miranda trauma terhadap pria. Ia berharap suatu saat nanti sahabatnya itu akan bahagia dan terlepas dari bayang-bayang masa lalu.
"Hehe, masih mencari, you tenang saja, ada satu kandidat yang masuk kriteria," ucap Tono lalu memainkan ponselnya lagi.
"Tono!" Miranda belum selesai bicara tapi Tono malah kembali sibuk sendiri.
"Iya, cyin," Tono membalas tanpa menatap lawan bicara.
"Dalam minggu ini, kamu harus mencarikan ku pria yang bisa membantu perusahaanku, aku tidak mau menunda-nunda waktu!" Miranda tak mau terlalu lama satu atap dengan Anis. Sebab berhadapan dengan mantan sekretarisnya ia membuat energinya habis.
"Hm, tenang saja serahkan semua pada eyke. You tinggal duduk manis saja, biar eyke yang berkerja." Masih menekan-nekan layar ponsel sejenak lalu terkekeh lagi.
Dahi Miranda berkerut kuat. "Tono, kamu ketawain apa sih?"
"Maksudmu?"
"You nggak tahu ya, karyawan di Nahendra groups sebagian sudah pada tahu kalau suami you ada affair sama Anis, haha syukurin, mampus!" seru Tono dengan menghadapkan layar ponsel pada Miranda. Letak kantor Gunadhya Group bersebrangan dengan kantor Nahendra Grop.
Kali ini tawa Tono menggema di ruangan sampai-sampai Rikardo yang sedang mengotak-atik puzzle sedari tadi, terusik.
Miranda menggeleng sejenak. "Sudahlah, aku malas membicarakan Anis."
"Ups, maaf, hehe." Tono menggaruk tengkuk sebentar kala melihat Miranda tak tertawa sama sekali padahal ia berharap Miranda tertawa dengan penderitaan Anis.
Enggan menyahut, Miranda malah kembali ikut bermain bersama Rikardo.
Kasihan banget, Miranda. Dia lebih mentingin oranglain daripada dirinya sendiri. Eyke harus bisa cariin dia pria yang kaya raya dari si brengsek, Tama!
Tono berucap di dalam hati sambil memandangi Miranda dan Rikardo secara bergantian.
"Akhirnya!" Tono beranjak dari kursi saat membaca pesan masuk dari seseorang.
__ADS_1
Miranda dan Rikardo terlonjak kaget sembari mengelus dadanya. Keduanya menghembuskan nafas sejenak lalu mengerlingkan mata ke atas, melihat Tono berjalan dengan gemulai menghampiri mereka.
"Ada apa sih, Tono?"
"Eyke, sudah dapatin pria yang akan menjadi papa sambung Rikardo, dia ganteng, kaya raya, arogan, dingin dan cuek! Pulang kerja besok you sama dia ketemuan!" celetuk Tono seketika sambil duduk bersimpuh di lantai.
Miranda melebarkan mata pada Tono, kala melihat Rikardo mengerutkan dahinya. Sedangkan Tono malah tersenyum kecut lalu menscroll layar ponsel lagi.
"Papa sambung itu apa, ma?" tanya Rikardo cepat.
Sebelum membalas pertanyaan anaknya, ia mengelus perlahan kepala Rikardo. Bingung harus menjelaskan apa arti papa sambung. Dia belum siap dengan pertanyaan kritis Rikardo. Seandainya saja Tono tidak keceplosan mungkin anaknya tidak akan penasaran.
"Ma!" Rikardo mengedipkan mata pelan, dengan sabar menunggu mamanya menjawab pertanyaannya.
"Tono! Gajimu aku potong 10 persen!"
"Whats?!"
Tono tersentak kala Miranda menatapnya nyalang.
*
*
*
Menjelang malam. Miranda mendengus melihat kedatangan Anis yang begitu bau dan kotor. Tercium aroma telur busuk dari tubuh Anis.
"Kamu kenapa?" Miranda menutup majalah lalu meletakkan majalah di atas meja.
"Diam kamu! Ini semua karena ulah fans si@lanmu itu!" murka Anis dengan tangan terkepal kuat hingga kuku-kukunya memerah.
Satu alis Miranda terangkat lalu beranjak dari kursi, mendekati Anis.
"Anis, Anis, sudahlah jangan banyak membuat drama, lagipula tidak akan ada asap, kalau tidak ada api, sesuatu yang kau dapatkan hari ini berasal dari dirimu juga, berkacalah Anis. Mereka bukan fansku, lebih tepatnya teman-temanku," jelas Miranda, sebab fans yang dimaksud Anis adalah karyawan Nahendra groups.
Anis meradang sambil mengangkat tangan ke udara. "Dasar wanita bermuka dua!" pekiknya.
Miranda menangkis serangan lalu mencengkram pergelangan tangan Anis kemudian menyentak kasar tangannya Hingga Anis terhuyung ke belakang sejenak.
"Miranda! Apa-apaan kamu?!" Tama baru saja masuk ke mansion, terkejut melihat Anis dan Miranda tengah berseteru. Dengan sigap ia menahan tubuh Anis agar tak terjatuh.
Alih-alih menjawab pertanyaan Tama. Miranda memilih pergi dari hadapan keduanya.
__ADS_1
"Miranda!!!" Tama memekik, heran mengapa Miranda acuh tak acuh padanya.
Miranda, mengapa kamu susah sekali di atur sekarang?