
Suasana di dalam ruangan begitu mencekam, hanya terdengar bunyi dentingan garpu, rupanya Rikardo masih duduk di kursi. Kini bocah kecil itu menyantap spagheti setelah menghabiskan roti tawarnya barusan. Sedari tadi ia tak menghiraukan perdebatan beberapa orang dewasa dihadapannya, memilih sibuk dengan dunianya.
Sementara itu, Miranda tertegun mendengar perkataan Anne. Apa benar wajahnya mirip dengan mantan Alfredo. Semakin kalutlah perasaan Miranda saat ini, apalagi dia belum mengungkapkan perasaannya pada Alfredo.
Sedangkan Tono, mengamati dengan seksama wanita paruh baya didepannya tengah menatap tajam dan dingin ke arah Anne. Menebak jikalau wanita tua itu adalah mertua Miranda.
"Anne! Apa yang kamu katakan tadi?!" murka Theresa. Dia tak menyangka mendengar bualan Anne dan semakin membuatnya marah kala Anne berkata jikalau ia dan Alfredo saling menyukai. Memang betul, Theresa selama ini sempat curiga dengan gelagat Anne yang sepertinya tertarik pada putranya, tapi dia tak mau ambil pusing selama Alfredo tak menanggapi Anne.
Anne nampak salah tingkah. Kedua bola matanya bergerak tak tentu arah. Dia meneguk ludah berulang kali saat di tatap dengan begitu tajam. Sebelumnya ia tak pernah melihat Theresa marah padanya.
"Aku mencintai Alfredo, Aunty! Aku tak rela, Al menikah dengan wanita j@lang ini!" Entah keberanian dari mana Anne tak malu mengutarakan isi hatinya dan berani menyumpah Miranda di depan Theresa.
Hening sejenak!
Plak!!!
Anne terkejut ketika pipi mulusnya di tampar Aunty-nya barusan. Secepat kilat ia menatap heran pada Theresa.
"Aunty, apa salahku?" tanyanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Theresa menarik nafas dalam. "Salahmu? Apa kamu gila, Anne! Walaupun kalian sepupu jauh, kamu tak boleh mencintai putraku! Asal kamu tahu! Mamamu itu hanyalah istri kedua dari kakakku, seharusnya kamu tahu diri! Dan asal kamu tahu, jangan pernah mengatakan Miranda j@lang! Karena kamulah j@lang sesungguhnya! Kamu pikir, Aunty tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana."
Anne bungkam seketika. Apa Aunty-nya tahu dengan pergaulan bebasnya di luar sana. Rasa takut tiba-tiba menderanya.
Theresa masih bergeming, melayangkan tatapan dingin ke arah Anne. "Mulai detik ini, jangan pernah menginjakkan kakimu, di rumahku! Kalau kamu sampai melukai Miranda dan cucuku, aku tak akan segan-segan membeberkan rahasiamu pada ayahmu!"
Lidah Anne sangat sulit digerakkan. Dia tak mampu berkata-kata lagi, kala Theresa mengetahui kehidupannya yang bergonta-ganti pasangan di luar sana. Dengan kesal ia melenggang pergi dari mansion.
Argh!!! Si@l!!! Umpat Anne sambil melotot ke arah Miranda sebelum berjalan menuju pintu utama.
Selepas kepergian, Anne, emosi Theresa sudah mulai mereda. Dia pun mendekati Miranda hendak menenangkan sang menantu.
"Miranda, are you okay?"
"Aku baik-baik saja, Mom," jawab Miranda kemudian tertunduk lesu.
Theresa tersenyum tipis. Sepertinya Miranda terpengaruh dengan ucapan Anne.
"Dear, apa yang dikatakan Anne tadi, hanyalah kebohongan, dia sengaja memanasi-manasi mu, Alfredo tak pernah dekat dengan seorang wanita," jelasnya memberi pengertian.
Miranda mengangkat wajahnya, seakan tak percaya. "Benarkah?"
Theresa mengangguk. "Iya, percayalah sama Mommy, dari dulu Alfredo tak mempunyai pacar ataupun teman dekat wanita, Mommy saja bingung dan berpikir jika dia penyuka sesama jenis, tapi nyatanya, tidak, sifat dan sikapnya memang seperti itu," ucapnya lalu terkekeh sesaat.
__ADS_1
"Di antara anak-anak Mommy, hanya Alfredo saja yang memiliki perangai berbeda dari saudaranya, setelah Mommy pikir-pikir, sifat Alfredo mirip sekali dengan pamannya, lucu bukan?"
Mendengar perkataan Theresa, Miranda merasa lega. Pancaran matanya yang semula sendu kini berbinar-binar.
"Mir, Mommy menerimamu sebagai menantu, karena Mommy yakin kamu bisa menjadi penyejuk hati Alfredo, apalagi sekarang ada kehidupan di dalam perutmu," ucap Theresa lagi. Tentu saja dia mendapatkan semua informasi tersebut dari Cole, dari mengapa Miranda bisa menjadi janda dan berakhir menikah dengan Alfredo.
"Mom, tahu kalian sedang bersandiwara kan di depan Mommy dan Daddy?" Lanjutnya kembali berhasil membuat degup jantung Miranda berdetak kencang.
Melihat ekspresi Miranda, Theresa berkata,"Mir, Mommy tahu semuanya, Mommy meminta padamu, buatlah Alfredo mencintaimu, dia memang sulit mengungkapkan perasaannya, maka dari itu bergeraklah terlebih dahulu, kadangkala kita sebagai wanita harus selangkah lebih maju dari pria seperti Alfredo yang tidak peka itu!"
Miranda seakan mendapatkan angin segar, ketika mertuanya mengetahui kegundahan hatinya.
"Mungkin kesannya aneh, mengungkapkan perasaan kita terlebih dahulu, tapi ini zaman modern, tak ada yang tak mungkin. Apalagi sekarang ada cucuku di sini." Theresa mengelus perut Miranda dengan lembut.
Wajah Miranda kaku seketika, apa mertuanya tak tahu kalau janin yang bersemayam di perutnya bukanlah cucu kandungnya.
Theresa mengulas senyum penuh arti. Melihat perubahan raut muka Miranda. Tentu saja ia mengetahui insiden Alfredo dan Miranda di hotel, tapi ia tak mau terlalu ikut campur, biarlah itu menjadi urusan keduanya.
"Sudah, sekarang kamu istirahat, Mommy harus ke atas dulu, ada yang harus Mommy ambil, kemarin Mommy lupa bawa tas kesayangan, Mommy," ucap Theresa lalu menghampiri Rikardo yang bergeming di meja makan.
*
*
*
Dengan sabar Miranda menunggu, sampai-sampai dia menguap berkali-kali di tempat tidur dengan memandangi layar ponsel. Berharap Alfredo membuka pesan darinya. Namun hingga tengah malam Miranda tanpa sadar tertidur.
"Miranda!" panggil seseorang dari ambang pintu.
Miranda membuka cepat matanya kala mendengar suara yang ia rindukan berada di kamar.
"Alfredo! Apa aku bermimpi?" Miranda beranjak sambil mengamati Alfredo berdiri dihadapannya.
Alfredo enggan menyahut, malah membuka cepat jas-nya kemudian berjalan mendekati nakas dan meletakkan jam tangan.
Miranda mencubit cepat pipinya dan mengaduh kesakitan sejenak. Dalam sekian detik dia menyadari jikalau dirinya tak bermimpi. Secepat hembusan angin, dia mendekati Alfredo dan langsung memeluknya.
"Al, aku merindukanmu!" seru Miranda sambil menelesupkan wajahnya ke dada Alfredo.
"Rindu padaku?" Satu alis Alfredo terangkat sedikit.
Miranda nampak gelagapan, langsung mengurai pelukan namun dia tersentak kala Alfredo menarik pinggangnya.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu melepas pelukan?"
Bagai anak kecil Miranda mendongak ke atas sambil menggeleng cepat.
"Tadi kamu bilang rindu padaku?" tanya Alfredo menatap penuh arti.
Aduh, bagaimana ini, ternyata teori dan praktek langsung sangatlah susah!
"Miranda, kenapa diam?" Alfredo menyentuh dagu Miranda. Saat ini keduanya saling bersitatap satu sama lain.
"Em, itu, maksudku, anakku merindukanmu, ah iya, benar, bayiku ini," ucap Miranda salah tingkah.
Alfredo menyeringai kemudian semakin mendekatkan wajahnya. "Benarkah?"
Miranda mengangguk pelan, untuk sesaat aroma tubuh Alfredo menenangkan jiwanya.
"Al, aku mau buang air kecil sebentar," kilahnya padahal dia tengah menahan diri untuk tidak memeluk Alfredo lagi.
Alfredo mengendorkan pelukan dan mempersilahkan Miranda ke toilet. Miranda pun langsung berjalan cepat menuju kamar kecil kemudian menutup rapat-rapat pintu, agar Alfredo tak memergoki dirinya yang sekarang tengah melompat-lompat kecil karena keinginannya bertemu Alfredo kesampaian juga.
Lima menit kemudian, Miranda keluar, melihat Alfredo tengah menonton televisi dengan menselonjorkan kaki di tempat tidur. Meski dalam keadaan cahaya remang-remang, Miranda terkagum sejenak, ketika melihat wajah Alfredo yang saat ini terlihat serius.
"Mau kemana?" tanya Alfredo ketika Miranda hendak keluar.
Miranda menoleh. "Aku mau mengambil air putih sebentar," ucapnya.
Alfredo mendengus. "Suruh asisten saja!" Ia menekan tombol berwarna kuning di dinding bermaksud meminta air putih melalui mesin alarm yang terhubung ke lantai bawah."Kemarilah!" perintahnya lalu menepuk-nepuk sisi tempat tidur.
Jantung Miranda kembali berdebar-debar. Seperti tersihir dengan perintah Alfredo, ia langsung melangkah cepat mendekati ranjang dan duduk di samping Alfredo.
"Bagaimana dengan anakku?" Alfredo menuntun Miranda agar berbaring di atas lengannya.
"Anak?"
"Iya."
"Tapi ini kan–"
"Shfftt!" Alfredo meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir Miranda sambil menatap dalam Miranda.
"Al, mau apa?" Gugup, Miranda mengalihkan pandangan matanya ke samping.
"Hanya mau memastikan apa anakku baik-baik saja setelah ku jenguk semalam."
__ADS_1
Dahi Miranda berkerut kuat, tengah kebingungan.