Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Malam Pertama


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Pesta pernikahan Alfredo dan Miranda pun telah usai. Selesai acara, Miranda langsung berpamitan pada Alfredo dan keluarga besarnya. Untuk bertemu Rikardo yang saat ini, tertidur pulas di kamarnya.


"Mama," panggil Rikardo kala mendengar suara pintu terbuka berdengung di telinganya.


Miranda menutup pintu kamar. Lalu berjalan, mendekati putranya yang baru saja terbangun.


"Iya sayang, maafin mama, ganggu tidur kamu ya, sekarang Rikardo tidur lagi yuk," ucap Miranda dengan lembut sembari mengelus perlahan kepalanya.


"Hoaam, tapi Rikardo lapar ma, lihat ini perut Rikardo kurus." Rikardo mengangkat bajunya, memperlihatkan perutnya membuncit.


Miranda terkekeh sejenak. "Baiklah, sebentar, mama pesan makanan dulu ya."


Rikardo mengangguk pelan.


Sepuluh menit kemudian, Rikardo sudah selesai makan. Dia langsung tertidur pulas kembali. Miranda tersenyum simpul, melihat sang anak tak rewel seperti kemarin. Setelah di beri penjelasan mengenai siapa Alfredo barusan, anak berpipi chubby itu terlihat mangut-mangut dan mulai mengerti.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Miranda berjalan cepat menuju ambang pintu. Ia terkejut kala melihat Alfredo berada dihadapannya. Tanpa banyak kata, pria itu menerobos masuk ke dalam kamar.


"Hmm, kenapa kamu di sini?"


Alfredo melirik Miranda sekilas. "Memangnya aku harus punya alasan untuk ke sini?" tanyanya, datar.


Enggan menyahut, Miranda malah meneguk ludah berulang kali saat menyadari ini adalah malam pertama ia dan Alfredo. Rasa gugup dan takut seketika menderanya. Walaupun dia jelas tahu di dalam perjanjian mereka tak ada kontak fisik, namun, entah mengapa setiap berhadapan dengan Alfredo, jantungnya selalu berdetak kencang. Dia pun bingung ada apa pada dirinya.

__ADS_1


"Ti-dak," Miranda menjawab terbata-bata.


"Malam ini kita akan tidur di sini," ucap Alfredo sambil mengalihkan pandangan pada Rikardo yang tertidur pulas di tempat tidur.


Gelagapan, Miranda memalingkan muka ke samping. "Mm, tapi di sini tempat tidur tidak muat."


"Kamu pikir aku akan satu ranjang denganmu? Aku bisa tidur di sofa," ucap Alfredo cepat sambil memandangi Miranda.


Perkataan Alfredo berhasil membuat Miranda salah tingkah. Dia langsung menundukkan wajahnya tanpa berniat menanggapi perkataan Alfredo.


"Aku paling tidak suka jika seseorang berbicara, tak menatap mataku." Alfredo melangkah cepat, mendekati Miranda kemudian mengangkat dagu wanita itu.


Deg.


Sementara itu, Miranda terpaku di tempat tatkala tangan kokoh dan besar itu menyentuh kulit tipisnya. Belum lagi sorot mata Alfredo bisa membuat ia tak berkedip' memandangi mahakarya Tuhan. Miranda tengah berimajinasi liar mengenai Alfredo. Pikiran liarnya menari-nari sejenak.


"Miranda, hei!" Alfredo meninggikan suaranya membuyarkan lamunan Miranda seketika.


"Maaf, aku–"


"Shft..." Alfredo menempelkan jari telunjuknya di bibir sensual Miranda. Saat ini keduanya saling menatap satu sama lain.


Lagi dan lagi, seakan ada sengatan listrik, detak jantung Miranda berdetak berpuluh-puluh kali lipat dari sebelumnya. Baru kali ini ia di intimidasi oleh seorang pria. Memang benar, Alfredo adalah sosok pria yang auranya sangat kuat dan mendominasi.

__ADS_1


Astaga, ada apa denganku?! Hei jantung, berhentilah! Kamu harus menjaga batas dengannya, Mir.


"Miranda Gunadhya, jika berbicara dengan lawan jenis, tatap matanya," ucapnya, tegas sambil menurunkan tangan.


"Iya- i-ya, maaf, ak–Ha!"


Miranda panik, saat Alfredo menarik pinggangnya tiba-tiba, menjadikan tubuhnya dan Alfredo, menempel satu sama lain, tanpa ruang sedikitpun.


"Jangan sakiti mamaku!" seru Rikardo yang ternyata barusan terbangun kala mendengar suara Miranda berteriak. Secepat kilat bocah itu beranjak dari tempat tidur, menghampiri Miranda dan Alfredo.


"Lepas!" Rikardo menarik tangan Miranda, lalu mendongakkan kepalanya ke atas, menatap tajam Alfredo.


"Jangan sakiti mamaku, pergi!" bentaknya. Membuat Miranda sangat tak hati, melihat sikap anaknya.


"Nak, jangan seperti itu," ucap Miranda memberi pengertian.


"Tapi ma, papa sambung Rikardo, jahat!" Rikardo melipat tangannya di dada. Miranda bingung, dia tak mau membuat suasana hati Alfredo memburuk.


"Sudahlah, aku akan kembali ke sini nanti, tidurkan dia," ucap Alfredo lalu melangkahkan kakinya ke pintu.


Miranda mengangguk, kemudian berjongkok dihadapan Rikardo.


"Miranda, besok kita harus ke jerman, mommyku ingin bertemu denganmu," ucap Alfredo sebelum benar-benar keluar dari kamar.

__ADS_1


Aku tidak salah mendengar, Kan? Mengapa aku harus bertemu mommynya?


__ADS_2