
Mobil berwarna hitam melesat masuk ke pekarangan rumah, kemudian berhenti tepat di pintu utama kediaman Nahendra.
Tama menyembul keluar, wajahnya terlihat panik. Dengan langkah tergesa-gesa dia memasuki rumahnya.
"Anis! Kamu kenapa?!" tanya Tama pada Anis yang sedang menangis di ruang tamu.
Beberapa menit yang lalu, Tama mendapatkan panggilan dari Anis. Dan betapa terkejut dirinya, mendengar suara isakan tangis kekasihnya itu. Ketika di tanya, air mata Anis semakin mengalir deras, Tama gelisah, mengapa pacarnya yang sedang berbadan dua itu menangis tersedu-sedu.
Tanpa banyak kata, Tama pun pulang ke mansion. Ingin mengetahui keadaan Anis. Sesampainya di rumah, ia panik, melihat Anis menangis sambil meraung-raung histeris.
"Anis, kamu kenapa?"
Tama berjongkok dihadapan Anis dengan menggapai kedua pipinya. Namun, Anis tak memberi jawaban, hanya menitihkan air matanya sambil sesengukkan sesekali.
"Nis, kamu jangan buat aku panik donk, ada apa?" Tama tak menyerah meski Anis bungkam seribu bahasa.
"Sayang.. Cerita sama aku ya?"
Kesedihan terpancar jelas dari bola mata Tama, dengan sabar ia menunggu sang kekasih mau menceritakan permasalahannya.
Melihat tatapan Tama, Anis bersorak di dalam hati karena aktingnya membuat Tama pulang jua ke rumah. Pasalnya jika tak ada hal yang darurat Tama tak kan pulang cepat, sebab Tama mengatakan hari ini dia ada meeting penting dengan salah satu kolega.
"Tama, Miranda, dia..." Anis menyeka cepat jejak tangisnya.
"Miranda kenapa?"
Masih teringat jelas saat Eyang Sari dan calon mertuanya mencemoohnya tadi. Anis marah, Miranda tak membelanya sama sekali. Selepas kepergian Eyang dan Ibu Tama. Anis menerobos masuk kamar Miranda, ingin memberi wanita itu pelajaran tapi yang ada dia malah di maki-maki Miranda lagi. Hingga ekor matanya tanpa sengaja melihat sesuatu di meja rias rivalnya itu.
Anis menundukkan wajah seketika. Sedangkan Tama menggeram sebal, menerka jika Miranda lah yang membuat Anis menangis.
"Di mana Miranda?!" tanya Tama, tak sabaran.
"Sepertinya dia ke mall," jawab Anis apa adanya, masih sempat-sempatnya ia bertanya pada Miranda mau pergi kemana. Tentu saja, Miranda menjawab walaupun dengan nada ketus, padahal sebenarnya Miranda pergi ke rumah sakit.
"Ke mall?! Bukan kah dia sakit?!" Tama meradang bukankah Miranda demam, lantas mengapa wanita itu malah keluyuran.
Anis mengangkat sedikit bahunya. "Aku tidak tahu, Tama, sepertinya dia hanya berpura-pura agar bisa berduaan dengan pacarnya..." ucapnya, lirih tapi masih bisa di dengar Tama.
__ADS_1
Dahi Tama berkerut kuat hingga tiga lipatan. "Kamu bicara apa tadi, Anis? Pacar?"
"Iya! Pacar Miranda." Secepat kilat Anis menyambar sesuatu di dalam saku jeans lalu menyodorkan benda pipih itu pada Tama.
"Tama, bukan kah kamu mengatakan padaku kalau kamu sudah lama tak menyentuh tubuh Miranda, aku menemukan ini di kamarnya tadi siang," ucap Anis, teringat cerita dari Tama jikalau sudah lama tak menyentuh tubuh Miranda.
Muka Tama merah padam menatap tajam pada test-pack yang menunjukkan dua garis merah.
Haha, aku benar-benar beruntung, tak perlu susah-susah mencari cara, karena kebodohan Miranda, aku akan menjadi Nyonya Nahendra.
*
*
*
Sementara itu, setelah memeriksakan diri ke dokter. Miranda seakan tak percaya ketika dokter mengatakan dirinya hamil. Miranda bertanya-tanya siapa kah yang menabur benih di rahimnya.
Miranda pun begitu bingung, siapa ayahnya? Kapan? Dan di mana? Dia berharap perkataan dokter hanyalah bualan saja, tapi kenyataannya memang benar.
Dia semakin resah, kala Tono menghubunginya tadi, dan mengatakan bahwa Lionel tak mau bersanding dengannya tiba-tiba.
"Mama tak mempermasalahkan kamu lahir ke dunia ini, nak. Tapi mama penasaran siapa papamu," ucapnya, lesu.
Seketika aroma pizza menyeruak ke indera penciumannya. Miranda mengendus-endus sambil memutar kepalanya ke segala arah, mencari sumber wangi.
Senyuman tipis terukir jelas di wajah Miranda saat ini. Saat melihat seseorang makan pizza tak jauh darinya.
"Kamu lapar nak? Mama juga lapar, ayo sekarang kita cari makan ya."
Miranda memutuskan makan sore di restaurant miliknya, sesampainya di sana ia langsung memesan makanan yang sudah lama tidak ia makan. Menu western food, menjadi makanan utama yang di pilih Miranda, seperti pizza, burger, kentang dan sebagainya.
Sembari menunggu, lagi dan lagi Miranda kembali tertunduk lesu. Memikirkan rencana selanjutnya, belum lagi sikap Anis membuatnya kesal setengah mati.
Dia tak mau satu rumah bersama Anis. Ingin sekali ia keluar dari neraka itu, tapi sang mertua dan Eyang mengatakan padanya, jangan sampai pelakor menguasai mansion. Tentu saja, Miranda menurut, tapi dia juga memiliki batas kesabaran.
Miranda mengetuk-etuk meja sambil menopang dagunya. Duduk termenung dengan melihat vas bunga kecil dihadapannya.
__ADS_1
Byur!!
Miranda terkejut kala wajahnya tiba-tiba basah. Dengan cepat ia menoleh.
"Apa-apan kamu, Anis?" Miranda bangkit berdiri, melayangkan tatapan tajam pada Anis yang tersenyum sinis sekarang.
"Kamu yang apa-apaan?!" Tama baru saja tiba langsung menatap sengit Mirand lalu menamparnya seketika.
Plak!
Miranda meringis sejenak kemudian menatap Tama.
"Kenapa kamu menamparku ha?!" murkanya.
Tama melempar test-pack ke atas meja dan berkata,"Anak siapa ini? Kamu berselingkuh, Kan? Siapa pacarmu itu?! Cepat katakan padaku?! Gugurkan sekarang! Dasar jal@ng!"
Plak!
Tama melebarkan mata ketika tangan Miranda mendarat tepat di pipi kanannya.
"Biad@b kamu! Jangan menuduh tanpa bukti yang tidak jelas! Aku tidak berselingkuh! Kamu yang selingkuh sama perempuan binal ini!" Miranda berseru dengan nafas yang memburu, sambil menatap Anis sekilas di samping Tama.
"Jangan memutar balikkan fakta, Tama Nahendra, sampai kapanpun aku tidak akan mengugurkan anakku ini! Mulai detik ini aku bukan istrimu lagi! Mari kita bercerai!" Miranda tak mampu menahan emosi, untuk pertama kalinya Tama menamparnya. Tama sudah kelewatan batas. Dia tak mempedulikan lagi nasib perusahaannya kalau mereka bercerai.
"Fine! Kamu akan menyesal! Perusahaanmu akan hancur, sementara' aku tidak," ucap Tama tersenyum sinis. Sebab kemarin mendapatkan dana dari hasil kerjasama dengan Alfredo Castello.
"Whatever!" [Terserah!]
Miranda mendengus lalu menyambar tas di atas meja kemudian menyenggol pundak Anis seketika.
"Miranda!" teriak Tama kala melihat Anis tersungkur ke lantai. Secepat kilat ia mendekati Anis lalu memapah kekasihnya itu. Sementara Miranda melenggang pergi dari hadapan Tama dan Anis.
Para pengunjung restaurant berbisik-bisik sejenak, ketika melihat kejadian barusan. Mereka penasaran, apakah benar wanita tadi adalah istri Tama Nahendra, sang konglomerat di kota metropolitan ini. Mengingat, bahwa Miranda selama ini tak pernah di perkenalkan ke publik, dan hanya terdengar hembusan angin yang mengatakan Tama sudah menikah dan memiliki seorang anak. Banyak pasang mata menatap hina pada Anis saat ini.
Tak terkecuali, termasuk pria beriris coklat, secara kebetulan berada di restaurant juga, tengah duduk sambil mengamati Tama dan Anis tengah berbicara satu sama lain.
"Jadi, Tama Nahendra adalah suami Miranda?" tanya Alfredo sambil menopang dagunya.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Informasi yang saya dapatkan, Tuan Tama ternyata berselingkuh, dan Miranda akan mengugat cerai pria itu. Sepertinya Miranda tengah mencari pendamping hidup agar perusahaannya tidak gulung tikar."
"Hmm, menarik." Alfredo mengangkat alis matanya. Lalu menoleh pada Cole. "Setelah Miranda dan Tama bercerai, batalkan kerjasama kita bersama Tama Nahendra, lalu kita akan menemui Miranda, aku akan bertanggungjawab, walau bagaimanapun dia anakku."