Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Menyusun Rencana


__ADS_3

Langit yang semula gelap, perlahan berubah menjadi terang benderang. Nampak matahari bersinar di ufuk timur, menyinari seluruh isi bumi, hendak membangunkan sang penghuni agar segera menjalan aktivitas di pagi minggu ini.


Di sudut-sudut kota Jakarta, di sebuah mansion yang megah. Terlihat seorang wanita tengah menyibukkan diri di dapur, memasakkan sarapan untuk anaknya. Dialah Miranda, sejak pukul lima pagi dia sudah terbangun dari tidurnya.


Semalam, dia tak bisa tidur nyenyak saat tangan kokoh Tama melingkar diperutnya. Walau masih mencintai Tama, tapi dia tak mau terbawa arus dengan perasaanya saat ini. Apalagi kemarin Tama mengatakan dengan jelas hanya mencintai Anis bukan dirinya.


"Awh, shht...."


Miranda meringis, saat tanpa sengaja menyentuh wajan yang masih panas di atas kompor.


"Mama!"


Kala mencium aroma nasi goreng menyeruak ke indera penciumannya. Bocah kecil itu langsung turun ke bawah, mengikuti wangi masakan yang membuatnya kelaparan seketika.


Miranda menoleh. "Iya," ucapnya sambil mengusap pelan tangannya.


"Mama kenapa?" Rikardo mengucek mata sejenak lalu menguap lebar.


Mengulas senyum sambil berjongkok dihadapan anaknya. "Nggak apa-apa sayang, tadi mama nggak sengaja nyentuh wajan yang masih panas," jelas Miranda singkat.


Rikardo nampak sedih mendengar mamanya terluka akibat wajan. Secepat kilat ia mengambil tangan Miranda dan meniup-niup kuat lengan sebelah kiri mamanya.


Miranda tersenyum tipis melihat kepedulian Rikardo. Lalu berkata,"Sudah, mama baik-baik saja, sekarang anak mama mandi ya, sebentar lagi kita sarapan."


"Mama yakin?" Rikardo terlihat meragu karena kulit Miranda terlihat merah dan mulai melepuh sekarang.


Miranda mengangguk, pelan.


"Oke deh, Rikardo ke atas dulu ya, mau mandi hehe, om Tono kemana ma?" Semalam, sebelum tidur ia dan Tono bermain perang bantal di dalam kamar.


"Mungkin dia masih tidur," balas Miranda sambil mengusap kepala anaknya. Rikardo hanya beroh ria, sambil mangut-mangut.


"Ma, Rikardo boleh bangunin om Tono!" Rikardo meminta izin pada mamanya untuk membangunkan Tono.


"Boleh sayang," ucap Miranda sambil mencium gemas pipi bulat anaknya.


"Hihi, geli ma!" seru Rikardo kala mamanya menggelitik tubuhnya seketika.


"Rikardo," panggil Tama tiba-tiba. Membuat Miranda menghentikan gerakan tangannya. Dia terkejut sekaligus penasaran sejak kapan Tama berada di dapur.


"Papa!" Rikardo menghampiri papanya lalu merentangkan tangan, meminta di gendong.


Tama merekahkan senyuman sambil mengangkat tubuh anaknya. "Berat juga ya, anak papa," ucapnya sambil mengecup sekilas pipi gembul Rikardo secara bergantian. "Emm, bau acem." Sambungnya lagi lalu melabuhkan kecupan terakhir di kening anaknya.

__ADS_1


"Hihi, papa juga bau acem." Jari-jari munggil Rikardo mengelus pelan kedua pipi Tama sambil menatap dalam papanya.


Sementara Miranda terenyuh melihat pemandangan di depan. Tama dan Rikardo begitu dekat, dia dilanda kebimbangan sekarang apa harus bercerai atau tidak, namun matanya yang semula sendu berubah menjadi dingin, teringat kejadian kemarin ketika dia memergoki Tama dan Anis berselingkuh.


Maafkan mama, Rikardo, suatu saat nanti, kamu pasti mengerti.


Miranda menarik nafas panjang, memperhatikan suami dan anaknya masih bercengkrama satu sama lain.


"Tama!" pekik Anis menggema di dapur membuat keluarga kecil itu tersentak kaget. Ia menghampiri ketiganya.


"Hei anak kecil! Turun kamu!" bentak Anis kepada Rikardo. Mata bocah itu mulai berkaca-kaca, sementara Tama menggeram sebal karena Anis sudah kelewat batas.


"Anis! Apa-apaan kamu!? Dia papa Rikardo, kamu tidak memiliki hak sepenuhnya atas Tama, meskipun dia pacarmu!" Miranda naik pitam kala Anis memperlakukan anaknya semena-mena.


"Diam kamu!!" seru Anis mengepalkan tangan sebab Tama tak membelanya sama sekali dan memilih diam.


"Kamu yang diam!!!" Suara teriakan Miranda menggelegar membuat Rikardo terlonjak lagi. Secepat kilat Tama memeluk anaknya yang ketakutan.


Miranda berdecak kesal pada dirinya sendiri karena tak mampu mengontrol emosi jika berhadapan dengan Anis.


"Tono, bawa Rikardo ke atas."


Miranda memberikan perintah pada Tono yang bersembunyi di balik tembok' sedari tadi tengah menguping pembicaraan mereka. Beberapa detik yang lalu, ia melihat kepala Tono menyembul sedikit di balik tembok.


"Tama! Ajari pacarmu sopan santun dirumahku!" serunya setelah melihat Tono dan Rikardo berlalu pergi.


"Apa katamu?! Rumahmu? Ini kan rumah Tama!" Sebelum Tama membalas perkataan Miranda, Anis terlebih dahulu membuka suara.


Miranda tertawa sejenak, lalu mengangkat dagunya dengan angkuh.


"Tama, apa kamu belum memberitahu Anis kalau mansion ini milik kita bersama?" Mansion yang ia tinggali sekarang adalah hadiah pernikahan mertuanya dahulu.


Tama menggaruk kepalanya sejenak, lalu menatap Anis yang nampak keheranan.


"Biar aku tebak, pasti belum." Miranda menggeleng pelan. "Anis, kamu perlu tahu mansion ini adalah milikku juga, bukan milik Tama sepenuhnya, aku membiarkanmu tinggal di sini karena aku kasihan pada dirimu yang tengah berbadan dua, maka dari itu hormati aku sebagai Tuan rumah, kalau kamu membuat ulah lagi, aku tidak akan segan-segan mengusirmu!"


Setelah mengucapkan ancaman pada Anis. Miranda melenggang pergi sambil membawa sarapan yang ia masak tadi.


Sementara Anis dan Tama saling menatap satu sama lain. Kedua tangan Anis mengepal sembari menatap tajam Tama, setajam silet. Ia mengira mansion ini adalah milik Tama.


*


*

__ADS_1


*


Sesampainya di lantai dua. Miranda masuk ke ruangan khusus. Dengan perlahan ia meletakkan mangkok besar ke atas meja. Lalu menyusun piring di masing-masing tempat. Setelah selesai, ia melangkah pergi ke kamar Rikardo.


"Rikardo, maafkan mama, nak." Begitu sampai di ruangan, Miranda langsung mengambil Rikardo dalam pelukan Tono kemudian mendekap erat putranya seketika.


Rikardo mengurai pelukan sedikit lalu mengangguk sambil menampilkan mimik muka sedih. "Mama, jangan marah-marah lagi ya," ucapnya, pelan.


"Iya, mama janji nggak akan marah lagi." Miranda kembali merengkuh Rikardo sambil mengelus punggung anaknya.


Sementara itu, Tono yang menyaksikan ibu dan anak itu yang saling berpelukan, menatap nanar keduanya.


"Mir, eyke udah tahu gimana caranya, you bisa pisah sama Tama tanpa harus membuat perusahaan hancur," celetuk Tono tiba-tiba saat ide cemerlang melintas begitu saja, padahal sedari malam dia berpikir keras, memikirkan cara agar perusahaan Gunadhya Groups tak bangkrut kalau mereka bercerai.


Miranda menoleh tanpa menghentikan gerakan tangan. "Benar kah?"


Tono mengangguk, semangat.


"Terimakasih, Ton, aku berharap rencanamu bagus, setelah selesai mandi dan sarapan kita akan bicara nanti."


Tono mengangkat satu jari jempolnya, menandakan dia setuju.


*


*


Sesuai perkataan Miranda. Selesai sarapan, keduanya masih di ruang makan bersama Rikardo yang tengah minum susu coklat kesukaanya.


Miranda beruntung, sebab Tama dan Anis beberapa menit lalu pergi, entah kemana dan tentu saja ia tak peduli.


"Jadi apa rencanamu?" Miranda memandang Tono lekat-lekat berharap rencana sahabatnya itu sesuai ekspetasinya.


"Hm, ini cara satu-satunya Mir, you sudah siap mendengarkan," ucap Tono semakin membuat Miranda kepo tingkat dewa.


Miranda menghela. "Cepat katakan padaku sekarang, Tono!" ucapnya tak sabaran.


"Mungkin ini sedikit gila, tapi ini cara ini yang paling manjur! Setelah bercerai dari Tama, you harus menikah dengan pria yang kaya juga seperti Tama."


Miranda melonggo, apa dia tak salah mendengar Tono menyuruhnya menikah lagi, setelah menyandang status janda nanti.


"Tenanglah, Mir. Eyke akan membantu you mendapatkan pria yang mapan dan kaya raya, eyke akan menjadi biro jodoh." Tono menggerakkan kepala ke sana kemari dengan begitu gemulai.


Sedangkan Miranda masih terpaku di tempat.

__ADS_1


__ADS_2