Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Apa Kamu Tengah Menggodaku


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan seketika begitu canggung. Ketika Alfredo masuk ke kamar. Saat ini jantung Miranda seperti ingin melompat keluar, ketika pria blasteran itu menatapnya dengan sangat lama, sampai-sampai membuatnya salah tingkah. Miranda langsung mengalihkan pandangannya pada Rikardo, yang kini sedang di elus kepalanya oleh Theresa.


"Al, kalian tak boleh pulang ke Indonesia. Dan harus tetap di sini sampai Miranda lahiran," ucap Theresa tiba-tiba.


"Oke, Tapi..." Alfredo dan Miranda menatap satu sama lain sejenak kala keduanya memberikan respon yang berbeda.


"Ada apa Mir? Kamu tak mau menemani Mommy di sini." Theresa menampilkan wajah memelas, berharap Miranda dapat mengiyakan permintaannya.


Miranda di landa dilema. Bukannya dia tidak mau, hanya saja ada banyak hal yang ia pikirkan. Apalagi mengingat di sini pasti dia harus sekamar dengan Alfredo. Pasalnya tadi mertuanya sempat mengatakan Rikardo akan tidur di kamar khusus yang sudah ia persiapkan. Miranda tak mau berdekatan dengan suaminya terlalu lama karena Alfredo selalu membuatnya salah tingkah tanpa sebab, pikirnya.


"Mir, apa permintaan mommy terlalu berlebihan?" Theresa menyentuh kedua pundak Miranda dan menatap dalam sang menantu.


"Enggak, Mom. Hanya saja bagaimana dengan sekolah Rikardo." Alasan itu yang terlintas dibenaknya sekarang. Miranda tersenyum simpul sambil membalas tatapan mertuanya yang sendu hingga membuatnya terenyuh sejenak.


"Oh my God, jadi kamu bingung, dengan sekolah Rikardo. Mira, tenanglah, mommy akan memerintahkan Cole untuk mengurus surat kepindahan sekolah Rikardo agar dia bersekolah di sini!" Theresa berkata dengan semangat tanpa mendengar tanggapan Miranda. Ia pun langsung menelepon Cole.


Miranda tak bisa membantah sebab Theresa tak memberinya kesempatan sama sekali. Meski dia kurang setuju dengan permintaan Theresa tapi dia bersyukur Theresa mau menerimanya sebagai menantu.


Malam pun tiba. Saat ini kediaman keluarga Castello diramaikan dengan kebawelan Rikardo yang sudah sembuh. Bocah gembul itu sudah terlihat membaik. Dia sangat senang kala Theresa mengecup dan memeluknya sedari tadi.

__ADS_1


Sementara, Miranda tersenyum lebar kala semua anggota keluarga Alfredo memperlakukan dia dengan baik di rumah. Seperti saat ini mereka sedang makan malam bersama di ruang makan.


Miranda langsung disuguhkan makanan sehat khusus bumil oleh kakak iparnya yang berprofesi sebagai seorang chef. Kakak iparnya sangat baik padanya, begitupula dengan papa mertuanya.


Di meja makan, Rikardo disuapi oleh kakak iparnya yang kebetulan sudah selesai makan. Sementara yang lainnya masih menyantap makanan.


"Makanlah yang banyak, sayang." Theresa meletakkan sayuran hijau di piring Miranda.


Miranda menghela nafas, sedari tadi Theresa tak henti-hentinya menyodorkan makanan padanya hingga piringnya terlihat penuh.


Aduh, perutku begah bagaimana ini?


"Mom, Miranda sudah kenyang, jangan taruh lagi." Akhirnya Alfredo membuka suara. Padahal pria itu tak sedikitpun menoleh padanya. Dia sibuk dengan ponselnya sedari tadi.


Miranda tercengang, Alfredo seakan membaca pikirannya.


"Benarkah? Oh my God, im so sorry, dear. Lain kali jujur saja sayang, kalau kamu kenyang atau apa, tolak saja, jangan sungkan-sungkan, oke?" ucap Theresa.


Miranda tak enak hati karena mertuanya terlewat baik. Dia penasaran apa keluarga Alfredo tahu alasan dirinya dan Alfredo menikah.

__ADS_1


"Baik, Mom. Aku minta maaf, Mom karena tak bisa menghabiskan semua makanan ini," Miranda berkata sambil merekahkan senyuman.


"It's Okay."


*


*


Pukul sembilan malam. Setelah Miranda membacakan dongeng pengantar tidur. Rikardo langsung tertidur pulas. Miranda pun bergegas menuju kamarnya ingin membersihkan dirinya lagi. Ia begitu gerah sebab saat ini di Jerman sedang musim panas.


Sesampainya di kamar, Miranda langsung melepas pakaian bagian atasnya tanpa tahu jika dua meter di belakangnya, Alfredo tengah memandanginya tanpa mengedipkan matanya.


"Panas sekali." Miranda mengipas wajahnya sejenak. Sepasang mata itu melebar saat merasakan tangan besar kokoh melingkar diperutnya.


Deg.. Deg.. Deg..


Kini jantung Miranda berdetak 10.000 kali lipat. Kala Alfredo mengendus-endus ceruk lehernya membuat bulu kuduknya berdiri seketika.


"Apa kamu tengah menggodaku?" Alfredo berbisik di telinga kanannya.

__ADS_1


__ADS_2