
Pagi pun menyongsong. Di sebuah kamar hotel berbintang lima, seorang wanita melenguh sejenak kala aroma kopi menyeruak ke indera penciumannya tiba-tiba. Dia yang sedang berada di pulau mimpi, terbangun seketika.
Miranda membuka matanya perlahan, melihat di ujung sana, Alfredo tengah duduk di sofa dengan menyilangkan kaki sambil menyesap perlahan secangkir kopi.
Gleg! Gleg!
Miranda menelan ludah begitu kasar, ketika matanya harus ternodai lagi dengan dada atletis Alfredo yang terbuka sedikit saat ini. Sepertinya pria itu baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe.
Apa dia sengaja? Si@l! Miranda jangan sampai kamu jatuh cinta padanya!
Miranda menyentuh dadanya yang berdegup cepat sekarang. Kejadian semalam masih membekas dipikirannya kala Alfredo mengganti pakaian tidur di depannya langsung, walaupun hanya piyama bagian atas, namun mampu membuat perasaanya sangat tak karuan.
"Apa kamu sudah puas memandangiku?" Alfredo berucap tanpa menatap lawan bicara sebab sekarang dia tengah bermain ponselnya.
Terkejut, Miranda menutupi cepat wajahnya dengan selimut.
Astaga! Miranda, apa yang kamu lakukan? Argh!
__ADS_1
Di bawah selimut ia menepuk jidatnya ketika bertingkah konyol di depan Alfredo. Miranda menggerutu dirinya sendiri saat ini.
Alfredo menggeleng pelan, kemudian melihat Miranda masih bergelung di bawah selimut. "Orang aneh," celetuknya. "Miranda, apa kamu lupa perkataanku semalam?" Alfredo beranjak lalu meletakkan cangkir di atas meja kecil.
Miranda membuka cepat selimutnya, lalu menoleh. "Iya, aku ingat, maaf, aku akan bersiap-siap."
"Hm, baguslah," ucapnya sembari menghampiri Miranda.
Pergilah! Mengapa dia datang kemari? Apa dia tak bisa memakai bathrobe dengan benar?! Miranda menjerit di dalam hati kala derap langkah Alfredo semakin mendekat.
"Mandilah, aku akan membangunkan Rikardo," titah Alfredo cepat.
"Aku melakukan ini, agar kita tak banyak membuang waktu! Cepat mandi," perintah Alfredo dengan meninggikan suaranya.
Ck, apa yang kamu harapkan dari dia, Mir. Sadarlah! Ish! Dasar pria sombong!
Kalimat umpatan barusan hanya berani Miranda lontarkan di dalam hatinya saja. Karena tak mungkin ia ucapkan pada Alfredo. Yang ada dia akan dimarahi oleh pria arogan itu.
__ADS_1
"Aku hitung sampai tiga, jika kamu tak mandi, aku akan memandikanmu!" seru Alfredo kala Miranda tak bergerak sama sekali.
Walau hanya mengertak, namun perkataan Alfredo barusan membuat kedua mata Miranda terbelalak. "Ba-ik," ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur. Meninggalkan Alfredo yang kini mengalihkan pandangan pada Rikardo yang masih tertidur pulas.
*
*
*
Saat ini, pengantin baru itu berada di bandara pribadi milik Alfredo. Miranda tak menyangka jikalau suaminya mempunyai bandara yang sangat luas. Belum lagi pesawat berjejer rapi di setiap sudut, membuat Miranda berdecak kagum sejenak.
Begitupula dengan Rikardo, begitu terkesima kala melihat semua kendaraan mewah terparkir rapi di lapangan. Dia mengedarkan pandangan di sekitar dan tanpa sadar menggengam erat tangan Alfredo.
Sementara, Alfredo melirik Rikardo. Kemudian tersenyum tipis, tak ada yang menyadari ekspresi langkanya itu, terkecuali Cole, sedari tadi dia memperhatikan tingkah laku majikannya.
Mereka sudah seperti keluarga bahagia, semoga saja Nyonya besar mau menerima Miranda. Ucap Cole di dalam hatinya.
__ADS_1
Dari jarak empat meter, Cole memandang mereka sambil menekan-nekan layar ponselnya sejenak.