
Matahari bergerak perlahan ke arah barat. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam, melesat pelan membelah jalanan. Di dalam kendaraan roda empat tersebut, Miranda menyenderkan kepalanya ke kursi sambil melihat ke depan.
"Al, kita mau kemana? Ini bukan jalan ke apartmentku." Miranda keheranan, mengapa arah tujuan Alfredo tak sesuai rute apartmentnya sekarang.
Alfredo melirik sejenak."Kita ke suatu tempat dulu."
"Kemana?" Miranda semakin dibuat penasaran.
Enggan menyahut, Alfredo malah menyeringai tipis. Miranda kalang kabut, menerka jikalau Alfredo akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya menjerit.
Aduh, bagaimana ini? Dia kalau bermain, tidak sebentar, aku masih capek!
*
*
Hari sudah malam, akhirnya Alfredo dan Miranda tiba di villa mewah. Alfredo memarkirkan mobil di teras depan. Kemudian mempersilahkan Miranda untuk keluar dari mobil.
"Al, tempat apa ini?"
Miranda terkesima sembari mengedarkan pandangan ke sudut-sudut villa dengan mata berbinar-binar. Walaupun sudah gelap, tapi villa yang dipenuhi lampu kecil, membuat Miranda dapat melihat dengan jelas villa tersebut. Belum lagi terdapat taman mini di depan villa, begitu memanjakan matanya untuk sesaat.
"Tempat peristirahatanku, ayo kita masuk!" Alfredo mengenggam tangan Miranda dan membawanya masuk ke dalam.
Lagi dan lagi Miranda terpesona dengan interior di dalam villa, yang menampilkan bunga mawar berwarna merah membentuk love terukir di lantai. Miranda tercengang, apa Alfredo tengah memberinya kejutan?
"Al, aku–"
__ADS_1
Belum sempat Miranda menyelesaikan ucapannya, matanya melebar, tatkala melihat lampu-lampu kecil tiba-tiba menyala di ruangan, menampilkan kalimat I LOVE YOU. yang cukup besar.
"Al..." Miranda langsung menutup mulutnya seketika, tak menyangka Alfredo begitu romantis.
"I love you," ucap Alfredo sambil menarik pinggang Miranda lalu menatap wanitanya dengan intens.
Miranda mematung, apa dia tak salah mendengar Alfredo mengucapkan kata cinta? Untuk sesaat wanita itu berhenti bernafas.
"Mira, i love you," Alfredo mengulangi perkataannya dengan mimik muka datar.
Miranda tersadar lalu mengulas senyum lebar.
"I love you too."
"Al, aku pikir hanya aku yang mencintaimu." Sambungnya pelan.
Menghela nafas sejenak. "Ya, karena kamu sangat dingin, Al, ditambah lagi dengan..." ucapnya lirih.
Satu alis Alfredo terangkat sedikit. "Dengan apa?"
Miranda mengigit bibir bawahnya, bingung bagaimana menyampaikan kegundahannya selama ini atas sikap suaminya dan mengira Alfredo tak menaruh rasa padanya sebab pikiran pria itu sangat sulit dibaca.
"Mira, percayalah, kamu wanita pertama yang berhasil memporak-porandakan hatiku, kalaupun sikapku membuatmu meragu, aku meminta maaf padamu, mulai detik ini aku akan bersikap layaknya suami, teman, bahkan sahabat untukmu," ucap Alfredo bersungguh-sungguh.
Miranda tercengang, begitu terharu seorang pria yang ia pikir egois bisa juga mengucapkan kata maaf dan melontarkan kalimat yang meluluhkan lantahkan hatinya. Tapi dia tak tahu saja kalimat itu Alfredo dapatkan dari Mommy-nya.
Kemarin setelah Theresa melihat hubungan Miranda dan Alfredo tak ada kemajuan sama sekali. Wanita berdarah Jerman itu menelepon Alfredo, berterus terang pada anaknya bahwa telah mengetahui hubungan mereka yang rumit.
__ADS_1
Alfredo tentu saja terkejut. Dia pun meminta maaf pada Theresa. Sang ibu mau memaafkan asalkan Alfredo mengungkapkan perasaannya dan tanpa pikir panjang ia mengajari Alfredo mengucapkan kata-kata romantis.
Alfredo tak langsung mengiyakan hanya mendengarkan saja kecerewetan Mommy-nya. Namun Theresa tak kehabisan akal, dia pun mengertak putra bungsunya dengan mengatakan Miranda bisa saja kembali pada mantan suaminya jikalau Alfredo tak bergerak cepat.
Tak di sangka-sangka ucapan Theresa membuat Alfredo ketar-ketir ketika dia mendapat kabar Miranda akan pulang ke Indonesia. Dan bisa saja bertemu Tama. Di sini lah Alfredo sekarang, di bantu dengan Cole mempersiapkan kejutan untuk sang istri.
"Al, terimakasih kejutan ini, aku sangat mencintaimu, jangan membuatku kecewa." Miranda mengalungkan kedua tangannya di leher Alfredo. Kini gurat kebahagiaan terukir jelas di wajah kedua insan manusia itu. Alfredo dan Miranda saling menatap satu sama lain.
"Percaya padaku, aku juga sangat mencintaimu, mari kita hidup bersama, sehidup semati dan membesarkan anak-anak kita sampai kita menutup mata." Alfredo tersenyum tipis, tangan kokohnya semakin menarik pinggang Miranda hingga tak ada ruang di antara mereka, dalam hitungan detik dia memejamkan matanya kemudian mendekat wajahnya perlahan. Reflek, Miranda melakukan hal serupa.
Saat ini, Alfredo dan Miranda mencumbu satu sama lain. Keduanya menyalurkan perasaan mereka melalui ecap@n-ec@pan pelan. Kali ini Alfredo memperlakukan Miranda dengan begitu lembut. Sampai-sampai Miranda tak sadar jikalau Alfredo tengah menggendongnya dengan posisi tubuh seperti bridal style. Pria itu membawa Miranda ke dalam kamarnya.
"Honey, aku akan pelan-pelan," ucap Alfredo sesudah merebahkan sang istri di pembaringan.
Miranda tersipu malu mendengar panggilan Alfredo. Dia yang semula kecapean akibat perjalanan dari Jerman ke Jakarta, tapi sekarang rasa letih itu menguap seketika.
"Al, pelan-pelan ya, kasihan anak kita." Miranda memohon ketika Alfredo mengusap pelan perutnya.
Alfredo mengembangkan senyuman. "Iya, tenanglah, aku akan pelan-pelan, maaf, kemarin aku menjenguknya tanpa persetujuan darimu."
"Ha? Kapan?"
Bukannya menjawab Alfredo langsung melancarkan serangannya, tanpa perduli jeritan Miranda terdengar kuat kala dia menghujam inti tubuh sang istri.
- Tamat
Maaf kalau novel ini, banyak kekurangannya, author cukupkan sampai di sini, author kurang bersemangat, karna like-nya sedikit sekali
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca novel ini sampai selesai🙏