Cinta Satu Malam Mama Muda

Cinta Satu Malam Mama Muda
Bodyguard Baru


__ADS_3

Setelah menghabiskan penyatuan bersama tadi siang. Alfredo langsung meninggalkan Miranda di dalam kamar, tanpa pamit terlebih dahulu pada sang istri yang keletihan karena permainannya tadi. Sebelum keluar dari dalam kamar, Alfredo menutup tubuh istrinya dengan selimut kemudian melabuhkan kecupan lembut di setiap inci di wajah Miranda.


"Cole, aku akan kembali ke kantor, lakukan tugasmu sekarang, jangan sampai melakukan kesalahan sedikitpun!" Alfredo masuk ke dalam mobil dan melirik Cole sekilas sebelum menyalakan kendaraan-nya.


Cole membungkukkan badan, kemudian memperhatikan mobil sport milik Alfredo menghilang dari balik pagar mansion.


"Menyusahkan sekali." Cole berdecak sejenak sambil mengambil ponsel di saku jas dan langsung menjalankan perintah.


*


*


*


Miranda melenguh kala suara seseorang yang sangat ia kenali bergema di telinganya sekarang. Dengan mata terpejam, mengeliatkan tubuhnya ke segala arah kemudian meraba-raba cepat di sisi tempat tidurnya. Mencari keberadaan Alfredo, begitu tak merasakan suaminya di atas kasur. Ia membuka kelopak matanya lalu menggerakan kepalanya ke segala arah.


"Di mana dia?" Miranda menarik selimut yang melorot itu sambil menelisik Alfredo di dalam kamar.


"Miranda!!!" Dari luar ruangan, Miranda mendengar lagi suara panggilan dari seseorang.

__ADS_1


"Bukan kah itu suara Tono," Miranda bergumam pelan sambil mengubah posisi tubuh dengan duduk di tepi ranjang.


"Miranda, aduh yuhu spada, you di mana sih?!"


Miranda melebarkan mata, ya, benar itu adalah suara Tono. Mengapa pria itu ada di sini? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya seketika. Secepat kilat ia memakai pakaian lalu keluar dari kamar.


"Tono!" panggil Miranda saat melihat Tono celingak-celinguk di ujung lorong.


Tono menoleh sambil melompat kegirangan seperti orang yang sedang memenangkan lotre. Secepat cahaya melintas pria kemayu itu berlarian, menghampiri Miranda dan memeluknya sejenak.


"Tono, kenapa kamu ada di sini?" tanya Miranda penasaran.


"Hihi, suami you yang nyuruh eyke ke sini, asal you tahu dia bilang eyke bakalan jadi bodyguard you selama suami you pergi keluar kota." Tono cenggenesan sambil menyikut lengan Miranda.


Tono mengangguk. "Mir, Alfredo nggak kasi tahu you, kalau mau pergi?"


Miranda menggeleng pelan.


"Mir, are you okay? Kok you sedih?" Tono melihat ekspresi wajah Miranda berubah sendu dalam sekian detik.

__ADS_1


Enggan menyahut, Miranda memilih menuntun Tono turun ke lantai bawah dan mengajaknya makan cemilan yang dibuatkan koki. Semenjak hamil, ia suka sekali menyantap makanan manis.


"Mir, you kenapa sih? Kok malah ngelamun? Cerita dunk sama eyke?" Tono menyentuh tangan Miranda sekilas kemudian menyomot cookies coklat di atas piring.


"Aku nggak kenapa-kenapa kok, kurang enak badan saja." Miranda mendesah pelan sambil menelisik keberadaan Rikardo yang ternyata belum juga pulang ke rumah. Dan baru saja teringat jikalau di hari pertama bersekolah putranya ada pelajaran tambahan.


Tono membalas dengan beroh ria sambil mengambil lagi cemilan di depan matanya.


"Hmm, kamu tahu berapa lama Alfredo kesana?" tanya Miranda, penasaran.


"Nggak salah eyke sebulan deh!"celetuk Tono lalu mengunyah cepat cookies.


Lama! ucap Miranda di dalam hati dengan menampilkan mimik muka sedih.


"You kenapa? Rindu ya? Ayo? Hihihi." Tono menebak jika Miranda mulai jatuh hati pada Alfredo. Lagipula itu hal yang wajar, siapa yang tak akan menyukai Alfredo. Pria dengan sejuta pesona walaupun kepribadiannya dingin dan cuek tapi Alfredo masuk dalam kategori pria idaman bagi kaum hawa.


"Nggak!" kilah Miranda dengan menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata Tono yang bisa saja membaca isi otaknya sekarang.


Sementara Tono langsung tertawa keras mendengar kebohongan temannya sambil memegang perutnya.

__ADS_1


Al, kenapa kamu jahat? Telepon atau sms saja nggak, setidaknya berpamitanlah padaku terlebih dahulu.


Miranda mendengus, melihat Tono malah semakin tertawa terbahak-bahak sekarang.


__ADS_2