
"Saat Frans tiba di kantornya, semua orang yang ada disana terpana dengan penampilan barunya. Bahkan satpam yang biasanya akan mengikuti mobil Tuanya itu kini hanya berdiri seperti patung. Dia masih ragu apakah itu Tuanya atau orang lain. Jika benar, mengapa hari ini Tuanya pergi menggunakan motor. Sementara Reino lebih dulu sampai kekantor menggunakan mobil Tuanya sendiri. Sama seperti satpam dan beberapa petugas
kebersihan kantor yang terpana dengan kehadiran Frans, kini giliran resepsionisnya yang terkejut hingga menjatuhkan kaca make upnya tanpa dia sadari.
" Apa yang kalian lihat? beginika cara kerja kalian selama ini huh?" Frans bisa melihat raut wajah karyawan-karyawannya bengong hari ini.
"Eh, Pak. Maaf! " Para karyawan tersebut langsung menyimpan peralatan make up mereka ketakutan saat tahu ternyata pria itu beneran pemimpin mereka
"Frans langsung menuju ke lift khusus pimpinan. Dia menelfon Reino untuk meminta karyawannya untuk berkumpul di aula kantor. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Tidak boleh ada yang tinggal, semua karyawan harus ada semua disana termasuk OB, satpam dan yang bekerja di pantry.
" Frans yang tiba lebih dulu menatap tajam karyawannya. Dia sangat tidak suka dengan karyawan yang bergerak lambat.
"Sebelum Frans memulai pidatonya, semua karyawan berbisik-bisik apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Frans. Mereka sangat penasaran, apalagi gaya pimpinan mereka hari ini sangat membuat mereka ingin menanyakan banyak pertanyaan. Hanya saja mereka tidur punya keberanian untuk menanyakan itu semua. Bisa-bisa mereka di pecat saat itu juga jika salah mengeluarkan suara.
" Kalian tahu mengapa kalian aku panggil kemari? "Tanya Frans.
" Tidak pak. "Jawab mereka serempak.
" Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian hari ini, dan aku mohon tidak ada yang merusak apa yang telah akan aku putuskan. Dan jika kalian berusaha untuk merusaknya,maka kalian akan tahu sendiri apa akibatnya. Saya paling tidak suka di tusuk dari belakang. "Kata Frans.
" Tidak ada yang berani bersuara. Mereka hanya berani mengangguk dan tidak berani menatap tatapan menusuk dari Frans.
"Aku tidak akan memecat kalian jika kalian tidak melakukan kesalahan. Bagiku kesalahan sekecil apapun tetap kesalahan karena jika dibiarkan maka akan menyebabkan kehancuran bagi perusahaan yang sudah aku bangun dari nol. " Kata Frans.
"Aku tidak melarang kalian memakai make up. Hanya saja aku tidak suka kalian memakai make up ketika sedang jam kerja. Apalagi jika nanti ada tamu atau klien penting yang datang. Apakah itu saja kerja kalian? Saya menuntut kalian untuk profesional, karena gaji yang kalian terima dari perusahaan ini tidak sebanding dengan perusahaan lainnya. " Lanjut Frans
"Frans menatap satu persatu karyawannya.
" Saya meminta kalian untuk tidak mengurus urusan pribadi saya.Mau saya berpenampilan seperti apa, bergaul dengan siapa, itu urusan saya. Kalian urus saja pekerjaan yang akan kalian serahkan kepada saya. Mengerti?" Frans menjelaskan inti pesan yang ingin dia sampaikan.
"Untuk para tamu yang ingin berjumpa dengan saya tolong kalian tahan sebelum melapor kepada sekretaris atau asisten pribadi saya. Dan saya juga tidak menerima tamu yang bernama Teena kapoor. " Jelas Frans.
Setelah mengatakan hal tersebut, Frans meninggalkan ruangan aula dan kembali ke ruangannya. Frans kembali menatap wajah Fanya yang ada di galeri fotonya. Dia berdiri mematung memandang lagit mengingat hari-hari yang telah dia lalui dengan Fanya. Tanpa dia sadari dia meneteskan air mata mengingat perlakuan kasar dan tidak kepeduliannya terhadap Fanya. Dia sungguh menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Andai saja dari awal dia mendengarkan Reino dan Ayahnya, mungkin saat ini dia adalah lelaki yang paling bahagia. Reino yang melihat keadaan Tuanya menjadi ikut-ikutan sedih. Dia tidak menyangka sesedih itu jika patah hati.
"Tuan, ada berkas yang harus Tuan tanda tangani. " Kata Reino membuyarkan lamunan Frans.
"Letakkan di atas meja. " Kata Frans tanpa menoleh.
"Oya, kata Michael, hari ini Tuan ada meeting dengan Tuan Danu dari mentari grup. " Kata Reino.
"Baik, katakan pada Michael agar mempersiapkan ruang meeting. Jika Tuan Danu mau tolong majukan meetingnya sebelum makan siang. " Perintah Frans berjalan menuju meja kerjanya setelah menyeka air mata yang sempat jatuh.
"Meski di tutupi, Reino dapat melihat Frans sedang menangis tadi. Dapat dia rasakan kesedihan Tuanya itu. Frans mengambil berkas yang tadi diletakkan Reino dan membacanya dengan seksama. Frans adalah orang yang sangat teliti, jadi dia tidak suka jika ada kesalahan sedikitpun dari pekerjaan karyawannya.
" Sudah, jangan lupa katakan pada Michael untuk mereshedule jadwal meeting dengan Tuan Danu. "Perintah Frans.
" Frans menyelesaikan pekerjaannya. Dia memeriksa seluruh laporan dari para karyawannya. Dia tersenyum karena pendapat perusahaannya makin hari makin meningkat. Dia yakin ini semua berkata dari kehamilan Fanya.
Deddy tidak sabar lagi menanti kehadiranmu baby. Deddy mohon agar kamu baik-baik didalam kandungan Mommymu. Jangan buat dia menderita. Buatlah dia sehat dan kuat selalu. "Frans berbicara dengan print out hasil USG Fanya yang dia dapatkan dari Harry.
Setelah melakukan meeting bersama Tuan Danu, Frans pergi dari kantornya menggunakan motor sport kesayangannya menuju boutique Harry. Dia ingin melihat wanita pujaan hatinya.
__ADS_1
" Sesampainya disana, Frans memarkirkan motornya di depan restoran dekat boutique Harry. Dia berniat untuk makan siang disana. Saat dia mengambil tempat didekat pintu masuk, dia melihat kedatangan Fanya dan Harry. Secara tidak sengaja mata mereka bertemu, membut jantung Frans berdebar. Hal yang sama juga yang di rasakan Fanya. Fanya berusaha untuk tersenyum kearah Frans yang bengong menatap Fanya yang makin hari makin cantik dan imut. Rasanya ingin sekali Frans menciumnya. Saat Harry menatapnya, seketika Frans membuang muka. Dia tidak ingin menjadi bahan repetan gadis jadi-jadian itu. Tetapi yang Frans lihat Harry malah tersenyum. Frans bisa menebak jika ada hal yang mengembirakan hari ini.
"Hay, honey, kamu kenapa? Kamu kenal orang itu? " Tanya Harry melihat Fanya hanya menatap kearah Frans.
"Tidak tahu kak. Aku tidak kenal dia, hanya sekilas aku lihat wajahnya mirip dengan kak Frans. Tadi pagi saat aku ingin kekampus, aku melihatnya di lampu merah. Dan sejak saat itu aku sangat ingin membelai wajahnya. " Jawab Fanya.
"What? " Kata Harry terkejut.
"Kakak.Malu ah. "Fanya melu mendengar respon Harry.
" Maaf. "Kata Harry menutup mulutnya.
" Jadi kamu benar mau mebelai wajah pria itu? "Tanya Harry.
" Tapi aku malu kaka. "Fanya menyembunyikan wajahnya.
" Kemari, biar kakak yang meminta izin. "Harry menarik tangan Fanya mengajaknya menemui pria itu.
" Permisi. Boleh kami duduk disini? "Kata Harry menghampiri Frans.
" Silahkan. "Frans mempersilahkan Fanya dan Harry duduk di mejanya.
" Kenalkan namaku Harry dan ini adikku Fanya. "Harry mengulurkan tangannya kepada Frans dengan mengedipkan matanya memberikan kode.
" Juan, Juan Buana. "Jawab Frans yang mengerti kode dari Harry.
" Maaf jika anda kurang nyaman, tetapi saya sangat membutuhkan bantuan dari anda. "Kata Harry yang mulai bersandiwara.
" Apa yang bisa saya bantu? "Tanya Frans dengan ramah.
" Jadi adik saya ini sedang mengandung. Jadi dia ingin membelai wajah anda. Mungkin ini adalah keinginan dari si bayi. "Harry menjelaskan niatnya mendekati pria itu.
" Ah, kok bisa? "Tanya Frans pura-pura tidak mengerti.
" Saya juga tidak mengerti Tuan, tetapi yang namanya orang hamil kan, klau tidak di turuti dia akan menangis. "Ucap Harry.
__ADS_1
" Frans bisa melihat wajah Fanya yang mulai berkaca-kaca. Akhirnya dia menuruti keinginan wanita hamil itu.
"Fanya mulai menangkupkan tangannya kewajah Frans. Dia bisa merasakan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh dari pipinya. Rasanya sangat nyaman. Fanya mulai menelusuri seluruh wajah Frans mulai dari mata, hidung,hingga bibir. Saat dia menyentuh bibir Frans, ingin rasanya mencium bibir itu. Dia seperti melihat Frans di wajah pria itu, namun dia tahu ini adalah halusinasi karena Fanya sangat merindukan Frans. Tidak ingin khilaf, Fanya melepaskan tangannya. Dia menunduk malu tidak mau menatap wajah Frans. Berbeda dengan Frans, hatinya sangat bahagia. Saat-saat seperti inilah yang dia inginkan.
" Sudah? "Tanya Frans.
" Iya, Terima kasih Tuan. Saya mohon maaf jika permintaan saya ini membuat Tuan tidak nyaman. "Kata Fanya malu.
" Aj, sudahlah. Saya tidak apa-apa. Saya mengerti jika itu memang ke mauan dari bayimu. Tetapi aneh saja, masa bayinya ingin membelai wajah saya. Seharusnya kan wajah Ayahnya. "Kata Frans berusaha meyakinkan Fanya bahwa dirinya bukanlah Frans.
" Orang ngidam itu tidak bisa kita tebak Tuan. Bahkan saya pernah ketemu orang hamil yang ingin di elus perutnya sama suami tetangga. "Kata Harry menatap tajam kearah Frans.
" Saya hanya merasa anda mirip dengan suami Saya Tuan. Yah, mungkin itu hanya perasaan saya. "Fanya tidak berani melanjutkan ucapannya lagi.
" Saya ucapkan banyak terimakasih Tuan, saya doakan semoga apa yang Tuan inginkan bisa tercapai. "Kata Harry meninggalkan Frans sendiri.
" Frans hanya melihat Fanya berlalu sementara matanya mulai berkaca-kaca.
"Are you oke, honey? " Tanya Harry yang bisa melihat kesedihan dimata Fanya.
"I'm ok kak. Aku tidak apa-apa. Yuk kita lanjut makan. " Kata Fanya.
Mereka akhirnya makan dalam diam.
Setelah makan, Frans memilih untuk kembali kekantornya, sementara Harry dan Fanya berencana meninjau boutique Fanya seperti janji mereka semalam. Mereka mengambil jalan yang sama. Menyadari hal itu, Harry tiba-tiba memutar balik mobilnya mengatakan ada yang tertinggal. Padahal dia melihat motor Frans di depannya saat Fanya asyik memainkan handphonenya. Dia tidak ingin penyamaran yang telah direncanakan sebaik-baiknya harus kacau di minggug pertama.
"Kamu tunggu didalam mobil saja, kakak mau ambil designnya dulu. " Harry berbohong, padahal designer tempat yang sudah dibuat oleh fanya ada di dalam mobilnya.
Setelah di rasa cukup lama, Harry akhirnya kembali kemobil.
"Dapat kak? " Tanya Fanya.
"Dapat, ternyata kakak letakkan diantara design-design pakaian. " Harry berbohong.
"Mereka akhirnya pergi ketempat yang akan di jadikan boutique. Tidak lupa Harry berpesan kepada Frans untuk tetap saja di dalam gudang karena dia tidak ingin Fanya melihat Frans keluar masuk kedalam gedung tersebut.
" Hmmm... Gedungnya cantik. "Fanya mengagumi arsitektur gedung tersebut saat dia melihatnya.
" Mereka kemudian menghampiri tukang yang sedang merenovasi tempat tersebut. Fanya mulai menunjukkan design interior yang dia inginkan. Dia juga memberi tahu beberapa hal penting yang ingin dia siapkan untuk boutique barunya itu. Sementara Frans tersenyum melihat betapa antusiasnya Fanya ingin merubah tempat tersebut menjadi boutique terindah dan ternyaman di kota jakarta.
__ADS_1
"Bagaimana Frans bisa tahun aktifitas Fanya disana? Ya, dia telah memasang mini cam dan CCTV disetiap sudut boutique, tersambung langsung dengan HP dan monitor di kantornya agar dia bisa mengawasi Fanya dari kejauhan. Kini Fanya benar-benar mengalihkan dunia Frans. Dia berubah menjadi singa jinak yang akan patuh kepada pawangnya, yaitu Fanya.