Cinta Setelah Sah

Cinta Setelah Sah
Kemarahan Frans


__ADS_3

"Setelah menelfon Ayah Wijaya, perasaan Fanya lebih menjadi baik, Wijaya menyarankan agar Fanya tetap melanjutkan kuliahnya secara online. Tentang Frans, Agar Fanya bisa menjaga waktu dan tetap memperhatikan kebutuhan Frans, maka hal itu tidak akan mengganggu. Kebetulan hari ini adalah jadwal belanja bulanan, Fanya akan memanfaatkan hari ini untuk dapat kekampus menguras kuliah onlinenya. Frans pasti tidak curiga apalagi jika dia pergi bersama Andre, Pelayan di rumahnya.


Kini Fanya dan Frans makan berdua tanpa adanya Wijaya. Suasana begitu hening karena tidak ada satupun yang memulai berbicara. Frans yang menyelesaikan sarapannya lebih cepat dari fanya langsung meninggalkan ruang makan tanpa sepatah katapun. Bisa kamu bayangkan, hidup satu atap, satu ruang dan satu ranjang tetapi bagaikan orang asing. Fanya yang merasakan dinginnya sikap Frans, hanya bisa berdoa agar takdir hidupnya bisa berubah bahagia. Meski dia tidak tahu apakah dia mampu atau tidak, tetapi dia akan selalu berusaha agar tidak memancing amarah Frans.


"Pak, saya siap-siap dulu ya. "Fanya pamit pada Andre yang sedang membersihkan meja makan.


" Andre hanya mengangguk dan tersenyum. Fany kemudian langsung naik keatas untuk bersiap-siap. Tidak lupa dia mengambil berkas-berkas yang dia butuhkan untuk kuliahnya. Meskipun Frans adalah pria yang kamu dan dingin, tetapi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan Fanya, tidak pernah dia tahan. Setiap bulan dia selalu mengirimkan uang kerekening yang khusus dibuat untuk Fanya. Tetapi uang itu hanya sebatas untuk kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan Fanya, tidak lebih. Karena Fanya bukanlah wanita yang suka menghambur-hamburkan usng, maka dia bisa menyisihkan uang tersebut untuk kebutuhan kuliahnya nanti. Dia akan menghemat, sehemat-hemat mungkin. Jika dulu ada pamannya yang membiayai kuliahnya, maka sekarang dia harus berusaha sendiri.


"Ayo pak! " Ajak Fanya.


Mereka masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh pak Manav, supir yang ditugaskan membawa Fanya keluar. meskipun begitu, Fanya hanya bisa keluar saat kebutuhan mendesak dan itu semua ada hubungan dengan kebutuhan rumah dan Frans, selebihnya Fanya tidak boleh pergi kemana-mana. Apa gunanya jadi Nyonya Wijaya, jika hidup bagaikan dipenjara. Untung yang jadi istri Frans adalah Fanya, coba kalau Shaza, pasti sudah ingin melarikan diri.


"Pak, nanti kita kekampus sebentar ya. Saya ingin mengajukan kuliah online. Saya tinggal menyelesaikan semester akhir dan skripsi , jadi sayang jika tidak dilanjutkan. " Kata Fanya pada pak Andre.


"Baik Nona, tetapi apakah Nona sudah minta izin pada tuan? " tanya Andre.


"Kemarin saya sempat membicarakan ini dengan Frans, tetapi tidak ada tanggapan darinya. Maka dari itu saya mengambil kesempatan hari ini untuk menyelesaikannya. Tidak lama, karena saya sudah lebih dulu menghubungi dosen saya. Dan saya mohon kepada pak Manav dan pak Andre tidak mengatakan hal ini kepada Frans.'Jawab Fanya.


" Baiklah, Nona saya hanya berharap agar Nona tidak berbuat sesuatu yang memancing amarah tuan. "Kata Andre.


" Akan selalu saya ingat pak. Saya juga ingin hidup damai meskipun tidak ada komunikasi di antara kami. "jawab Fanya.


" Baiklah, kita antar Nona Fanya bertemu dosennya."Pinta Andre pada Manav yang di anggukkan oleh Manav.


Setelah selesai berbelanja. Pak Manav memasukkan barang-barang kebagasi di bantu oleh pak Andre. Mereka menyempatkan makan di restoran asia yang letaknya tidak jauh dari kampus Fanya. Fanya adalah gadis yang baik tidak heran jika selama ini jika pelayan di rumahnya mengagumi sosok ini. Mereka berharap jika pernikahan Fanya dan Frans bisa awet selamanya. Fanya tidak pernah membedakan status diantara mereka. Dia juga loyal dan ramah kesemua orang. Setelah membayar makanannya, Fanya meminta pak Manav untuk segera mengantarkannya kekampus sebelum jam makan siang. Dia tidak ingin jika ada yang melihat dia keluyuran diluar dan melaporkannya kepada Frans. Tidak perlu lama bagi Fanya mengurus segalanya. Bebanar, karena Fanya adalah mahasiswa teladan, semua dipermudah oleh pihak kampus. Dosennya bahkan meminta Fanya untuk mengikuti ajang kompetisi designer tingkat internasional secara virtual. Dia cukup mengirim hasil rancangan dan deskripsi rancangannya disertai dengan vidio animasi. Fanya menerima tawaran tersebut dengan hati senang. Apapun yang bisa dikerjakan secara online akan dia lakukan.Apalagi dia hanya duduk dirumah tanpa melakukan apapun selain memasak dan menyiapkan keperluan Frans.


"Niat hati ingin cepat sampai di rumah, ternyata keadaan berbali dari harapan. Saat mobil yang ditumpangi Fanya meninggalkan pekarangan kampus, tidak sengaja melihat keributan di depan restoran Jepang tepat di depan kampusnya. Karena penasaran, Pak Manav menepikan mobilnya dan mencari tahu ap yang terjadi. Pak Andre yang awalnya tidak ingat peduli juga merasa penasaran dengan kejadian tersebut. Fanya hanya duduk diam diam mobil, dia tidak suka kepo dengan masalah orang lain.


" Kakak ipar, tolong kak. Mereka mengatakan saya pencuri. Padahal saya juga pelanggan. "Ternyata Shaza dan teman-temannya memiliki masalah dengan pemilik restoran, berusaha merayu Frans.


" Tuan, anda tidak ada urusan dengan kami. Wanita ini telah berbuat onar di tempat kami. Dia ingin mencelakakan salah satu pelayanan kami dan tidak ingin membayar tagihan makanan yang telah dia makan., "kata menejer restoran tersebut.


Frans yang sedang meeting dengan klien saat itu merasa dipermalukan. Terlebih lagi ada anak buah Papanya Rachel yang sedang membeli makanan di restoran itu. Tampa aba-aba, ShazA langsung kemeja Frans untuk meminta bantuan. Yang lebih menjengkelkan dia langsung memeluk Frans tanpa izin. Frans sangat membenci hal itu. Dia membandingkan Shaza dengan Fanya. Ia, Fanya adalah istri sahnya, meskipun mereka tidur seranjang, tetapi Fanya tidak pernah menyentuhnya meski tanpa sengaja. Fanya hanya mencium tangannya ketika Frans pergi atau pulang kerja, lebih dari itu, Fanya memilih jaga jarak dengan Frans.


" Reino, bawah wanita ini jauh-jauh. "Pinta Frans marah.

__ADS_1


" Kakak ipar, kakak tidak bisa begitu. Saya adalah keluarga kaka, apa kakak tega jika saya dipermalukan keluarga kakak didepan kakak. Shaza masih melawan saat tangannya ditarik oleh Reino.


"Meeting kita di lanjutkan di kantor saya saja, tanpa menoleh kearah Shaza, Frans langsung meninggalkan restoran tersebut.


Shaza yang sejak dari tadi memohon belas kasihan Frans menjadi sangat marah. Apalagi ketika diseret oleh satpam.


Mobil Fanya masih terparkir diseberang restoran tersebut. Tanpa sengaja, Frans menoleh dan melihat Fanya didalam mobil dengan jendela terbuka. Dia juga melihat Andre dan Manav menyeberang jalan. Frans menyuruh supirnya untuk pulang kerumah. Dia ingin meluapkan kemarahannya kepada Fanya.


Sesampainya dirumah, Fanya terkejut melihat Frans sudah duduk diruang tengah. Dengan ekspresi wajah yang sulit untuk ditebak.Fanya memilih masuk kedapur membawa barang-barang yang di belinya.


" Fanya, kemari kau? "teriak Frans kasar.


Fanya yang sudah tahu apa kesalahannya, hanya bisa menghela nafasnya. Dia bisa memprediksi apa yang akan terjadi sekarang.


" Darimana saja kau? "Tanya Frans dengan sangat lantang.


" A...aku dari supermarket. Membeli kebutuhan bulanan. "Fanya menjawab dengan wajah menunduk.


" Katakan dengan jujur. Apakah supermarket sudah pindah kejalan lain? "Tanya Frans lagi.


Andre yang mendengar amarah dari tuanya menjadi sangat takut. Dia merasa kasihan kepada Fanya. Gadis itu telalu baik untuk di marahi.


" Kamu tahu akibat jika kamu berbohong, "bentak Frans.


" Saya tidak berbohong, saya benar-benar tidak melanggar aturan yang tuan buat. Iya, saya kekampus untuk mengurus kuliah online saya tetapi hanya sebentar, "jawab fanya jujur.


" Saya tidak butuh penjelasan dari kamu. Andre, bawah dia ke ruang belakang. Kurung dia dan jangan beri dia makan selama dua hari, "Perintah Frans.


" Tuan saya mohon, saya tidak melakukan kesalahan. Bukankah kemarin saya sudah minta izin pada tuan mengenai kuliah online saya. Saya mohon maafkan saya tuan. Fanya memohon, namun keputusan Frans tidak ada yang bisa melanggarnya.


Dengan terisak Fanya diantar Andre kekamar yang ada dibelakang rumah itu. Kamar itu sangat sempit dan hanya ada satu tempat tidur lajang serta kamar mandi yang hanya muat satu orang. Fanya masih nangis membuat Andre tidak tega. Tetapi dia juga tidak ingin melanggar ketentuan dari bosnya. Andre berbisik kepada Fanya bahwa dia akan menjaga dan merawatnya dua hari ini dengan catatan agar bisa merahasiakan dari Frans . Fanya sangat berterima kasih kepada Andre karena masih menyayanginya.


Frans yang sudah terlanjur marah masuk keruang kerjanya. Hari ini dia benar-benar marah. Dia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dirumah. Tidak lama kemudian, handphonenya berbunyi. Frans melirik dan dengan jelas dia melihat nama Ayahnya terpampang disana.


"Halo Yah! "Jawab Frans malas.

__ADS_1


" Frans, kamu dimana?


Apakah Fanya bersamamu? Ayah telfon dia tidak aktif, "Tanya Wijaya.


" Ayah menelfon saya hanya menanyakan gadis yang tidak berguna itu? "Tanya Frans marah.


" Frans, Fanya itu istrimu, mengapa kamu mengatakan dia tidak berguna. Bahkan semua kebutuhanmu selama ini dia yang siapkan. "Kata Wijaya.


Aku mengurungnya dikamar belakang, " Jawab Frans cuek.


"Frans, dia istrimu. Salah apa dia hingga kamu siksa dia. Cepat panggilkan dia, Ayah mau bicara. " Pintah Wijaya.


"Ayah, dia bukan gadis baik-baik. Buktinya dia malah keluyuran kekampus padahal aku sudah melarangnya, " Jawab Frans.


"Frans, kekampus itu bukan berarti dia gadis murahan. Tetapi justru karena dia gadis berpendidikan. Dia hanya ingin mengurus kuliah onlinenya. Jadi apakah itu salah? Ayah tidak mau tahu, cepat kamu bebaskan dia, kalau tidak sekarang juga Ayah akan keindonesiaan. " Ancam Ayah.


"Satu orang yang tidak bisa dibantah Frans adalah Ayahnya Wijaya. Wijaya adalah orang yang bisa meredam amarah Frans. Dengan frustasi Frans memanggil Andre untuk melepaskan Fanya. Ketika melihat Fanya, Frans menyerahkan handphonenya karena Wijaya masih menunggunya di seberang sana.


" Awas jika kamu berani mengadu kepada Ayah, "Ancam Frans.


" Fanya berbicara dengan tenang agar Wijaya tidak curiga. Setelah selesai, Fanya memberikan handphone Frans kembali. Fanya kembali kedapur untuk menyiapkan makanan siang untuk Frans. Frans kembali keruang kerjanya. Saat itu Reino datang dan melihat raut wajah Fanya seperti baru saja selesai menangis.Dia yakin jika tuanya melupakan amarahnya kepada Fanya.


"Saat makan siang, Fanya memilih untuk tidak duduk dimeja makan melainkan didapur bersama para pelayan.


" Panggilkan dia, "Perintah Frans kepada Andre.


" Baik, Tuan, "Jawab Fanya.


Fanya menarik kursi didekat Frans. Dia masih menundukkan wajahnya karena tidak berani menatap Frans.


" Kali ini kamu kumaafkan.Tetapi jika sekali lagi kamu melakukan kesalahan, maka jangan harap kamu akan kampung. "Frans memulai pembicaraan.


" Aku mengerti. Aku minta maaf. "Jawab Fanya.


" Jika kamu melanggar, kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih daripada ini. "Ancam Frans dan meninggalkan Fanya sendiri.

__ADS_1


Fanya pasti tahu apa yang akan menimpanya jika dia melanggar, tetapi Fanya juga tidak suka di perlakukan seperti ini, hanya karena kesal dengan sikap Shaza, dia melupakan amarahnya kepada Fanya. Fanya tahu kejadian itu dari Andre saat memanggilnya dari kamar sumpek tadi.


__ADS_2