
"Seperti biasa, Fanya bangun sebelum Frans terbangun. Dia langsung membersihkan diri dan turun kedapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kerja Fanya sangat cekatan, rasanya juga sangat lezat. Sejak ada Fanya, Andre dan beberapa pelayan lainnya merasa bahagia karena mereka mendapatkan jatah makan yang sama dengan majikannya. Fanya yang sangat ramah tidak pernah membedakan mereka, bahkan Fanya lebih sering bergabung dengan mereka di dapur atau di taman menemani mereka bekerja. Suasana dirumah itu menjadi sangat berwarna, meski harus redup saat Frans ada di rumah. Fanya merasa nyaman karena banyak orang yang menghormati dia, meskipun tidak di anggap istri oleh Frans.
"Frans sudah lengkap dengan jas kerjanya, Wijaya juga sudah siap ingin kembali ke Singapura. Tidak ada yang berani membuka suara di meja makan. Semua makan dalam diam. Ketika Frans sudah selesai dan siap-siap berangkat kantor, terdengar keributan di luar rumah. Frans memerintahkan Andre untuk melihat apa yang terjad. Ternyata Shaza, dan ibunya Rina sedang berseteru dengan salahsatu security dirumah tersebut. Rina memaksa masuk kedalam rumah saat security memintanya untuk bersabar. Frans yang melihat adegan itu sangat marah
" Apa kalian tidak diajarkan sopan santun, hah? "Teriak Frans marah.
" Menantu, mengapa kamu bersikap seperti itu. Saya orang tua Fanya, seharusnya kamu lebih hormat. Rina membuka suara.
"Iya kakak ipar, kami hanya ingin menjenguk kakak kami. Mengapa kami dilarang masuk, bukankah kita sudah menjadi keluarga? " Rengek Shaza.
"Kalian benar-benar tidak tahu malu. Bertamu dijam segini? Apa kalian sudah tidak waras? "Frans makin marah melihat mereka berdua.
" Sudahlah,kendalikan dirimu. Tidak baik kamu bersikap seperti ini. "Wijaya memberikan nasehat kepada Frans.
" Ayah tidak lihat, bertamu di pagi buta dan membuat keributan. "Jawab Frans lalu meninggalkan mereka.
" Fanya apakah kamu tidak mengizinkan tante dan Shaza masuk ? "Rina mulai merayu Fanya.
" Tante maaf, aku tidak bisa membuat suamiku makin marah. Lebih baik tante tunggu disini sebentar ya, sampai Frans pergi. "Pinta Fanya.
"Kamu tega Fan. Masa keluargamu datang cuman disuruh duduk di luar. " Shaza mulai bicara.
"Tante,Shaza, tolong mengerti. Saya bukan tidak mengizinkan kalian masuk. Tetapi saya juga tidak bisa melawan perintah suami. Ini rumahnya, bukan rumah Fanya. Jadi saya harap, tante ngerti ya!"lanjut Fanya.
" Fanya,Wijaya kemudian menyusul Frans kedalam. Sementara, Shaza dan Rina masih harus menunggu di luar. Mereka tampak kesal karena gagal sarapan bersama Frans. Belum lagi selesai masalah Shaza dan ibunya, kini Rachel dengan lantangnya memarkirkan mobil mewahnya di samping mobil Frans.
"Siapa lagi itu,? Tanya Wijaya.
" Itu pasti Rachel, ngapain cewek nghak benar itu kemari? "Jawab Frans kesal.
" Fanya dan Wijaya hanya diam saja. Mereka tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi Frans. Fanya tidak ingin menjadi samsak kemarahan Frans. Dia memilih untuk kedapur dan bergabung dengan para pelayan yang sedang menyelesaikan tugas-tugas mereka.
"Sementara Rachel yang melihat Frans keluar langsung memeluknya dengan erat.
"Lepaskan! "Frans menyentak tangan Rachel dengan kasar.
" Sayang, mengapa kasar begini, Aku hanya ingin menjengukmu. Apa aku salah? Bukankah kita akan menikah? "Rachel sengaja meninggikan suaranya agar semua orang mendengarnya.
" Menyingkir atau kusingkirkan dengan paksa! "Frans mulai marah.
" Frans, kamu tidak bisa bersikap seperti itu. Kita sudah di jodohkan. Bahkan kamu sudah menandatangani surat perjanjian Jika kamu akan menikah denganku. Jika tidak kamu akan tahu apa yang bisa Ayahku perbuat kepadamu! "Rachel mengancam Frans.
" Frans menjadi frustasi. Dia mencoba mengingat kapan dia menandatangani surat perjanjian menikah. Dia merasa ada yang aneh dalam hal ini.
"Aku akan berangkat kekantor, jika kamu masih ingan di sini silahkan masuk dan duduk diruang tamu, nanti ada pelayan yang akan melayani kamu. " Kata Frans dan pergi meninggalkan Rachel.
"Rachel yang merasa jengkel di tinggal oleh Frans memilih untuk pergi dari sana. Tetapi Rachel tersenyum smirk, mengingat Frans mulai terkecoh dengan surat perjanjian nikah itu. Rachel tinggal menyusun rencana yang lebih matang agar bisa menjadi Nyonya Wijaya. Impian semua wanita.
" Sementara Fanya menyusul Wijaya yang sedang berkemas.
"Ayah yakin akan berangkat hari ini? " tanya Fanya
"Iya, Fan. Ayah akan kembali ke Singapura. Pekerjaan Ayah banyak yang tertunda sejak Ayah disini. Kamu jaga diri baik-baik. Ingat, Apapun yang terjadi kamu harus kuat mendampingi Frans. Dia sebenarnya anak yang baik, hanya saja kekurangan kasih sayang dari mamanya membuat Frans menjadi manusia egois dan arogan. Tetapi Ayah yakin dengan kasih sayang dan perhatianmu, Frans akan luluh dan tunduk padamu. " Wijaya menasehati Fanya sambil membelai rambut indah Fanya.
"Baik Ayah. Fanya akan berusaha bertahan sekuat mungkin untuk berada di samping Frans. Fanya akan pergi jika Frans yang memintanya. " Jawab Fanya.
"Satu lagi. Plakor mungkin akan mencoba merusak hubunganmu dengan Frans. Berusahalah sekuat tenaga untuk mendepak mereka dari kehidupan Frans. Dan railah hati Frans agar dia bisa mencintaimu seorang. "Sambung Wijaya.
__ADS_1
" Baik Yah. Ayah jaga diri baik-baik, Jika Ayah kesepian, Hubungilah aku. Aku akan menjadi pendengar yang budiman bagi Ayah. Kata Fanya sambil tersenyum.
"Sudah pasti menantuku.Ayah pergi ya! " Pamit Wijaya masuk kedalam mobil untuk diantar kebandara
Wijaya melambaikan tangannya kepada Fanya. Senyum Fanya yang teduh dan tulus membuat Wijaya semakin menyayangi menantunya itu. Dia yakin Frans akan jatuh cinta kepada kelembutan dan sikap Fanya. Jika Frans berfikir klau Fanya adalah cewek yang menginginkan Hartanya, maka Frans salah besar. Hidup seminggu lebih dengan Fanya, Wijaya bisa melihat jika Fanya adalah wanita baik-baik
Ketika mobil yang mengantar Wijaya menghilang dari pandangan, Fanyapun melangkah masuk kedalam rumah.Hari ini dia ingin menghubungi pihak kampus untuk meminta izin agar bisa mengikuti kuliah online seperti yang disarankan oleh Wijaya. Wijaya berjanji akan menanggung biaya kuliah Fanya hingga selesai. Meski awalnya Fanya menolak, tetapi akhirnya dia setuju karena uang yang akan diberikan Wijaya itu adalah uang jajannya. Sehingga dari uang jajan tersebut, Fanya bisa mengumpulkan untuk dibayarkan kekampus. Sedangkan untuk biaya hidupnya, sudah di biaya oleh Frans. Fanya hanya perlu mengikuti semua yang diperintahkan Frans, maka hidupnya akan baik-baik saja.
Dikantor, Frans memanggil Reino dengan perasaan marah.
"Coba kamu cek isi perjanjian kerja dengan tuan Robert,Ayah Rachel, " Perintah Frans.
"Baik tuan, Reino kemudian pergi membuka sebuah brankas yang berisi dokumen-dokumen penting perusahaan.
" Tidak ada yang aneh tentang perjanjian ini tuan, isinya hanya tentang kerja sama dan sistem bagi hasil. Apakah ada yang mengganggu anda tuan? "Tanya Reino.
" Mengapa perempuan murahan itu menyebutkan tentang perjanjian nikah? "Frans mulai berfikir.
Coba kamu baca lebih teliti, Apakah ada yang memberatkan aku? "Lanjutnya.
Reino membaca dokumen itu dengan seksama. Dia mengerutkan keningnya.
" Tidak ada tuan. "Reino menjelaskan.
" Apakah pada saat pertemuan tuan Robert di miami bulan lalu, Tuan menandatangani surat lainnya? Apakah Tuan ingat sesuatu? "Reino menambahkan.
" Kamu benar, Tapi di saat itu aku tidak mengingat Apa-apa. Aku mabuk berat saat itu.Apakah kamu ingat kejadian itu? "Tanya Frans pada asistennya.
"Bukankah saat itu hanya ada Tuan, Tuan Robert,Nona Rachel dan Ibunya? Bukankah saat itu aku tidak di izinkan masuk? Jelas Reino.
"Kamu benar, mereka telah menjebakku.Aku harus menemukan bukti kejahatan mereka agar mereka tidak memanfaatkanku. " Jelas Frans dengan geram.
"Semakin cepat semakin baik,. Aku tidur mau berhubungan dengan pembohong. "Jelas Frans.
" Reino mengangguk dan meminta izin keluar dari ruangan Frans untuk bertemu dengan anak buahnya membahas masalah Tuanya saat ini. Lagi-lagi Rachel masuk keruangan Frans tanpa izin.
"Sayang, kamu pasti lapar kan? Ayo kita makan? " suara Rachel yang sok manja itu membuat muka Frans merah menahan amarah.
"Apakah kamu tidak diajarkan sopan santun, hah? Tanya Frans marah.
" Sayang, mengapa kamu bicara seperti itu? "Rachel makin memancing amarah Frans.
" Saya bukan sayang kamu.Saya adalah suami orang, jadi berhenti memanggil saya dengan sebutan itu. "Tegas Frans.
" Tiba-tiba Reino masuk di ikuti oleh Fanya. Hari ini Fanya berencana mengantarkan makanan Favorit Frans kekantor. Dia ingin meminta izin mengikuti kuliah online, dia tidak ingin membuat masalah dengan Frans, jadi sebelum dia memulai, lebih baik dia meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu. Fanya tertegun melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang. Dari belakang terlihat jika Rachel sedang memeluk Frans. Hati Fanya sedikit teriris, namun dia sadar jika dia tidak boleh punya perasaan apapun dengan Frans. Dia hanya berstatus istri Frans, bukan istri yang sebenarnya. Dia menghela nafasnya, namun dia teringat akan pesan Ayah Frans bahwa dia harus menyingkirkan plakor yang berencana mengacungkan rumah tangganya, apalagi Frans tidak pernah mengajukan kontrak dengannya. Selagi Frans tidak meminta Fanya untuk pergi, maka dia harus mempertahankannya.
"Wow, pemandangan yang sangat mengejutkan. Fanya memberanikan diri untuk bicar.
" Frans yang melihat Fanya datang langsung menyingkirkan tangan Rachel dari bahunya. Fanya yang terlanjur berkata menjadi ragu-ragu untuk melangkah. Dia takut memancing amarah dari Frans. Tetapi semuanya terdiam, Fanya memberanikan untuk maju dan menyalami Frans. Dia tidak berani membuat lebih, Tetapi tanpa diduga Frans malah memeluk Fanya. Tentu saja Fanya menjadi gugup. Sejak menikah, jangankan di peluk, dilirik saja jarang oleh Frans. Dia yakin Frans merencanakan sesuatu di depan Rachel.
"Kamu dengan siapa kemari, sayang? "Tanya Frans dengan sangat lembut.
Fanya membulatkan matanya heran, namun dengan cepat dia menormalkan suasana hatinya yang sedang tidak karuan mendapatkan perlakuan manis dari Frans.
" Aku tadi diantar pak manav. "Jawab Fanya.
"Kamu belum makan kan? " aku bawakan makanan kesukaan kamu, iya bakar. "Fanya melepaskan diri dari pelukan Frans.
__ADS_1
Fanya berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya didepan semua orang. Dia hanya mengikuti drama yang sedang dimainkan Frans. Saat Fanya menata makanannya diatas meja, tiba-tiba Frans memeluknya dari belakang dan berbisik,
" Terima kasih sudah membantuku dari masalah Rachel, tetapi aku ingatkan, jangan pernah berharap jika ini nyata. Perkataan Frans cukup menekankan bahwa ini hanyalah drama.
"Aku cukup tahu diri tuan Frans Wijaya. Tidak akan pernah ada cinta dalam pernikahan ini. Anda jangan khawatir. " Fanya menjawab dengan sangat pelan. Mereka tampak seperti pasangan yang saling mencintai.
Melihat semua itu, Rachel menjadi sangat marah.
"Fanya, kamu bisa berbahagia sekarang. Tapi tidak lama lagi aku pastikan kamu akan menangis darah saat Frans meninggalkan kamu dan memilihku. Dan kamu harus ingat Frans, kamu tidak akan bisa lepas dariku. " Rachel keluar dan membanting tasnya pada sebuah vas bunga yang ada didekatnya hingga Vas tersebut pecah.
"Melihat Rachel pergi, Frans melepaskan pelukannya pada Fanya dan kembali kemeja kerjanya. Reino yang melihat vas pecah, kemudian keluar memanggil cleaning services. Wajah Frans kembali berubah dingin.
"Untuk apa kamu kemari? "Tanya Frans tanpa memandang Fanya.
" Aku kemari untuk meminta izin padamu, "jawab Fanya tak kalah ketusnya.
" Kamu mau kemana?ingat, kamu hanya boleh duduk di rumah. Tidak boleh ke mana-mana kecuali aku yang menyuruhmu. jawab Frans.
"Aku tidak akan kemana-mana tanpa izin darimu. Aku hanya ingin melanjutkan kuliahku secara online. " Jawab Fanya.
"Untuk apa kamu melanjutkan kuliahmu? kamu adalah Nyonya Frans Wijaya, tidak kuliahpun kamu akan terkenal. " jawab Frans tidak masuk akal.
"Aku juga punya mimpi Tuan Frans. Dan aku ingin mewujudkannya, " jawab Fanya.
"Ingat paman kamu punya hutang denganku. Dan kamu adalah alat pelunas hutang itu. Jadi aku tidak akan membiayai kuliahmu. Jadi jangan berharap jika aku tidak akan pernah marah denganmu aku luluh padamu. Jawab Frans.
" Aku tidak akan meminta uang darimu untuk biaya kuliahku. Aku punya tabungan saat Aku masih bersama paman dulu. Aku hanya meminta Izin darimu buka untuk meluluhkan hatimu. Aku hanya tidak ingin mencari masalah dengan manusia yang tidak punya hati sepertimu, "Jawab Fanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca mendengar perkataan Frans.
" Terserah, Aku tidak pernah peduli dengan apa yang kamu lakukan. Tapi ingat satu hal, jangan pernah kamu lupa posisi kamu saat ini.Sedikit saja kamu membuat kesalahan, maka kamu akan Terima akibatnya. "Frans mengingatkan.
" Aku tidak akan pernah lupa Tuan Muda Wijaya, "jawab Fanya dan melangkah pergi hadapan Frans.
Saat keluar, dia bersandar pada dinding kantor Frans dan mulai menangis. Dia merindukan kedua orang tuanya. Andaikan mereka masih hidup. Maka hidup Fanya tidak seperti ini. Tiba-tiba ada seseorang yang memberikan saputangan kepadanya. Fanya mengangkat wajahnya dan melihat kearah pemuda itu.
Nona, ambillah. jangan menagis seperti ini, Tuan akan semakin marah nanti, " Ucap pemuda yang tak lain adalah Reino, asisten pribadi Frans.
"Terima kasih, " Jawab fanya menerima sapu tangan dari Reino.Nona
"Nona sudah makan? " Atau Nona mau menenangkan diri dulu.Reino menawarkan.
"Saya sudah makan. Saya hanya ingin pulan, kamu masuk saja, nnti tuan bisah matah , nanti tuan bisa marah. saya pergi dulu. " Tanya jadi pulang sama siapa, mari saya antara, "Tawar Reino.
" Tidak apa-apa saya pulang dengan pak renof, beliau sudah menunggu di parkiran.
Fanya setengah berlari meninggikan Reino yang masih menatapnya.
Reino merasa prihatin dengan nasib Nona mudanya ini. Jika diperhatikan, Fanya adalah gadis yang cantik, baik dan pintar. Mengapa Frans tidak bisa membuka hatinya untuk Fanya. Andai saja Fanya bukan istri tuanya, Reino akan berusaha mendapatkan perhatian Fanya. Apakah dia menyukai gadis itu? Reino menghela nafasnya dalam-dalam dan masuk keruangan Frans.
Sementara Fanya hanya menyandarkan kepalanya dijendela mobil dan menatap kosong kejalanan yang di laluinya. Dia kembali mengingat saat-saat bahagia bersama pamannya,tetapi waktu yang dihabiskan Fanya lebih. Bukannya Fanya tidak mengingat orang tuanya, tetapi waktu yang dihabiskan Fanya lebih banyak bersama pamannya. Hari-hari yang dilewatinya saat itu juga sangat indah dan bahagia. Tanpa disadari Fanya tertidur sedangkan mobil sudah memasuki pekarangan rumah mewah milik Frans.
"Nona, kita sudah sampai, "Pak Manav berusaha membangunkan Fanya.
" Ah. Maaf Pak, saya ketiduran. Fanya yang baru tersadar menjadi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Nona. Masuklah, lebih baik beristirahat didalam. "Pak Manav menyarankan agar Fanya lekas kedalam.
__ADS_1
Fanya kemudian turun dari mobil dan langsung naik kelantai atas tanpa memperdulikan Andre yang memanggilnya. Hatinya sangat sedih. Dia ingin berendam untuk menenangkan Fikiranny. Dia hanya heran dengan Frans. Apa yang ada didalam fikiran lelaki itu sebenarnya, tidak ingin adanya ikatan, tetapi malah mengikat.