Cinta Setelah Sah

Cinta Setelah Sah
Frans Koma


__ADS_3

Malam itu, Frans belum pulang.setelah makan malam, Fanya memilih untuk menyelesaikan Design-design yang akan dikirimkan ke perlombaan. Fanya tidak berani menghubungi Frans. Meskipun dia mengkhawatirkan keadaan Fans, namun dia memilih untuk tidak memikirkannya. Frans berkali-kali mengigatkanya bahwa pernikahan mereka hanya sebatas status.Fanya juga merasa heran, ada orang menikah, tidur seranjang tetapi tidak tergoda untuk menyatu. Tinggal serumah tetapi serasa tidak mengenal satu sama lain.


Fanya yang keasikan mendesaign, tertidur diatas kertas desainnya. Dia terbangun ketika mendengar ada suara orang berjalan didalam rumahnya. Suara sepatu itu makin banyak dan semakin dekat. Fanya membuka pintu kamarnya. Fanya terkejut orang dari luar juga membuka pintu kamarnya dan sedang memapah Frans yang dipenuhi dengan darah. Fanya menutup mulutnya dengan tangan.


"Reino,apa yang terjadi? "Tanya Fanya panik.


" Tuan diserang,Nona."Jawab Reino sambil membaringkan Frans diatas tempat tidur. Frans tidak sadarkan diri.


"Mengapa tidak dibawah kerumah sakit? mengapa malah dibawah pulang? " Tanya Fanya sedikit marah.


"Situasi sedang tidak aman Nona. Dan satu-satunya tempat paling aman bagi tuan adalah dirumah. Saya sudah menghubungi dokter kepercayaan Tuan. Dia sedang menuju kemari. " Jawab Reino.


"Kalian, pastikan keamanan dirumah ini. Jangan ada yang luput dari perhatian kalian mengerti! " Perintah Reino.


Fanya menatap suaminya yang penuh luka dan darah yang mulai mengering dengan perasaan yang tidak bisa di lukiskan.


"Pak Andre, ambillah air hangat biar saya membersihkan darahnya agar memudahkan dokter mengobatinya, " Pinta Fanya.


Dengan telaten Fanya membersihkan tubuh Frans yang penuh dengan darah. Dia terkena tembakan. Fanya tidak berani bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia juga tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi dan pekerjaan suaminya. Dia hanya berdoa agar Frans melewati masa kritisnya. Fanya juga mengganti pakaian Frans. Kini Frans terbaring lenah, wajahnya sangat pucat. Fanya memperhatikan suaminya itu. Sangat tampan. Kata itulah yang bisa di bayangkan.


"Apakah dokternya sudah sampai? " Tanya Fanya.


"Sudah Nona, beliau sudah naik keatas, " Jawab Reino.


Pintu kamar kembali terbuka. Tampak seorang berpakaian santai dengan tas yang mungkin berisi peralatan medisnya. Sangat aneh jika di sebut seorang dokter. Benar saja, ini kan sudah pukul 3 dini hari, tidak mungkin dia harus mengebakan pakean dokternya.


Dokter tersebut memeriksa keadaan Frans dan mulai mengeluarkan peralatannya. Dia menyuntikkan cairan kedalam tubuh Frans terlebih dahulu. Kemudian mengeluarkan semua peluruh yang bersarang ditubuh Frans. Entah berapa tembakan yang menembus kulitnya, tetapi lelaki itu masih hidup meski tidak tahu kapan sadar dari komanya.


"Sepertinya Frans harus dirawat secara intensif. Kita harus memindahkannya kerumah sakit agar bisa dipantau keadaannya. lagipula Aku tidak mungkin memindahkan semua peralatan yang bisa menompang hidup Frans dirumah ini. Kata dokter itu.


" Dokter, lakukan yang terbaik untuk suami saya! "Pinta Fanya dengan wajah sedih.


Reino dan semua orang yang ada diruangan itu metasa terharu melihat kepanikan dan ketulusan Fanya. Meskipun Frans tidak pernah menganggap Fanya ada dan semena-mena terhadap Fanya, tetapi gadis itu tetap ingin memberikan yang terbaik bagi Frans. Padahal jika Frans tiada, maka Fanya secara otomatis akan mewarisi semua yang dimiliki Frans. Apalagi Wijaya sangat menyayangi menantunya ini.


" Reino, untuk apa kamu diam saja, cepat urus semua keperluan dan bawah Tuanmu kerumah sakit yang terbaik dikota ini, "kata Fanya tegas.

__ADS_1


Dia kemudian menyiapkan pakaian dan yang dibutuhkan Frans. Fanya meminta Andre menjaga dan mengurus rumah. Tak sengaja, air mata Fanya menetes ketika dia memandang wajah Frans yang terlihat seperti mayat. Pucat dan tidak bercahaya.


Mobil ambulance yang dipesankan Reino telah sampai, Frans langsung dibawah ke ambulance tersebut dan dipasangkan infus juga oksigen. Mobil ambulance tersebut bergerak dengan cepat membawa Frans kerumah sakit terbesar dan terlengkap di kota ini. Sesampainya dirumah sakit Frans lansung dibawah keruang ICU dan mulai di pasangkan alat-alat yang dibutuhkan seperti ventilator untuk membantunya bernafas, monitor untuk membantu kinerja tubuhnya dan defibrillator untuk memulihkan detak jantungnya. Untuk asupan makanan, dokter memasang selang makanan dan keteter untuk membantu metabolisme tubuhnya. Fanya yang melihat tubuh suami dipenuhi alat-alat medis tiba-tiba menangis dalam diam. Dia tidak menyangka Frans yang angkuh, pemarah terbaring lemah dan tidak bergerak sama sekali. Fanya meminta Reino mengganti pakaiannya yang dipenuhi darah Frans saat menggendongnya tadi. Fanya ingin menjaga suaminya saat ini. Reino kemudian pamit tetapi tetap meninggalkan anak buahnya disetiap sudut rumah sakit untuk memastikan tidak ada penyusup. Sebelum pergi dia membeli beberapa buah dan makanan juga pakaian ganti untuk Fanya. Siapa tahu gadis itu membutuhkannya. setelah meletakkan barang-barang yang dibutuhkan Fanya pada tempatnya. Reino kemudian meninggalkan gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa kita artikan.


Fanya masih setia menemani Frans meski sudah dua hari. Belum juga ada tanda-tanda jika Frans akan sadar. Dokter telah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Frans sadar. Hanya doa dari orang-orang terdekat yang bisa memberikan keajaiban bagi Frans. Fanya yang menemani Frans sepanjang waktu tampak tidak merasakan lelah. Dia tidak tahu mengapa sangat mengkhawatirkan lelaki itu. Padahal dia sangat tersiksa, bahkan tidak ingin jatuh dalam pesona pewaris tungga Wijaya itu. Apakah dia sudah mencintai suami statusnya? Entahlah, setiap melihat Frans terbujur kaku dan kelihatan tidak bernyawa, hati Fanya terasa sangat sakit.


"Tuan, aku tahu kamu kuat. Aku juga tahu kamu bisa mendengar dan merasakan kehadiranku. Aku bukan ingin merayumu, Tuan, Aku hanya ingin kamu sadar dan pulih kembali. Aku akan membuatkan iga bakar yang banyak untukmu. Aku juga akan menyiapkan semua kebutuhanmu. Aku juga akan menerima kemarahanmu setiap hari. Aku janji akan menjadi istri yang penurut. Tetapi kamu harus sadar terlebih dahulu. Tidak apa-apa jika kita hanya menikah untuk menutupi bahwa kamu adalah gay. Aku tidak masa. "Ucap Fanya mengajak Frans mengobrol. Padahal dia tahu bahwa Frans tidak akan pernah merespon.


" Hay, kamu tahu tidak kalau aku itu takut sekali dengan cicak. Bukan takut, tapi lebih tepatnya geli. Dulu saat aku masih kecil, aku mendapatkan cicak dalam makananku. aneh kan, padahal binatang itu sama sekali tidak akan menggigit.Tetapi aku sangat takut. Dirumah kita tidak ada cicak kan? Oya, maaf, itu bukan rumah kita, lebih tepatnya rumah kamu. Maaf ya, kalu aku pernah bermimpi jika kita adalah pasangan yang bahagia. Punya anak-anak yang imut dan mungil. Heee... Aku tidak pantas ya untuk menghalalkan kamu. Tapi kamu jangan marah ya, aku cuman berhayal kok, cuman ingin hal itu terjadi didalam mimpiku saja. "Fanya mulai ngelantur dan tanpa dia sadari air matanya mulai jatuh. Fanya menangis Frans.


Frans yang terbaring lemah juga mengeluarkan air matanya. Fanya yang melihat itu menjadi panik.


" Tuan,kamu menangis? "Kamu mendengar apa yang aku katakan? " Tanya Fanya.


"Kemudian dia memencet bel yang ada didekat brangkar Frans. Tidak lama kemudian dokter dan seorang suster masuk ke dalam ruangan Frans.


" Dokter, saya melihat air mata suami saya keluar. Apakah ini pertanda bagus? "Tanya Fanya.


Saya akan mencoba mengeceknya terlebih dahulu Nyonya, semoga ini pertanda baik. " Dokter kemudian mengecek keadaan Frans.


"Jantungnya sudah mulai membaik, begitu juga orang tubuh lainnya. Pasien sudah bisa mendengar apa yang Nyonya katakan. Apakah Nyonya mengajaknya mengobrol? " Tanya dokter itu.


"Alangkah baiknya jika Nyonya menstimulasi dengan cerita-cerita atau obrolan yang disukai Tuan Muda. Mungkin itu bisa membuat Tuan sadar lebih cepat. Untuk saat ini Tuan belum bisa merespon, tetapi tuan sudah bisa mendengar apa yang kita bicarakan. Doa dari keluarga sangat dibutuhkan sekarang untuk membuat kondisi Tuan menjadi lebih baik. "Jelas sangat dokter kepada Fanya.


Fanya hanya bisa mengangguk dan terharu. Dia akan berusaha untuk membuat Frans sadar dan pulih kembali. Malam itu Fanya memilih untuk berdoa agar Frans bisa sembuh. Dia sudah tidak perduli dengan istirahatnya. Bahkan sudah seminggu Fanya hanya makan buah dan minum air putih. selera makannya tiba-tiba hilang. Dia memilih untuk tidak beranjak sesenti meter pun dari brangkar Frans. Semua orang yang melihat ketulusan Fanya dalam merawat Frans, menjadi menangis. Gadis itu, masih memberikan kasih sayang kepada orang yang membua hidupnya tersiksa secars batin. Andre sudah meminta Fanya untuk pulang dan istirahat dirumah dan dialah yang akan menggantikan. Tetapi Fanya menolak.Dia masih ingin menunggu Frans sadar.


Sementara di tempat lain, Reino tampak sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa anak buah kepercayaan Frans lainnya.


" Kalian sudah menemukan siapa yang menyerang kita malam itu? "Tanya Reino.


" Kami dapatkan informasi dari sniper yang menembakkan Tuan bahwa dia suruhan Tuan Robert. "Jelasnya.


" Untuk apa Tuan Robert mencelakai Tuan? Bukankah dia ingin agar Tuan menikah dengan Nona Rachel? Kalian tidak merasa ada yang janggal disini? "Jelas Reino.


" Kami juga berfikir seperti itu Tuan. Jika memang Tuan Robert menginginkan Tuan Muda. Mengapa harus membunuhnya. Sepertinya ada yang ingin mengadu domba Tuan Muda dengan Tuan Robert, "Jelas anak buah Frans yang lain.

__ADS_1


" Jika begitu,terus kalian cari bukti yang akurat. Kita tidak mungkin gegabah dalam mengambil keputusan, tetapi bukan juga bergerak lambat seperti siput. Keselamatan Tuan dan keluarganya adalah nomor satu. "jelas Reino.


" Baik Tuan, "Jawab anak buahnya.


" Reino merenung ketika semua anak buahnya keluar. Dia mencoba berfikir siapa yang telah membuat kekacauan ini. Kelompok mana yang punya masalah dengan mereka sehingga ingin mencelakai Tuan Muda mereka. Reino mencoba menelah satu persatu orang yang mungkin terlibat. Dia tidak akan pernah memberikan ampunan kepada orang-orang ini. Meskipun Tuanya terkenal arogan dan dingin, tetapi sebagai asisten yang telah lama bersama Frans sangat tahu sifat asli lelaki itu. Reino masih sangat ingat ketika Frans membantu dan menyelamatkannya dari siksaan mafia kejam yang membunuh ibunya, saat itu Reino masih kecil, baru saja lulus dari sekolah Dasar Frans yang masih sangat muda memiliki kemampuan bela diri yang dibilang sangat bagus berhasil menyelamatkan Reino. Sejak saat itu Reino di ajari bela diri dan berbisnis oleh Frans. Wajar jika dia sangat setia kepada Frans.


"Kembali kerumah sakit, Reino melihat Fanya tertidur sambil duduk didekat brankar tempat Frans berbaring. Reino menatap lekat-lekat istri Tuanya itu.



" Kamu sangat cantik dan baik. Seharusnya Tuan bersyukur telah menjadikanmu sebagai istri. Aku akal berusaha agar Tuan jatuh cinta padamu. Kamu harus bisa menjadi penunggu hati Tuan, Fanny.



Merasa ada yang sedang berdiri di dekatnya, Fanya membuka matanya.



"Reino, kamu sejak kapan berdiri disitu? "Tanya Fanya.


" Baru saja Nona. Sekarang istirahatlah disana, biar aku yang menjaga Tuan. "Ucap Reino menunjukkan sofa yang berada disudut ruangan itu.


" Tidak apa-apa. Aku sudah tertidur sebentar, sepertinya itu sudah cukup untukku. "Kata Fanya.



" Nona, sudah seminggu ini kamu hanya menunggu Tuan. Kamu hanya pergi dari sana saat kekamar mandi atau ingin berdoa. Jadi, lebih baik kamu istirahat sebentar. Kesehatanmu juga penting. Bagaimana kamu bisa membuat Tuan sadar jika kamu sendiri akhirnya sakit."Pintar Reino.



"Nanti, jika ada apa-apa dengan Tuan, saya akan panggil Nona. "Tambahnya.



Baiklah jika begitu. Aku istirahat sebentar. " Fanya akhirnya memilih berbaring di sofa. Reino bena, jika dirinya ikut sakit, siapa yang akan menjaga Frans nanti. Reino adalah orang yang sangat dipercaya Frans, mana mungkin dia bisa mencelakai Tuanya.

__ADS_1



Malam itu Fanya tidur di sofa dengan nyenyak setelah tidur seminggu dengan cara duduk. Bisa dibayangkan betapa sakit pinggangnya. Dan malam ini, meskipun tidak senyaman di kasur, setidaknya dia bisa meluruskan badannya.


__ADS_2