CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
10. HANYA KARENA KASIHAN


__ADS_3

Lelahku ini bukan karena tak ingin lagi menantinya. Lelah ini karena ragaku tak lagi sekuat dulu. Ada yang berbeda kurasakan, tapi tak bisa kuungkapkan pada siapa pun. Tidak mungkin aku berkeluh-kesah kepada suamiku, karena setiap kali dia pulang ke rumah, wajah lelahnya membuatku tak ingin menambah beban pikiran dan juga perasaannya. Lebih baik aku simpan semua ini seorang diri, apa pun risikonya.


***


Egidia terbangun lebih dari waktu yang direncanakan. Saat membuka mata dan merasakan tubuhnya sedikit lebih baik, jam dinding di atas pintu kamar sudah mengarah ke angka dua belas.


“Astagfirullah, aku tertidur sangat lama dan lelap sekali. Sampai melewatkan waktu makan siangku.”


Dengan perut yang belum sepenuhnya terasa nyaman, dia segera bangun dan menguatkan keseimbangan badan sebelum berdiri dan keluar dari kamar. Wanita itu merapikan rambutnya yang diikat menjadi satu, lalu berdiri dan melangkah pelan-pelan. Jalannya belum bisa cepat, karena menahan nyeri yang ternyata masih menusuk perut.


Ada apa denganku? Mengapa akhir-akhir ini tubuhku rasanya sangat ringkih? Hanya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga biasa saja langsung merasa lemas. Belum lagi jika harus begadang untuk menyelesaikan tulisan, aku menjadi sangat mudah kehilangan konsentrasi dan daya pikir yang biasanya mendapatkan ide yang dengan cepat dan mudah bisa dituangkan ke dalam rangkaian kata-kata.


Meski begitu, Egidia tetap memaksakan diri untuk menyiapkan makan siang sederhana untuk diri sendiri. Perutnya harus diisi, jika tidak mau rasa sakitnya berlarut-larut dan bisa semakin membelit.


Jangan manja, Egi! Kamu sudah menjadi seorang istri. Istri yang harus kuat dan selalu sehat supaya bisa melayani suamimu setiap saat.


Sampai di dapur, wanita itu memastikan masih ada nasi yang sudah ditanak pagi tadi. Tinggal membuat sayur dan lauk yang bisa dibuat paling cepat. Karena badannya sedang tidak fit, dia semakin bersemangat untuk mengonsumsi banyak sayuran dan buah-buahan.


Baru saja membuka pintu kulkas untuk mengambil bahan-bahan, terdengar suara bel pintu yang dipasang Genio di pagar depan. Egidia menunda aktivitasnya dan kembali ke kamar untuk mengenakan jilbab instan.


Masih memegangi perutnya yang kembali terasa mual, dia mengintip dari ujung tirai jendela sebelum membuka pintu. Dilihatnya Tiara berdiri menunggu di luar pagar, sambil membawa sebuah set mangkok bertutup.


Lekas dia membuka pintu yang terkunci, lalu berjalan melewati halaman untuk menuju pagar. Senyuman manis mengembang di bibir, meski tubuh merasa kian lemah di bawah terik mentari.


“Ada apa, Tia?” sapa sekaligus tanyanya sembari mendorong pagar beroda ke arah samping dan mempersilakan tamunya masuk.


“Aku memasak sup sayur dengan daging ayam kampung. Mumpung tidak ada kegiatan di luar rumah. Silakan dicicipi, ya! Semoga berkenan.”

__ADS_1


Wajah Egidia tampak semringah karena mendapatkan rezeki tak terduga, di saat dirinya terlambat bangun dan belum sempat memasak.


“Alhamdulillah! Terima kasih banyak!”


“Yuk, masuk dulu. Aku akan mengganti wadahnya,” ajaknya ramah.


Tia yang belum pernah masuk ke rumah Genio hanya mengangguk dan mengikuti langkah pelan tetangga barunya yang tampak menahan sesuatu di area perut yang terus dipegangi.


Setelah menutup pagar tanpa menguncinya, Egidia berjalan mendahului, sehingga tingkah lakunya bisa diperhatikan oleh Tia yang merasa wanita berjilbab itu sedang tidak baik-baik saja.


“Kamu sakit? Wajahmu sangat pucat, Egi.”


Wanita berambut sebahu dengan poni tertata rapi itu duduk di kursi tamu setelah dipersilakan oleh pemilik rumah.


“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah membereskan rumah karena aku dan Mas Gen belum sempat bersih-bersih bersama.”


Belum sempat dia menarik kursi untuk duduk sejenak, tubuhnya sudah limbung dan terasa melayang. Walaupun sudah berusaha untuk tidak jatuh, tetap saja akhirnya dia terduduk di lantai dengan berpegangan pada kaki kursi.


Suara gaduh karena kursi yang bergerak tertarik oleh tangan Egidia, membuat Tia curiga dan memberanikan diri untuk lancang masuk ke dalam, setelah memanggil terlebih dahulu.


“Egi? Kamu tidak apa-apa?”


Melewati ruang tengah yang berisi sofa dan televisi, Tia akhirnya melihat Egidia yang masih berusaha untuk berdiri lagi.


Dengan panik Tia setengah berlari menghampiri dan membantu wanita berhijab itu duduk dan menenangkan diri. Karena ruang makan terhubung langsung dengan dapur terbuka yang terlihat dari sana, sang tetangga mengambilkan segelas air hangat untuk diminum oleh Egidia.


“Terima kasih. Maaf, jadi merepotkan kamu!”

__ADS_1


Wanita murah senyum itu merasa sungkan karena menyusahkan tamu yang seharusnya dijamu, tapi justru datang membantu.


“Sama-sama.”


“Lain kali, jangan sungkan menghubungi aku atau Mbak Mutia jika kamu mengalami kesulitan atau sedang sakit seperti ini. Kita ‘kan bertetangga, sudah sewajarnya saling membutuhkan juga saling tolong-menolong.”


“Nanti kita saling tukar nomor ya, supaya lebih mudah berkomunikasi.”


Egidia tersenyum dan mengangguk sangat pelan. Bukan hanya perutnya yang masih terasa tidak nyaman, kepalanya pun semakin berat dan ingin direbahkan. Namun, sekuat mungkin masih ditahan supaya tidak membuat khawatir Tia.


“Apakah tidak sebaiknya kamu menghubungi Mas Genio?”


“Dia harus tahu keadaaanmu!”


Egidia menggeleng dengan wajah murung yang memohon. Jika Genio sampai tahu dia sakit, lelaki itu pasti akan memberi tahu orang tuanya.


“Jangan, Tia! Aku mohon jangan beri tahu orang lain siapa pun itu, termasuk Mas Gen!”


Mas Gen tidak boleh tahu! Aku tidak mau membuatnya repot dan peduli padaku hanya karena rasa kasihan.


“Kamu harus dibawa ke dokter, Egi!”


“Tidak! Aku tidak apa-apa. Sungguh! Ini hanya kelelahan saja, nanti pasti lekas sembuh.”


"Aku akan beristirahat lagi setelah ini dan setelahnya, pasti akan segera sembuh!" yakinnya dengan wajah sedikit meringis, menahan nyeri hebat yang menyerang bagian kepala.


Tia menggeleng. Sepertinya, tetangga barunya tersebut sangat keras kepala. Baru memikirkan cara untuk membujuk, tiba-tiba tubuh lemah Egidia sudah terkulai ke samping, tepat ditopang oleh kedua tangannya yang refleks membuka dan terulur untuk menahannya.

__ADS_1


“Egi!”


__ADS_2