
Aku harus membiasakan diri untuk tidak berharap apa-apa lagi kepadanya. Aku tidak ingin menanggung rasa kecewa yang lebih besar dari saat ini. Cukup aku mengerti, memahami dan memakluminya, tapi tidak dengan mengiba perhatiannya. Jika hatinya tidak tergerak dan tertuju kepadaku, untuk apa aku memaksakan diriku dan dirinya demi menyatukan sesuatu yang sudah berbeda arah sejak pertama kali kami memulai perjalanan ini?
***
Genio benar-benar meninggalkan istrinya di depan lobi rumah sakit. Beralasan akan terlambat sampai ke kantor, dia hanya berpesan pada Egidia supaya memberinya kabar secepatnya.
Wanita berhijab sahaja itu berusaha menahan perasaan yang sudah sangat sesak memenuhi dada. Ingin menangis saja, tapi dirinya tidak mau terlihat lemah, apalagi di tempat umum yang sangat ramai seperti saat ini.
Akhirnya, dia memberanikan diri untuk melakukan semuanya seorang diri di tempat asing yang belum pernah didatangi sama sekali. Dia melihat meja informasi tepat di sebelah pintu masuk. Dengan bekal kartu identitas dan kartu keluarga yang sudah diberikan Genio sebelumnya, dia bertanya pada petugas di sana tentang alur pendaftaran untuk memeriksakan diri.
Beruntung, dua orang petugas yang berjaga sangat ramah dan membantunya dengan sabar dan sangat telaten. Bahkan, karena dia merupakan pasien baru dan belum pernah datang sebelumnya, mereka juga membantu untuk mencarikan dokter yang sesuai dengan keluhannya, sekaligus melakukan pendaftaran tanpa harus pergi ke loket yang seharusnya.
Setelah lima belas menit menunggu untuk pengurusan berkas, petugas menyerahkan kartu pasien kepada Egidia dan memintanya untuk langsung menuju lantai dua di mana dokter yang akan menanganinya sedang menjalankan praktik pagi di sana.
Wanita yang mulai merasakan nyeri di bagian kepala itu mengucapkan terima kasih dan tetap menampilkan senyuman di wajah pucatnya. Kemudian dia mengikuti petunjuk yang diberikan dengan langkah pelan-pelan, membelah keramaian lobi yang masih dipenuhi antrean pendaftar menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan.
Keluar dari lift yang membawanya ke lantai dua, Egidia dikejutkan dengan suara seorang wanita yang memanggil namanya. Dia menghentikan langkah dan mengedarkan pandangan untuk memastikan apakah benar dia yang dipanggil atau orang lain yang namanya kebetulan sama.
Wanita itu merasa aneh jika ada yang mengenali sementara dirinya merasa belum mempunyai teman selama pindah di kota itu. Hanya Tiara dan sang kakak yang dianggapnya teman baru, sedangkan para tetangga yang lain lebih banyak yang bersifat individual dan sengaja menghindari silaturahmi dengan sekitarnya.
“Egi!”
__ADS_1
Seorang wanita berhijab dengan model kekinian menghampiri Egidia yang masih belum melihatnya, di antara orang-orang yang lalu-lalang di sana. Setelah sosok ramah itu kian dekat, barulah dia mengenali dari jas putih yang dikenakan dan stetoskop yang melingkari lehernya.
“Mbak Mutia!”
“Mbak bekerja di rumah sakit ini?”
Seketika Egidia merasa jauh lebih tenang setelah bertemu dengan seseorang yang dikenalnya di tempat yang asing baginya. Senyumnya melebar, sejenak mengabaikan rasa sakit yang terus menyerang bagian kepala.
“Iya. Setiap hari aku praktik pagi di sini, kecuali hari Minggu. Siang sampai malam, aku bekerja di klinik milik temanku, tak jauh dari perumahan kita.”
Mutia menunjukkan ruang kerjanya yang ternyata tidak jauh dari posisi pertemuan mereka saat ini. Dokter kandungan itu tidak terkejut melihat tetangganya tersebut berada di sana, karena sudah menduga dari gejala sakit yang dirasakan sejak beberapa hari sebelumnya. Bahkan ketika itu, dia dan adiknya yang membantu Egidia.
Egidia menunjukkan kartu pasien dan kartu cetak yang menunjukkan nama dokter, nomor ruangan dan nomor urut pemeriksaannya. Mutia mengangguk lalu menunjuk ke arah ruangan yang berada tepat di sebelah ruang kerjanya.
Di sana terdapat papan pengenal dengan nama dokter yang sama dengan yang tertulis di dalam kartu cetak yang dipegangnya. Dari gelar yang disandang, diketahui jika dia adalah dokter spesialis saraf.
“Dokter Kaivan sudah datang dan ada di dalam bersama perawat yang bertugas. Aku baru saja berpapasan dengannya saat keluar dari ruanganku.”
Mutia melihat jam di pergelangan tangan kiri. Kemudian dia meminta Egidia untuk mengikutinya menuju ruangan yang dimaksud.
“Waktu praktiknya belum dimulai. Mungkin aku bisa membantumu supaya bisa diperiksa lebih dulu.”
__ADS_1
Egidia hanya mengangguk dan tetap diam, membiarkan dokter yang terlihat sangat berwibawa itu mengetuk pintu yang segera dibuka dari dalam. Perawat mempersilakan masuk setelah melihatnya. Wanita dengan jas andalan itu menarik pelan tangannya supaya ikut masuk bersama-sama.
“Selamat pagi, Dokter Kai!” sapa Mutia dengan ramah.
Seorang dokter tampan berkacamata yang tengah memeriksa berkas pasien yang akan diperiksa, mengalihkan perhatian dan pandangannya, lalu tersenyum dan membalas sapaan rekan seprofesinya.
Tak ingin membuang waktu, Mutia langsung menyampaikan maksudnya dan menjelaskan sedikit yang diketahuinya dari kejadian tempo hari. Dokter yang tampak lebih dewasa dan karismatik itu melihat ke arah Egidia yang masih berdiri tak jauh dari pintu, lalu mengangguk dan menyapa hanya dengan senyuman. Egidia membalas dengan hal yang sama, kemudian buru-buru menundukkan pandangan.
“Tidak masalah. Aku akan memeriksanya sekarang.”
“Terima kasih banyak! Aku akan pergi dulu karena ada jadwal operasi yang harus aku tangani sekarang.”
Setelah berpamitan dengan Dokter Kai, Mutia menghampiri Egidia yang masih tampak gugup. Dalam hati dia merasa kasihan sekaligus kesal terhadap Genio yang tega membiarkan istrinya yang sedang sakit, memeriksakan diri tanpa ditemani barang sebentar.
“Egi, Dokter Kai akan memeriksamu sekarang. Katakan semua keluhan dan gejala yang kamu rasakan kepadanya!”
“Aku harus segera pergi ke ruang operasi untuk menangani salah satu pasienku. Jika kamu sudah selesai, tunggulah dulu di depan ruanganku. Aku akan menemanimu ke bawah dan memesan taksi untuk pulang.”
Egidia hanya menurut dan mengiyakan. Setelah Mutia keluar dan pintu tertutup lagi, perawat mempersilakan dirinya untuk duduk di hadapan Dokter Kai. Bukan hanya gugup, kini wanita itu juga merasa takut dengan hasil pemeriksaannya nanti. Sejujurnya, dia mempunyai firasat buruk tentang penyakitnya.
Mengapa perasaanku tidak enak sekali? Aku sangat takut dan tidak bisa berpikiran positif lagi. Apakah aku benar-benar menderita penyakit parah?
__ADS_1