
Mungkin aku memang harus membiasakan diri dengan masa lalu suamiku yang akan terus diungkit oleh orang-orang di sekitar kami. Hatiku harus kuat, jika masih ingin bertahan dan berjuang untuk memikat hatinya. Bukan dengan cara yang tidak baik, melainkan dengan melakukan sesuatu yang akan selalu membuatnya teringat dan terikat padaku. Namun, aku juga tidak ingin melakukan semua itu hanya demi mendapatkan perhatian darinya. Aku akan melakukan semuanya karena memang ingin memberikan yang terbaik sebagai wujud rasa hormat dan bentuk bakti seorang istri kepada suaminya.
***
“Oh, iya. Mereka memang berteman dekat. Teman satu kantor.”
Egidia menjawab singkat dan tidak ingin memperpanjang pembahasan masalah itu. Dia tidak mau suasana hatinya berubah mendung di pagi yang cerah ini. Sebaliknya, Tia merasa tidak enak hati karena merasa lancang bicara dan menyinggung perasaan tetangga barunya.
“Sekali lagi aku minta maaf ya, Egi. Sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa dengan pertanyaanku tadi.”
Tia sudah mengubah panggilan mereka dengan aku dan kamu, supaya terdengar lebih dekat dan mudah akrab ke depannya.
“By the way, aku senang Mas Gen mendapatkan istri cantik dan salihah seperti dirimu! Kalian terlihat sangat serasi dan sama-sama sedap dipandang mata,” puji Tia kemudian.
“Semoga bahagia selalu dan langgeng, ya!”
“Aamiin!” Egidia langsung merespons dengan cepat dan mengaminkan dengan tulus dan penuh harapan, supaya doa baik tersebut dikabulkan oleh Yang Maha Segalanya.
Suara pintu garasi yang dibuka dari rumah Tia, membuat keduanya menoleh ke arah yang sama. Tampak di sana seorang wanita berhijab seperti Egidia dengan wajah yang mirip dengan Tia, sedang melemparkan senyuman.
“Tia, aku akan berangkat!” Suaranya lembut dan menenangkan.
“Iya,” sahut Tia cepat.
__ADS_1
“Mbak, ini istrinya Mas Gen. Cantik, ya? Namanya Egi, Egidia.”
“Egi, dia kakakku. Namanya Mutia. Kami yatim-piatu dan hanya tinggal berdua di sini.”
Sebelum kembali ke rumahnya, Tia masih sempat memperkenalkan keduanya. Sang kakak mengangguk dan menatap Egidia dengan ramah. Sebaliknya, Egidia membalas santun dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada, yang dibalas dengan sikap yang sama oleh wanita yang bisa diketahui profesinya dari jas putih yang dikenakan.
“Mbak Mutia adalah seorang dokter. Dokter kandungan. Kalau aku, aku masih melanjutkan studiku untuk meraih gelar magister.”
Bukan bermaksud sombong, wanita sebaya berambut sebahu itu hanya ingin menceritakan tentang keluarganya apa-adanya. Egidia hanya mengangguk tanpa ingin membalasnya.
“Aku harus kembali dulu. Lain kali, kita bisa berbincang dan bertukar cerita lebih lama. Senang berkenalan denganmu!”
Tia langsung menyeberang dan membukakan pagar untuk sang kakak yang sudah masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, kendaraan roda empat itu keluar dari garasi dan melaju pelan di jalan depan rumah mereka, menuju ke gerbang perumahan.
Untuk beberapa saat pikirannya teralihkan dengan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Karena sudah terbiasa mandiri dan melakukannya sejak kecil, wanita yang sudah melepas jilbabnya itu menikmati kegiatan hariannya. Sesekali dia bersenandung untuk mengusir sepi dan menghibur diri sendiri.
Dua jam berlalu, akhirnya Egidia menyelesaikan semua dan merasa puas karena rumah sudah tampak rapi. Dapur terlihat bersih dan pakaian kotor pun sudah dicuci dan dijemur di bagian belakang.
Dia berencana untuk menyiapkan makan siang walau hanya akan dinikmati seorang diri. Namun, karena merasa lelah, wanita itu memilih untuk kembali ke kamar dulu dan beristirahat barang sejenak.
Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh. Sembari beristirahat, Egidia memanfaatkan waktu untuk melanjutkan tulisannya. Kali ini, sesuai pesan sang suami, dia menulis di meja kerja Genio, sembari menunggu pesanan meja kerja untuk dirinya datang esok hari.
Wanita itu memejamkan mata dan bersandar nyaman di kursi putar yang ada. Rasanya memang beda, jika bekerja dengan fasilitas yang layak. Dulu, di kampung halaman dia juga mempunyai meja sederhana khusus untuk menulis. Namun, meja kerja suaminya jauh lebih bagus dari segi kualitas dan fungsionalnya.
__ADS_1
Terima kasih sudah mengizinkan aku menyentuh dan menggunakan barang-barang milikmu di rumah ini, Mas. Aku tahu, kamu melakukannya hanya sebatas tanggung jawab, bukan karena perasaan di hatimu.
Senyuman hambar tampak sekilas menghiasi wajah teduh Egidia yang selalu berlaku santun dan ramah pada siapa pun. Niat awalnya yang ingin menuliskan cerita bersambung yang sudah dinanti kelanjutannya oleh pembaca, tertunda karena lagi-lagi dia memilih untuk menulis catatan hariannya.
Jika selamanya aku bisa diam dan mengalah, maka aku akan terus melakukannya demi bisa mendampingimu seumur hidup. Aku rela tidak dicintai, asalkan cintaku padamu tidak dilarang untuk tetap tumbuh dan berkembang apa adanya.
Beberapa paragraf sudah ditulis sebagai ungkapan hati sehari-hari. Egidia hendak menutup catatan hariannya dan beralih ke laman pekerjaan, tapi tiba-tiba perutnya terasa sangat mual dan ingin muntah.
Dia berjalan cepat menuju kamar mandi dengan tangan kanan menutupi mulut yang sudah ingin mengeluarkan cairan berasa pahit. Sesampainya di sana, wanita itu menuntaskan semuanya hingga wajahnya semakin pucat dan napas tak beraturan.
Setelah berkumur dan mencuci muka, Egidia keluar dengan langkah pelan sembari meraba dinding. Tubuhnya masih terasa lemah, kepala pusing dan pandangan berkunang-kunang.
Wanita itu memaksakan diri keluar dan menuju dapur, untuk membuat minuman hangat dan manis. Dia menghabiskannya sedikit demi sedikit di meja makan, dengan tangan kiri menopang kepalanya yang berdenyut kian cepat dan terasa berat.
“Ada apa denganku? Tidak biasanya seperti ini,” gumamnya dengan mata terpejam rapat.
Minuman hangat yang dibuat cukup manjur dan membuat perutnya berasa lebih baik, meski rasa sakitnya tidak hilang sama sekali. Egidia menghabiskan semuanya lalu mencuci gelas yang digunakan, baru kemudian berjalan pelan dan kembali ke kamar.
Tujuan utamanya adalah tempat tidur dan dia langsung merebahkan tubuh lemahnya di sana. Karena masih belum begitu nyaman, posisinya berubah miring dan meringkuk. Tangan kiri terlipat menopang kepala, sementara tangan kanannya masih terus mengusapi perut yang sedang bermasalah.
Sepasang matanya terpejam rapat untuk menetralkan rasa nyeri yang masih terasa. Karena tubuhnya terasa lelah, lambat-laun dia tertidur dengan kening berkerut masih menahan sakit.
Dalam sekejap, Egidia mengalami mimpi aneh yang tiba-tiba muncul. Dia didatangi sebuah cahaya berkilauan yang semakin dekat padanya, semakin jelas terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang dan tidak juga berhenti.
__ADS_1
Suara bayi siapa itu dan di mana keberadaannya? Mengapa hanya ada cahaya menyilaukan yang aku lihat di sekitarku?