
Aku hanya meminta waktunya sedikit saja. Itu pun untuk mengantar dan menemaniku ke tempat berobat terdekat. Namun, hanya kecewa yang kudapatkan karena dia tetap mengutamakan pekerjaan di kantor, yang tentu saja akan membuatnya bisa bertemu dengan wanita yang dicintai. Baiklah, mulai sekarang aku sudah pasrah. Apa yang terjadi, biar saja terjadi. Toh, aku sudah berusaha, tapi dia tidak mau mengimbanginya dengan hal yang sama.
***
Karena sudah tiga hari rasa sakit yang menyerang kepalanya tak kunjung reda, Egidia memberanikan diri untuk mengatakan pada suaminya. Bukan untuk mencari perhatian, tapi hanya sekadar ingin berbagi cerita.
Kebetulan, pada hari kerja terakhir menjelang akhir pekan, Genio pulang lebih awal, meskipun hari sudah petang. Selesai menata menu makan malam di meja makan, dia kembali ke kamar untuk menunggu suaminya yang sedang mandi.
Wanita itu memijit-mijit kepala untuk mengurangi serangan rasa sakit yang seirngkali datang tiba-tiba. Dia harus tetap kuat di depan Genio. Tiara benar, dia tidak boleh mengabaikan kondisinya yang terus-menerus lemah dan merasakan nyeri yang tak biasa. Jika sakitnya berlarut-larut, justru akan membuat sang suami semakin repot.
Suara pintu kamar mandi yang dibuka, membuat Egidia bersiap dan menenangkan diri. Genio melihatnya sekilas, lalu menuju meja rias untuk merapikan rambut yang masih setengah basah.
“Makan malam sudah siap, Mas.”
“Ya.” Jawaban singkat lelaki itu membuat Egidia harus kembali mengatur napas yang terasa sesak.
Meski begitu, dia tetap tersenyum lalu berdiri. Genio mendahului berjalan keluar dari kamar, sementara istrinya mengikuti tepat di belakangnya. Sampai di ruang makan, dengan cekatan dia melayani sang suami dengan hati riang.
Akhirnya, mereka bisa merasakan makan malam bersama setelah sebelumnya Genio selalu pulang menjelang tengah malam, tanpa komunikasi pengantar tidur layaknya kebanyakan pasangan.
Karena hari ini suaminya sudah memberi tahu jika akan makan malam di rumah, sejak sore Egidia berkutat di dapur untuk menyiapkan menu istimewa kegemaran Genio, yang diketahui dari sang ibu mertua.
“Masakanmu enak, seperti biasanya. Terima kasih!”
Hanya pujian sederhana yang selalu sama dan berulang seperti itu saja, hati Egidia sudah berbunga-bunga. Merasa ada yang berarti dari dirinya di mata sang suami, walau hanya sekadar hasil masakan sehari-hari.
“Dengan senang hati aku akan selalu menyiapkan apa pun yang kamu suka dan kamu inginkan, Mas!”
__ADS_1
Walaupun setelah itu, suasana kembali canggung dan Genio hanya diam sampai mereka berdua kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sebelum mereka sama-sama bersiap di atas kasur, Egidia membulatkan tekad untuk menceritakan perihal sakit kepala yang mulai rutin dirasakannya beberapa hari ini. Kebetulan, dia baru merasakannya setelah diboyong sang suami ke kota ini. Padahal, sebelumnya dia tidak pernah mengalami gejala apa pun dan selalu sehat walafiat.
“Mas, bolehkah aku minta waktumu sebentar sebelum tidur? Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Genio yang masih dalam posisi duduk bersandar dengan kedua kaki lurus memanjang, menoleh sekilas lalu kembali fokus pada layar ponsel yang digenggam.
“Ada apa? Katakan saja!”
Egidia tersenyum lega karena mendapatkan izin untuk melanjutkan niatnya. Dia turut menyamakan posisinya dengan sang suami.
Tanpa sengaja, saat hendak mulai bicara, pandangannya yang menghadap ke samping menangkap nama kontak yang tidak asing baginya tertera di layar ponsel Genio, sedang berbalas pesan dengan suaminya yang masih lincah menggerakkan jemari untuk menulis pesan berikutnya.
Kini, rasa nyeri bukan hanya dirasakan di bagian kepala saja, tapi juga di dalam hatinya yang mulai rapuh karena kenyataan yang baru saja diketahui.
Seketika tenggorokannya seperti tercekat, lidah pun terasa kelu hingga dia hanya diam tanpa mengeluarkan suara apa-apa. Matanya memerah dengan air mata yang ditahan supaya tidak sampai menetes, walau rasanya ingin tumpah bebas.
Tanpa rasa bersalah, Genio yang tidak mengalihkan tatapan matanya hanya memecah kebisuan yang masih tercipta karena Egidia yang masih berusaha untuk mengendalikan diri. Lelaki itu tidak peka sama sekali, hingga tidak tahu jika sang istri sedang menahan diri untuk tidak menangis karena sikapnya.
“Jika Mas Gen ada waktu, aku ingin meminta tolong untuk diantarkan ke rumah sakit.”
“Kamu sakit?”
Genio menoleh dan memperhatikan istrinya yang hanya mengangguk pelan. Egidia memilih untuk mengalihkan pandangannya dan menunduk dengan kedua tangan meremas selimut yang belum dibentangkan.
“Aku ingin memeriksakan diri karena selama beberapa hari ini kepalaku terasa sangat sakit dan tak kunjung sembuh.”
__ADS_1
Bukannya lekas menjawab dan menanggapi, Genio justru masih melanjutkan untuk menulis pesan pada wanita yang sangat dicintai. Mengabaikan perasaan seseorang di sampingnya, yang seharusnya mendapatkan lebih banyak perhatian dan cinta darinya.
Beberapa menit kemudian, lelaki itu baru mematikan daya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menoleh dan memperhatikan wajah Egidia yang masih menunduk murung.
“Kamu sakit apa? Mengapa baru mengatakannya sekarang?”
Egidia hanya bisa menggelengkan kepala. Dia sudah kehilangan semangat untuk berbagi cerita. Apalagi, reaksi pertama Genio seolah menyalahkan dirinya yang baru memberi tahu sekarang.
Sepertinya apa pun yang aku katakan dan aku lakukan akan tetap salah di matanya. Aku memberanikan bicara baru hari ini pun, dianggap salah baginya. Padahal, aku tidak mempunyai kesempatan sebelumnya karena dia selalu pulang malam, dan di pagi harinya sudah sibuk bersiap untuk kembali berangkat.
“Kalau hanya sakit kepala biasa, kamu bisa minum obat yang ada di kotak persediaan. Atau jika tidak cocok, kamu bisa membelinya di apotek dengan layanan pesan antar.”
“Bukankah aku juga sudah mengatakan sebelumnya, kalau aku juga tidak melarangmu untuk pergi keluar jika ada keperluan mendesak? Ada sepeda motor di garasi yang sudah aku siapkan dan bisa kamu pakai untuk bepergian di sekitar sini.”
Bila dirinya bukan wanita yang sabar dan tak tahu diri, mungkin Egidia sudah membalas semua ucapan suaminya dan mengungkapkan seluruh perasaannya. Dia tidak akan bercerita dan meminta tolong, jika masih bisa mengatasinya sendiri.
Karena sudah merasa tidak kuat dan bukan suatu kewajaran lagi karena rasa sakitnya semakin sering muncul sewaktu-waktu, maka dari itu dia baru memberanikan diri untuk mengatakannya sekarang.
Tak ingin memperpanjang pembahasan yang sepertinya tidak sepemikiran dan tidak akan mendapatkan respons yang diharapkan dari suaminya, Egidia mengalah dan menyudahi. Dia tidak lagi berharap pada Genio karena lelaki itu tampak tidak suka dengan sikapnya.
“Maafkan aku, Mas. Jika Mas Gen tidak ada waktu untuk mengantarkan, aku bisa pergi sendiri. Aku meminta izinmu untuk keluar rumah sendirian.”
Wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kekecewaannya. Meskipun di dalam hati sudah merasakan pilu, dia masih menampakkan senyuman untuk menutupi rasa sedihnya.
“Besok adalah jadwal piket mingguanku di kantor.”
“Aku akan mengantarkan kamu sampai ke rumah sakit, sekaligus berangkat ke kantor. Jika sudah selesai, kamu bisa pulang sendiri menggunakan taksi.”
__ADS_1
Pasrah. Tak ingin membantah apalagi meminta lebih, Egidia hanya bisa menuruti keputusan sang suami.
Setidaknya dia masih mau mengantarku, walaupun tetap mengutamakan pekerjaannya daripada mendahulukan kepentingan keluarga, yaitu istrinya yang sedang sakit.