
Aku tidak tahu, sampai kapan bisa bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini. Lebih tepatnya, cinta sepihak karena hanya aku yang merasakan kepadanya. Aku juga tidak tahu, berapa lama aku bisa menyembunyikan rasa indah ini dari dirinya. Sejujurnya, aku takut jika dia mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Aku takut dia akan bersikap lebih dingin dan mengabaikan diriku lebih dari saat ini.
***
Setelah pertemuan pertamanya dengan Monita, rumah tangga Egidia dan Genio terasa makin dingin dan hambar. Bukan karena tidak adanya komunikasi di antara mereka, melainkan karena sang suami selalu membentengi hubungan mereka dengan membangun dinding penegas rasa, yang sulit ditembus oleh dirinya.
Mereka menjalani kehidupan pernikahan sewajarnya, namun tanpa menyertakan rasa apa pun di setiap interaksi yang terjalin. Kalaupun ada, hanya sebatas formalitas dan saling melengkapi satu sama lain. Sekali lagi, tanpa rasa cinta.
Berulang kali Genio menegaskan bahwa apa pun yang dilakukannya, didasari rasa sayang dan keharusannya sebagai imam dalam rumah tangga. Jika Egidia merasakan sikap yang berlebihan darinya, lelaki itu kembali memastikan bila semua itu dilakukan karena unsur kemanusiaan dan interaksi sosial yang tidak bisa dihindari, karena mereka tinggal bersama dalam satu atap, bahkan satu kamar.
Untuk hal yang terakhir, Egidia merasa bersyukur karena suaminya tidak lagi meminta mereka pisah ranjang seperti saat masih tinggal di kampung halaman selepas pernikahan. Setidaknya, dia masih bisa merasakan kedekatan fisik dengan lelaki itu, meski dibatasi oleh guling sebagai pemisah dan pencegah hal-hal yang tidak diharapkan.
“Aku tidur dulu, Egi. Besok pagi aku harus berangkat ke kantor lebih awal. Banyak yang harus aku bereskan sebelum mulai bekerja.”
Egidia mengangguk dan mempersilakan suaminya yang sudah berjalan menuju ke tempat tidur. Dia sendiri masih duduk di sofa dan memangku perangkat kerja.
“Jangan tidur larut malam. Ingat kesehatanmu!”
“Oya, besok aku akan membeli satu set meja kerja lagi. Punggungmu akan mudah lelah dan berpengaruh buruk pada seluruh tubuh, jika posisimu menulis seperti itu terus-menerus.”
Wanita itu tersenyum bahagia mendengar pesan dan perhatian Genio. Dia kembali mengangguk, lalu memperhatikan sang suami yang sudah berbaring dan membentangkan selimut di atas tubuhnya.
“Terima kasih, Mas. Selamat malam!”
“Selamat malam!”
Genio langsung memejamkan mata dan berusaha melelapkan diri secepatnya. Dia masih merasa bersalah atas kebohongan yang diciptakan saat menjawab pertanyaan Egidia tentang harapannya terhadap Monita.
Maafkan aku, Egi! Aku masih butuh waktu untuk menentukan sikap yang terbaik dalam hubungan kita. Bukan aku tidak menghargai ikatan sakral ini, tapi hatiku tak ingin bermain-main meskipun itu dengan istri sendiri.
__ADS_1
Sementara sang suami sudah memejamkan mata dan tampak mulai tertidur, Egidia memberanikan diri menatapnya lekat dari tempat dia duduk. Malam kedua mereka tinggal bersama dan memulai kehidupan rumah tangga yang mandiri, masih membuat jantungnya berdegup kencang.
Setelah puas memandangi wajah tenang yang membuat hatinya bergetar setiap kali pandangan mereka beradu, wanita itu berusaha untuk berkonsentrasi pada tulisannya. Sudah dua hari dia tidak menyentuh perangkat kerja kesayangannya, karena kepindahan mereka.
Namun, bukannya melanjutkan tulisan yang tertunda ceritanya, wanita yang sudah mengenakan pakaian rumahan dengan rambut panjang yang terikat sebagian itu justru membuka catatan hariannya. Di sana, dia kembali mencurahkan isi hati yang diabadikan dalam rangkaian kata-kata yang bermakna kesedihan.
Indahmu ... akankah menjadi milikku seutuhnya?
Kalimat pertama yang ditulis, mewakili perasaannya saat ini. Sebuah harapan yang rasanya tidak akan menjadi kenyataan untuk selamanya, karena tidak ada rasa saling cinta di antara mereka, apalagi rasa ingin memiliki satu sama lain.
Hanya aku yang ingin berjuang mewujudkan bahagia kita, sedangkan kamu masih ingin berjuang demi bahagiamu bersama dengan yang lain. Satu kapal dengan dua arah tujuan ini, akankah suatu saat bisa mencapai satu titik yang sama, seperti harapanku?
***
“Hari ini mungkin aku akan pulang terlambat. Aku sudah membawa kunci cadangan, jadi pastikan saja kamu sudah melepaskan kunci dari lubangnya, supaya aku bisa masuk sendiri tanpa perlu mengganggumu.”
“Kamu juga tidak perlu menyiapkan makan malam untukku, kecuali aku memintanya lebih dulu. Jika sedang lembur, biasanya aku akan memesan makanan dari kantor.”
Kehidupan di perumahan yang tidak padat penghuni dan beraktivitas masing-masing, membuat mereka seolah tinggal tanpa tetangga. Kalaupun bertemu, hanya sebatas saling sapa seperlunya.
Sepuluh menit berlalu, Genio sudah berdiri dan melirik jam tangan di pergelangan kiri. Egidia langsung ikut berdiri lalu mengikuti langkah kaki suaminya menuju pintu depan. Sampai di beranda, lelaki itu berpamitan.
“Aku pergi dulu. Jika ada apa-apa, hubungi aku!”
“Hati-hati, Mas! Semoga pekerjaanmu selalu lancar, menghasilkan yang terbaik dan penuh keberkahan.”
“Jangan lupa beristirahat dan jangan terlambat makan!”
Tak peduli dianggap cerewet dan sok perhatian, Egidia berpesan dengan tenang kemudian mencium punggung tangan suaminya. Genio yang masih merasa rikuh hanya mengiyakan lalu membalas perlakuan hangat sang istri dengan ciuman kilat di keningnya.
__ADS_1
“Biar aku yang menutup pagarnya, Mas.”
Setelah mengangguk, buru-buru lelaki itu berbalik dan berjalan cepat menuju mobil. Lelaki berpakaian rapi dan formal itu masuk tanpa menoleh lagi ke arah wanita yang mulai membuatnya gugup tersebut. Bukan karena dia merasakan sesuatu di hatinya, tapi karena merasa bersalah sebab sikapnya sendiri yang masih kaku dan tidak bisa lebih akrab dengan sang istri.
Saat mobil melaju perlahan, ekor matanya menangkap lambaian tangan Egidia yang masih berdiri di ujung teras dengan senyuman manis yang selalu ditunjukkan dalam situasi dan kondisi apa pun.
Sesuai permintaan istrinya, dia langsung menambah kecepatan kendaraan setelah keluar dari halaman. Sementara itu, Egidia berjalan menunduk untuk menghindari silaunya sinar mentari dan menutup pagar juga menguncinya.
Sebelum kembali, dia memperhatikan situasi pagi di sekitar rumah dengan tangan kanan diletakkan di depan kening untuk melindungi pandangan. Senyumnya kembali mengembang saat melihat tetangga depan rumah sedang memperhatikan dirinya.
Tak disangka, penghuni rumah seberang itu keluar dari pagar dan menghampiri dirinya yang sudah memutar badan.
“Tunggu, Mbak!” Seruan itu mengurungkan niatnya, meski tubuhnya mulai terasa gerah oleh keringat sehat di pagi hari.
“Ya? Ada apa, Bu?” Karena bingung, Egidia memanggil sekenanya.
Wanita yang sebenarnya masih seusianya itu tertawa kecil mendengar panggilan untuknya.
“Panggil nama saya saja, Mbak. Sepertinya kita seumuran.”
Egidia mengangguk malu lalu menyambut uluran tangan sang tetangga dari atas pagar setinggi dada tersebut. Dia hendak membukanya untuk menghormati tamu yang berkunjung, tapi dilarang karena hanya ingin berbincang sebentar.
“Perkenalkan, saya Tiara. Panggil saja Tia.”
“Oh, ya. Salam kenal, Tia. Saya Egidia, biasa dipanggil Egi. Saya istrinya Mas Genio.”
Wajah sang tetangga tampak kaget dan tercengang. Sepertinya dia benar-benar terkejut dan tidak percaya dengan pengakuan Egidia. Namun, sesaat kemudian dia mengatur sikap dan menjelaskan seputar keterkejutannya.
Sebaliknya, jantung Egidia berdegup kencang dan terasa sesak di dalam dada. Pernyataan Tia berikutnya, membuat dirinya merasa kian jauh dari harapan untuk bisa memikat hati sang suami.
__ADS_1
“Maaf, Egi. Saya terkejut karena saya kira calon istri Mas Gen adalah wanita yang sering datang ke rumahnya selama ini.”