
Akhirnya, semua terbongkar tanpa aku perlu menunggu lama. Bahkan, aku tidak perlu membongkar aibnya, tapi dia sendiri yang tanpa sengaja membukanya. Semuanya sudah jelas dan bukan sangkaan semata. Aku tidak hanya melihat kemesraan mereka, tapi juga mendengar percakapan intim suamiku dengan wanita itu. Aku sudah ikhlas, apa pun yang akan terjadi pada pernikahan kami. Aku hanya ingin menyembuhkan penyakitku dan menyerahkan nasib rumah tangga kami pada Dia Yang Maha Kuasa.
***
“Maaf, aku pulang terlambat dan ingkar. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan sebelum pulang.”
Egidia mulai terbiasa dengan alasan klise yang diberikan suaminya. Suami di atas kertas, seperti itu kenyataannya. Wanita itu tidak menjawab dan terus menyiapkan makan malam yang dihidangkan di meja makan.
Dia hanya memasak secukupnya porsi untuk Genio, karena nafsu makannya sendiri benar-benar tidak ada. Jika dipaksakan, malah lebih parah hingga mual dan muntah.
“Tambah, Mas?”
Sengaja Egidia mengambil piring yang sudah kosong di hadapan suaminya, karena lelaki itu hanya makan sangat sedikit. Mungkin karena sudah kenyang makan bersama wanita tercintanya, begitu pikir sang istri.
“Tidak. Terima kasih. Masakanmu selalu enak dan nikmat, tapi seharian tadi perutku bermasalah sehingga tidak kuat makan terlalu banyak.”
Mendengar jawaban Genio, Egidia hanya tersenyum lalu membereskan semuanya. Setelah menghabiskan minumannya, lelaki itu pamit untuk kembali ke kamar lebih dulu untuk memeriksa beberapa pekerjaan di perangkatnya.
Senyuman Egidia pudar seiring hilangnya sosok Genio dari jangkauan pandang matanya. Berganti tetesan air bening yang jatuh di pipi, namun lekas dihapus dan ditahan supaya tidak mengalir semakin deras.
Cukup, Egi! Jangan menangisi dia lagi! Kamu sudah tahu bagaimana dan seperti apa dia di belakangmu. Jadi, jangan berharap lagi pada rasa cintamu yang hampir buta itu!
Egidia terus menghapus air matanya di sela-sela aktivitas mencuci piring dan gelas yang baru saja digunakan suaminya. Tubuhnya sudah terasa sangat lemas dan ingin segera berbaring di atas kasur, sebelum jatuh pingsan lagi di sembarang tempat.
Tekadnya sudah bulat untuk tidak memberi tahu Genio perihal penyakitnya yang sudah sangat parah dan akut. Dia tidak mau merepotkan lelaki itu, apalagi jika sampai dianggap memanfaatkan kesempatan dalam sakitnya tersebut untuk mencari perhatian suaminya.
__ADS_1
Sayangi dirimu sendiri dan berjuanglah untuk kesembuhan penyakitmu! Dia bahkan tidak bertanya tentang hasil pemeriksaanmu sama sekali! Dia tidak peduli padamu, Egi!
***
“Ya, Nit! Besok pagi aku akan menjemputmu seperti biasa.”
“Jika Pak Bos menugaskan kita ke lapangan lagi, kita bisa meluangkan waktu di apartemenku lagi!"
Jantung Egidia rasanya berhenti berdetak saat itu juga, ketika mendengar ucapan suaminya yang sedang berdiri membelakangi arah pintu yang tidak menutup sempurna dan menempelkan ponsel di telinga kanan.
Tadinya, dia mendorong pelan hingga terbuka lebar, supaya bisa masuk dan menutupnya kembali, agar bisa lekas beristirahat dan sejenak melupakan semua kerumitan hidupnya seharian ini.
Namun, dia justru mendapatkan kejutan lain yang lebih menyakitkan hati dan membuat semua kepercayaan yang semula masih ada untuk sang suami, luntur seketika tanpa sisa.
Apartemen? Jadi, itu adalah apartemen Mas Gen? Mengapa dia tidak pernah menceritakannya kepadaku?
“Kapan Erlan pulang?”
Egidia masih ingat, itu adalah nama tunangan Monita yang disebutkan saat mereka bertemu dan berkenalan di pusat perbelanjaan.
“Apakah kamu masih betah menunggunya selama itu?”
Kedua kaki wanita itu serasa terpaku pada lantai dengan sangat kuat. Tak bisa digerakkan untuk melangkah mundur dan pura-pura tidak mendengar. Sepertinya takdir masih ingin menunjukkan lagi padanya sejauh mana mereka telah menjalin hubungan yang terlarang.
“Seandainya dulu kamu berani menolak perjodohan itu, maka tanpa menunggu lagi aku akan membawamu ke hadapan orang tuaku dan memperkenalkan dirimu sebagai calon istriku, wanita yang benar-benar aku cintai dan ingin aku nikahi!”
__ADS_1
Egidia berpegangan pada tepian pintu untuk menyeimbangkan tubuh lemasnya supaya tidak sampai ambruk di sana. Dia memejamkan mata, seolah ingin memeras habis air mata yang mengalir deras tanpa suara.
Walaupun sudah tahu bahwa Genio tidak pernah mencintainya, tetap saja mendengar komunikasi pribadi lelaki itu dengan sang kekasih, membuat hatinya patah dan terluka. Rasanya tak bisa digambarkan lagi, hanya bisa dirasakan dan ditunjukkan melalui tangisan pilu yang tak bisa berhenti sama sekali.
“Jika dulu kita berani menentang kemauan orang tua kita bersama-sama, tidak perlu ada hubungan diam-diam seperti ini, Nit.”
“Apakah akan selamanya tetap begini? Aku harus terus terikat dengan Egidia dan kamu akan menikah juga dengan Erlan?”
Egidia nyaris limbung, jika tidak mencengkeram tepian pintu sekuat tenaga. Dia tidak ingin pingsan dan menunjukkan sisi lemahnya pada Genio. Dia tidak ingin kalah dan terlihat lemah di hadapan lelaki yang sudah tidak bisa diharapkan lagi, baik perhatian apalagi rasa cintanya tersebut.
Berusaha kembali untuk pergi dari sana, wanita itu harus pasrah karena kedua kakinya tetap tidak bisa ditarik dan digerakkan sama sekali. Dia harus mendengarkan suara sang suami yang masih betah bercengkerama mesra dengan wanita tercintanya.
Ya Allah, jika memang Engkau ingin aku melihat dan mengetahui semua ini, tolong berikan aku kekuatan yang berkali lipat lagi, supaya aku bisa bertahan dalam hubungan pura-pura ini demi kebahagiaan kedua orang tua yang sudah menjodohkan kami berdua!
Akhirnya, setelah mengucapkan kata-kata perpisahan disertai suara ciuman dan kalimat cinta, Genio menyudahi percakapan dengan Monita. Dia meletakkan ponsel di atas meja kerja di hadapannya, lalu berbalik badan.
Wajah lelaki yang semula masih tampak semringah usai berkomunikasi dengan kekasih rahasianya, berubah pias dan tegang. Melihat sang istri sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah basah penuh deraian air mata, dia bisa menebak apa yang sudah menjadi penyebabnya.
Apakah dia mendengar semuanya dari tadi?
“Egi? Sejak kapan kamu di sini?”
Akhirnya, Egidia bisa melangkah lagi dan berjalan pelan-pelan dengan sisa kekuatan yang masih dimiliki untuk menuju ke tempat tidur. Dibiarkan wajah basahnya tetap demikian, toh Genio sudah melihatnya.
Setelah berhasil naik dan berbaring di tempatnya, wanita itu merapikan bantal dan memastikan guling sudah memisahkan posisi keduanya. Kemudian dia berbaring dan menarik selimut sembari menjawab pertanyaan basa-basi suaminya, tanpa ingin menoleh ke arah Genio yang kini mematung dan tak bisa bergerak seperti dirinya tadi.
__ADS_1
“Sejak kamu berjanji akan menjemputnya esok hari, Mas!”