
Aku tidak tahu apa yang diinginkan suamiku dari perasaannya terhadap wanita itu. Saling memiliki? Sepertinya tak mungkin lagi, karena dia sendiri telah berterus terang bahwa dirinya sudah beristrikan diriku. Apakah dia berharap suatu saat nanti jika mereka bisa bersama, aku akan dicampakkan dan ditinggalkan begitu saja? Sungguh, aku tidak mengerti jalan pikirannya tentang cinta.
***
“Sekarang kamu sudah tahu semuanya, Egi! Aku mencintainya, tapi dia hanya menganggapku sebatas sahabat.”
Selesai berbelanja kebutuhan rumah tangga dan semuanya sudah dimasukkan ke bagasi, Genio mengajak istrinya beristirahat di sebuah kafe, sebelum mereka melanjutkan rencana untuk berkeliling kota.
Mereka hanya bersua sebentar dengan Monita, karena ternyata wanita itu tidak sendirian. Tak lama setelah mengucapkan selamat dan berpelukan dengan Egidia, tunangannya datang dari area bioskop yang ada di lantai atas, lalu mengajak wanita yang dicintai Genio tersebut untuk lekas masuk ke studio di mana film yang mereka pilih untuk ditonton akan segera diputar.
“Dia juga sudah merencanakan pernikahan dengan lelaki pilihannya itu. Mereka berteman sejak kecil dan akan melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang yang lebih indah.”
Egidia berusaha memperlihatkan ketenangan sikap di hadapan suaminya. Suami yang sedang bercerita tentang wanita lain yang tak tergapai untuk dimiliki olehnya.
“Calon suaminya juga tidak mempermasalahkan kedekatan kami. Mungkin, kurang lebih sama sepertimu. Bedanya, mereka saling mencintai, sedangkan kita sebaliknya.”
Wanita berpenampilan anggun itu memutar-mutar sedotan di dalam jus segar yang dia pesan, tapi nyatanya tidak juga menyegarkan hati dan pikirannya yang terasa panas dan penat. Pandangannya terus menghindari tatapan sang suami yang bercerita dengan tenang, seolah sudah sewajarnya mereka saling terbuka seperti ini.
“Sekali lagi aku minta maaf, jika awal pernikahan kita dipenuhi dengan banyak kejutan tidak baik dariku. Aku tidak terbiasa berbohong, kecuali untuk menyenangkan hati kedua orang tuaku, seperti halnya aku menyetujui perjodohan dan pernikahan kita ini.”
Egidia terus mendengarkan tanpa ada keinginan untuk membalasnya. Kepalanya tidak mampu lagi diajak untuk berpikir apa pun, saat mendengar sang suami sedang membahas wanita lain. Ingin bereaksi apa dan bagaimana, dia juga tidak tahu dan takut salah. Bisa-bisa Genio malah tersinggung dan marah.
“Seandainya Monita belum terikat hubungan dengan siapa pun, mungkin sudah sejak lama aku berani menolak perjodohan kita. Aku akan membawanya ke rumah dan mengenalkannya kepada orang tuaku sebagai sosok yang aku cintai dan ingin aku miliki.”
__ADS_1
Bagai dihantam palu yang begitu besar dan berat, kepala Egidia berdenyut hingga mengaburkan pandangannya. Rasanya sangat sakit, baik di bagian kepalanya dan terlebih lagi di dalam hatinya. Wanita anggun itu memejamkan mata, setelah menunduk untuk menyembunyikan mimik mukanya yang sudah pasti berubah drastis.
Sebaliknya, seolah tak peduli dan sengaja mengabaikan apa pun sikap istrinya, Genio justru melanjutkan kalimatnya yang kembali menyinggung tentang pertentangannya atas perjodohan keduanya.
“Mereka tidak akan memaksakan kehendak jika aku sudah mempunyai calon pilihanku sendiri. Namun, sampai batas waktu yang diberikan oleh mereka, aku gagal menunjukkan siapa wanita yang aku cintai selama ini.”
Kedua orang tua Genio memang memberi toleransi waktu kepada sang putra untuk menemukan jodohnya sendiri hingga di usia dua puluh lima tahun. Angka tersebut dipilih karena bersamaan dengan berakhirnya masa kerja sang ayah yang sudah purnatugas.
“Tidak mungkin aku memaksa Monita, sementara dia sendiri sudah memiliki tunangan.”
“Akhirnya, aku hanya bisa pasrah dan menyetujui perjodohan juga rencana pernikahan kita.”
Pasrah? Satu kata itu membuat Egidia kian merasakan sakit di hatinya. Dirinya pun akhirnya juga pasrah dan menerima keputusan orang tuanya, tapi tidak dengan nada penyesalan seperti lelaki di hadapannya. Genio mengatakannya seolah masih enggan menerima pernikahan mereka dengan lapang dada. Bahkan, dia masih berharap sesuatu akan rasa cintanya pada Monita.
Telanjur mereka membicarakan tentang pernikahan yang sudah terjadi dan keduanya, Egidia memberanikan diri untuk menyampaikan sebuah pertanyaan kepada suaminya. Dia ingin tahu yang sebenarnya, apa pun jawaban yang akan diberikan oleh sang suami.
“Bolehkah aku menanyakan satu hal kepadamu, Mas?”
“Silakan dijawab bila Mas Gen berkenan, tapi tidak masalah jika tidak bersedia memberikan jawaban.”
Wanita dengan raut sendu yang ditutupi dengan senyuman di bibirnya itu menatap wajah suaminya dan menunggu reaksi atas permintaannya. Tak lama kemudian, Genio mengangguk lalu menyesap lagi es kopi kesukaannya.
“Sebelumnya aku minta maaf jika sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Katakan saja bila Mas Gen ingin mengabaikan pertanyaanku.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Katakan saja dan utarakan segala hal atau ganjalan yang ada di hatimu. Kita memang harus saling terbuka, walaupun tujuannya bukan untuk mendekatkan diri kita dan menyatukan perasan kita masing-masing.”
Egidia terus menampakkan senyumannya. Bukan untuk memikat sang suami, melainkan untuk menutupi rasa hati yang sebenarnya.
“Apakah Mas Gen ada niatan untuk kita berpisah, jika suatu saat nanti mendapatkan kesempatan untuk memilikinya?”
Respons Genio sangat dinantikan oleh Egidia. Telanjur dia sudah menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk, maka saat ini wanita itu menunggu dengan degup jantung yang bertalu-talu tak menentu.
Wajah lelaki itu memang berubah seketika, tapi apa yang dikatakan kemudian tidak mencerminkan perubahan tersebut. Sepertinya, dia menyembunyikan sesuatu yang ingin disimpan sendiri.
“Apa kamu juga berpikir jika aku berniat untuk mempermainkan janjiku di hadapan Tuhan?” Suara Genio yang sedikit meninggi, menandakan reaksi sensitifnya.
Egidia merasa telah salah mengajukan pertanyaan yang sejak pengakuan sang suami semalam, terus menggelayuti pikiran dan membuatkan tidak tenang.
“Maafkan aku, Mas. Sungguh, aku tidak berpikiran sejauh itu. Pertanyaan ini murni lahir dan terus terbersit dalam benakku setelah ceritamu semalam tentang dia.”
Wanita itu menunduk dengan wajah yang sudah memerah menahan tangis. Sekalipun tak ada niat demikian, tetap saja dia merasa bersalah karena telah membuat suaminya terlihat marah.
“Aku tidak menyalahkan dan mempermasalahkan tentang perasaan yang kamu miliki untuk wanita itu, Mas. Aku hanya memikirkan sebuah kemungkinan yang semoga saja keliru dan tidak pernah ada di dalam pikiranmu.”
Dalam hati, Genio sebenarnya sama-sama merasa bersalah. Andai Egidia tidak menunduk dan bisa melihat ketegangan di wajahnya saat ini, wanita itu pasti tidak bisa dibohongi dengan kalimat pengingkarannya.
Pertanyaanmu membuat aku merasa berdosa, bukan hanya pada dirimu, tapi juga pada keluarga kita. Maafkan aku, Egi! Sejujurnya, aku memang masih menyimpan harapan besar tentang diriku dan dirinya.
__ADS_1