CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
20. SEBATAS STATUS


__ADS_3

Terbersit ketakutan di hati, apakah dia akan melupakan diriku bila aku mati? Apakah dia akan tetap mengharapkan wanita yang dicintainya untuk menggantikan aku? Mungkin, sakit yang kurasakan ini akan menjadi jalan terbaik bagiku untuk merasakan kebahagiaan tanpa dirinya, di dunia yang lain. Namun, aku tidak rela jika kepergianku akan membuatnya kian salah dalam melangkah, karena mengejar wanita yang sudah memiliki kekasih.


***


Egidia pulang bersama Mutia, saat hari menjelang petang. Dia sengaja tidak memberi kabar pada Genio dan tidak akan bercerita apa pun sebelum suaminya mendahului bicara dan bertanya tentang kondisi kesehatannya.


Rumah masih kosong saat dia datang. Seperti biasa, Genio pasti akan pulang malam. Entah karena alasan pekerjaan atau alasan yang lain, wanita yang sudah merasa sangat lelah itu tidak peduli lagi.


Beberapa hari yang lalu, dia mendengar cerita dari Tiara yang kelepasan bicara, bahwa selama ini Genio selalu pulang tepat waktu. Berangkat pagi seperti karyawan kebanyakan, dan pulang di sore hari seperti waktu pada umumnya.


Baru semenjak lelaki itu kembali dengan membawa Egidia sebagai istrinya, dia menjadi lebih sering pulang terlambat, bahkan hingga larut malam. Wanita itu tidak ingin berpikiran negatif, tapi kenyataan yang ada memancing dugaannya mengarah pada hal yang lain.


Mungkin dia merasa lebih nyaman menghabiskan waktu di luar rumah, daripada di rumah dengan istri yang tidak diinginkan ini. Mungkin dia lebih bahagia bersama wanita yang dicintainya, daripada bersama diriku yang hanya menjadi istri sebatas status.


Setelah membersihkan diri dan mengisi perut dengan makanan yang dibelikan Mutia dalam perjalanan pulang tadi, Egidia merasakan sekujur tubuhnya terasa lemas dan tidak kuat melakukan apa-apa lagi. Segera dia meminum obat yang diresepkan oleh dokter dan lekas membaringkan badan di atas tempat tidur.


Kondisinya yang memang sedang tidak baik-baik saja, membuat wanita itu langsung terlelap dalam tidurnya, tanpa memikirkan hal yang lainnya. Lelah raga masih bisa disembuhkan dengan obat dan istirahat, tapi lelah hati?


Saat dokter menyampaikan hasil sementara tentang diagnosa penyakit yang diderita, Egidia sudah menyimpan firasat buruk untuk ke depannya. Terlebih lagi dengan rangkaian pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan seharian tadi, semakin menguatkan dugaan jika dirinya mengidap penyakit yang tidak biasa.


Tak ingin merepotkan siapa pun termasuk Mutia yang sudah sangat baik dan tulus membantu dan mendukungnya sejauh ini, wanita yang mulai merindukan orang tuanya itu memilih untuk tidak berbagi kesedihan dan kecemasan yang dirasakan.

__ADS_1


Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Tiara. Wanita yang mempunyai latar belakang pendidikan dan keahlian dalam bidang psikologi itu bisa membaca gelagat tersebut tanpa harus ada yang bercerita kepadanya, termasuk yang bersangkutan sendiri.


Mungkin besok atau di hari berikutnya lagi, wanita calon psikolog itu akan mengajak Egidia untuk berbicara empat mata dari hati ke hati. Wanita cantik berambut sebahu itu sangat yakin dengan apa yang dilihat dan diamati sejak pertama kali menangkap adanya sesuatu yang tak biasa dalam hubungan Genio dan Egidia.


Belum ada satu jam merasakan pulasnya tidur dalam keadaan lelah dan lemah yang mendera, Egidia terbangun karena suara pintu kamar yang dibuka. Sepasang matanya terbuka perlahan dan memulihkan pandangan yang masih mengabur.


“Mas Gen?”


Dia berusaha bangun, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan. Jantungnya berdetak kencang, takut sesuatu yang buruk terjadi di saat suaminya datang.


“Ya. Maaf kalau aku terlalu berisik dan membangunkanmu.”


Melihat ke arahku saja dia tidak mau. Apakah karena aku tidak secantik dan semenarik wanita itu?


Dengan sekuat tenaga yang ada, dia menajamkan pandangan sembari beringsut ke tepi tempat tidur. Walaupun pandangannya masih memburam dan kepalanya kembali terasa nyeri yang teramat sangat, wanita itu tetap memaksakan diri untuk menyiapkan baju ganti suaminya.


Lambat-laun, sambil terus bergerak keluar dari kamar, pandangannya semakin terang dan tidak lagi samar. Sampai di dapur, dia membuat kopi yang biasa diminum Genio menjelang tidur.


Berjalan pelan dan sangat hati-hati, Egidia kembali ke kamar dengan membawa cangkir yang bagian atasnya masih dipenuhi uap panas dengan aroma khas yang harum. Saat hendak masuk dan melewati pintu yang terbuka sebagian, perhatiannya tertuju pada sang suami yang sudah selesai mandi dan sedang mengenakan pakaian yang sudah disiapkan.


Wanita itu tersenyum, tapi hanya sesaat. Apa yang dilihatnya kemudian, membuat lengkungan indah di bibirnya kembali bergaris lurus disertai wajah yang murung. Ternyata, sambil berpakaian lalu menyisir rambut setengah basahnya, Genio berbicara dengan seseorang dalam sambungan telepon.

__ADS_1


Ponsel sang suami diletakkan di atas meja dan dinyalakan pengeras suaranya, sehingga meskipun berbicara sambil berdiri dan bergerak, suaranya masih bisa didengar di seberang panggilan. Demikian pula sebaliknya, Genio bisa mendengar dengan jelas suara dari lawan bicaranya yang bersuara lembut dan manja.


“Kamu sudah sampai di rumah?”


“Iya. Aku baru saja selesai mandi dan akan segera tidur.”


Egidia memejamkan mata sejenak dan mengumpulkan kekuatan untuk tetap melanjutkan langkah. Dia tidak akan lari dan kenyataan di depan mata. Apa pun yang akan terjadi setelahnya, wanita itu berusaha untuk menyiapkan hati atas segala kemungkinan.


Setelah membuka mata dan mengembuskan napas panjang, istri yang tak dianggap itu mengulas senyuman terbaik lalu berpura-pura mengabaikan apa yang sedang dilakukan suaminya.


Dia meletakkan cangkir kopi di atas meja, tepat di sebelah ponsel Genio yang layarnya menyala terang. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap sekilas tulisan yang tertera di sana yang merupakan nama kontak lawan bicaranya.


“Kopinya, Mas.”


Sengaja dia bersuara dan berlaku tenang, meskipun tahu suaminya sedang berbicara dengan wanita lain yang sudah pasti selalu menjadi prioritasnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Genio yang tampak terkejut karena tidak menyadari kehadirannya sama sekali, Egidia mundur lalu kembali keluar dari kamar. Pertahanannya kembali melemah dan akhirnya memilih untuk pergi dari sana.


Tekadnya semakin bulat untuk tidak mengusik sang suami dengan kabar tentang penyakitnya, yang tidak akan menjadi lebih penting dari sosok yang selalu melekat erat di hati Genio.


Maafkan aku, jika harus menyembunyikan semua ini dari kamu, Mas. Aku tidak ingin hatiku lebih terluka lagi, jika lagi-lagi hanya akan menerima pengabaian dari dirimu.

__ADS_1


__ADS_2