
Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau salah? Merasakan kesakitan ini sendiri dan berusaha menyembuhkannya seorang diri. Seharusnya aku berbagi dengannya dan meminta dukungan darinya, tapi aku rasa akan percuma. Aku tidak akan pernah menjadi prioritasnya dalam keadaan apa pun. Biar kutanggung luka di jiwa dan raga ini semampuku, tanpa harus mengusik dunianya yang tidak pernah ada aku di dalamnya.
***
Sambil menunggu Mutia menenangkan pasiennya, Dokter Kai menyiapkan resep dan surat pengantar untuk melakukan pemeriksaan lanjutan yang akan dilakukan hari ini juga. Mungkin akan memakan waktu lama, tapi lebih baik dimulai secepatnya supaya sang pasien bisa lekas pulang dan beristirahat.
Lelaki berusia tiga puluh lima tahun tersebut meminta perawat untuk mengatur jadwal pemeriksaan lanjutan untuk pasien pertamanya hari ini. Baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lainnya, akan dilaksanakan secara beruntun dan disesuaikan dengan kondisi pasien yang bersangkutan.
Mutia meminta izin pada rekan sejawatnya tersebut untuk berbicara dengan Egidia, sebelum wanita itu mulai menjalani pemeriksaan. Dokter kandungan tersebut membawa Egidia ke ruangannya. Jadwal praktiknya hari ini diliburkan karena dia mempunyai agenda untuk menghadiri pertemuan penting dengan pengurus rumah sakit, di mana dia menjadi salah satu anggotanya.
“Egi, kamu yakin tidak mau memberi tahu Genio?”
Sekali lagi Mutia memastikan pada tetangga barunya tersebut, karena wanita itu sudah memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan tanpa sepengetahuan sang suami. Dia menggeleng lemah, namun dengan keyakinan yang bulat.
Meskipun berat dan menakutkan baginya, dia tetap akan melakukannya seorang diri. Lebih cepat lebih baik, supaya hasilnya bisa lekas diketahui dan dokter pun bisa menentukan tindakan berikutnya.
“Mas Gen sedang sibuk hari ini, Mbak. Lagi pula, dia sudah berpesan supaya aku bisa menyelesaikan pemeriksaan sendiri dan mengabarkan hasilnya setelah dia pulang dari kantor.”
Dalam hati Mutia semakin geram dengan kelakuan Genio yang tega membiarkan istrinya yang sedang sakit memeriksakan diri tanpa pendampingan.
__ADS_1
Apakah dia lupa jika Egidia baru saja dibawanya kemari untuk tinggal di sini? Wanita itu jauh dari orang tua dan tidak mempunyai keluarga di sini selain dirinya. Tega-teganya dia menelantarkan istrinya seperti ini. Benar-benar keterlaluan!
“Ya sudah. Setelah pertemuan hari ini, aku tidak ada jadwal praktik lagi. Aku akan menemanimu sampai selesai!” janji Mutia.
Senyuman yang tampak dipaksakan terlihat di wajah pucat Egidia. Dia bersyukur masih ada yang mau peduli padanya, sekalipun mereka baru saja berteman karena tinggal berhadapan dalam satu perumahan.
“Terima kasih, Mbak! Maaf, jika aku merepotkan.”
“Tidak sama sekali, Egi!”
Wanita itu bersiap-siap untuk pergi ke ruang pertemuan di lantai teratas. Sebelum meninggalkan Egidia supaya beristirahat dulu di ruangannya, dia sudah memesan minuman dan makanan untuk sang tetangga yang seumuran adiknya tersebut.
Mutia mencari tahu dari Dokter Kai tentang keluhan yang sering dialami Egidia. Dia tidak bertanya langsung mengingat wanita itu pasti enggan bercerita panjang lebar, sama seperti saat tiba-tiba pingsan di rumah kala itu.
Egidia hanya mengangguk disertai rasa malu, karena dokter kandungan itu mengetahui perihal sakitnya. Dia bisa menebak, jika dokter yang menanganinya yang sudah memberi tahu atau mungkin Mutia sendiri yang menanyakannya.
Setelah kepergian pemilik ruangan Egidia hanya duduk bersandar pada kursi yang merapat dengan dinding. Dia merasa tidak nyaman bila harus berbaring bukan di tempat tidurnya dan terlebih lagi, di sana adalah tempat umum yang hanya menjadi ruang singgahnya.
Sambil mencicipi kue yang disediakan Mutia, dia membuka ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan atau panggilan yang terlewatkan olehnya. Meskipun sangat jarang, tapi sesekali orang tuanya menghubungi sekadar untuk menanyakan kabarnya dan sang suami.
__ADS_1
Setelah mengetahui jika tidak ada pesan dan panggilan yang masuk, Egidia beralih membuka akun media sosial miliknya. Dia memiliki dua akun, yang pertama adalah akun pribadi yang sudah sangat jarang digunakan dan yang kedua adalah akun dengan nama pena sebagai media promosi dari karya-karyanya dan sebagai sarana untuk menjalin komunikasi dengan para pembacanya selama ini.
Setelah menanggapi beberapa komentar pembaca yang menanyakan kelanjutan cerita terbarunya yang sudah beberapa hari tidak diperbarui, dia menghibur diri dengan melihat-lihat postingan terbaru dari beberapa akun yang diikuti.
Tiba-tiba, terbersit keinginan untuk mencari tahu apakah suaminya juga memiliki akun media sosial. Selama berkenalan hingga detik ini, mereka belum pernah saling menanyakan perihal tersebut. Dia tidak tahu, apakah Genio mempunyai akun di dunia maya atau tidak.
Menggunakan akun penulisnya, Egidia mencoba mencari akun yang menggunakan nama lengkap suaminya. Sayang, dia tidak menemukannya. Lalu dia mencarinya lagi dengan nama depan dan nama panggilan, tapi ternyata cukup banyak yang menggunakan nama serupa.
Perlu waktu yang cukup lama untuk memeriksa satu per satu dengan melihat foto profil yang dipasang. Sudah lebih dari tiga puluh akun dilihat, dia belum juga menemukan. Akhirnya dia menyerah dan hendak menutup laman pencarian.
Namun, saat jarinya hampir menekan tombol untuk keluar, pandangannya terpaku pada sebuah akun di bagian paling bawah yang belum diperiksa. Egidia tersenyum karena melihat wajah suaminya terpampang di sana.
Lekas dia membukanya untuk memastikan dan ternyata memang benar. Di sana terpasang sejumlah foto-foto Genio, yang sudah membuat akunnya sejak lima tahun silam.
Dimulai dari foto-foto yang terbaru, Egidia melihatnya satu per satu. Dirinya merasa terhibur karena bisa melihat foto suaminya dengan ekspresi yang lebih lepas, tidak seperti saat di rumah dan bersamanya yang selalu dingin dan tidak banyak bicara.
Sayang, senyuman yang baru saja terbit itu kembali tenggelam dan hilang, saat wanita itu melihat foto-foto Genio yang tidak sendirian, melainkan bersama seseorang yang dikenalnya. Hatinya terasa remuk dan teramat sakit, setelah melihat potret bahagia dua insan berlainan jenis yang tergambar jelas di sana.
Ternyata hubungan mereka sudah sedekat ini. Bukan hanya sebelum kami dipertemukan, tapi juga sampai sekarang, setelah dia menjadi suamiku. Mereka tetap bersama dan sering menghabiskan waktu berdua!
__ADS_1