
Apakah pernikahan kami harus berakhir tragis dengan ujian seberat ini? Aku tidak tahu, mengapa selain sulit mendapatkan hatinya, aku juga harus mengalami kesulitan untuk tetap bertahan bersamanya? Bertahan untuk bahagia, di tengah gundah yang selalu meresahkan jiwa. Bertahan untuk bisa membahagiakan dirinya semampu diri ini, di saat aku tahu bahwa ruang di hatinya yang seharusnya menjadi milikku, sudah lebih dulu ditempati oleh wanita lain yang masih menjadi pusat perhatiannya.
***
“Maaf, seharian tadi aku sangat sibuk dan menyimpan ponselku di laci meja.”
Sepulang kerja, saat mereka berdua berada di kamar, Genio langsung mendahului bicara sebelum istrinya bertanya.
“Aku baru memegangnya kembali saat akan pulang tadi.”
Egidia hanya tersenyum menanggapi pernyataan suaminya, padahal dia sama sekali tidak menyinggung hal tersebut. Dia berusaha memaklumi dan tidak memikirkannya lagi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia menyiapkan baju ganti untuk suaminya, sebelum keluar dari kamar untuk membuatkan minuman hangat.
Tadi, sesampainya di rumah setelah Mutia mengantarkan ke depan lobi rumah sakit dan memesankan taksi daring untuk dirinya, dia langsung beristirahat dan dilanjutkan dengan tidur siang. Badannya terasa sangat lelah, bahkan perutnya kembali mual dan akhirnya muntah-muntah lagi.
Namun, dia memilih untuk tidak menceritakan semua itu kepada Genio. Dia masih merasa lelah hati dan tidak ingin kembali merasa kecewa jika sang suami tidak akan peduli dengan keluh-kesahnya seperti malam sebelumnya.
Daripada dirundung kesedihan karena sikap acuh tak acuh Genio, Egidia memutuskan tidak akan bercerita apa-apa lagi kecuali lelaki itu bertanya lebih dulu dan memang ingin tahu yang sebenarnya.
Jika hanya terkesan berpura-pura peduli atau sekadar bertanya tanpa rasa simpati apalagi empati, lebih baik dia menyimpan dan merasakan semuanya seorang diri. Menikmati sakit dan luka hatinya sendiri, tanpa perlu meminta belas kasihan dan perhatian dari lelaki yang sudah mengabaikan dirinya.
“Bagaimana hasil pemeriksaan dokter? Apakah kamu baik-baik saja?”
__ADS_1
Sekali lagi Egidia mengangguk, tidak ingin bercerita panjang lebar jika akhirnya hanya akan dianggap baik-baik saja.
“Syukurlah kalau begitu. Jangan dipaksakan untuk melakukan kegiatan rumah tangga bila kamu sudah merasa lelah! Lebih baik beristirahat supaya tidak sampai jatuh sakit.”
“Aku juga tidak menuntutmu untuk melakukan ini-itu. Jika kamu mampu silakan dikerjakan, jika tidak pun tidak apa-apa.”
Lagi-lagi, Genio mengatakan semua itu tanpa memikirkan perasaan sang istri. Siapa pun orangnya, tidak ada yang ingin dirinya lemah dan menjadi sakit. Jika bisa memilih, sudah pasti semua ingin merasakan sehat di sepanjang waktu.
Egidia mulai menutup diri, daripada harus melawan suami. Hari ini, sudah banyak kejadian buruk yang dialami. Dia tidak mau menambahi lagi dengan rasa sakit di dalam hati.
“Mas Gen tidak mau makan lagi?” Wanita yang sudah mengenakan pakaian tidur itu mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku sudah kenyang. Terima kasih.”
Egidia mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan sesak di dada yang mulai membuat sepasang matanya terasa pedih dan basah.
“Aku akan makan malam dulu, Mas!” pamitnya tanpa bergerak lebih dulu.
“Ya.” Meskipun sudah bisa ditebak, tetap saja wanita itu merasa kecewa dengan reaksi Genio yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar terang yang digenggam.
Mengapa ponsel itu selalu lebih menarik baginya daripada aku istrinya? Mengapa ponsel itu seakan jauh lebih berharga baginya daripada aku dan hatiku yang seharusnya dia jaga?
__ADS_1
Egidia meraih pegangan pintu dan menarik pelan untuk menutupnya. Namun, belum sampai rapat dia melakukannya, jantungnya berdegup kencang dengan rasa sakit yang menyertai, saat samar-samar dia masih bisa mendengar suara suaminya menyapa seseorang yang pastinya sedang terhubung dengannya di seberang panggilan.
“Halo, Nit!”
Egidia melepaskan tangannya dan urung merapatkan pintu karena tak ingin menimbulkan suara yang mengganggu suaminya. Dia memejamkan mata sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada. Merasakan debaran yang sayangnya bukan membuatnya bahagia, melainkan menyakitkan dan menorehkan luka baru di hatinya.
Sebenarnya, hubungan apa yang terjalin di antara kalian? Adakah yang kamu sembunyikan dari aku, Mas?
“Terima kasih atas jamuan makan malamnya. Aku sangat menikmatinya!"
"Lain kali, aku yang akan mengajakmu dan menraktirmu lagi!”
Menetes sudah air mata Egidia saat kembali mendengar suara Genio yang masih berbalas kata dengan wanita yang selama ini dicintai dan selalu menjadi prioritas utamanya. Dia merasa tidak berharga sama sekali. Tidak sebagai seorang wanita, tidak pula sebagai istri yang seharusnya lebih diutamakan oleh sang suami.
Aku kira, pujian itu hanya untuk diriku saja. Ternyata, ada wanita lain yang lebih bahagia di sana karena mendapatkan pujian yang sama. Bahkan suaramu terdengar lebih lepas dan bersungguh-sungguh saat menyampaikan pujian itu kepadanya.
Demi menjaga kondisi fisiknya yang masih lemah dan suasana hatinya yang tengah rapuh, Egidia memaksakan diri untuk mengisi perut sendirian di ruang makan yang sepi dan hening. Isak lirihnya bahkan terdengar di sela dirinya menelan suapan demi suapan yang berasa hambar karena kesedihan yang hadir bertubi-tubi hari ini.
Apakah aku masih sanggup untuk bertahan dalam pernikahan dengan cinta sepihak yang tak akan pernah terbalaskan ini? Rasanya teramat sakit dan menyiksa hati, saat mengetahui bahkan mendengar secara langsung perhatian yang diberikan suamiku untuk wanita lain yang sudah lebih dulu mengisi dan menguasai seluruh hidupnya.
Egidia berhenti di suapan yang kelima. Dia tidak sanggup lagi melanjutkan makan malamnya, sekalipun sudah dipaksakan dan dijejalkan ke mulutnya sendiri. Dia mendorong piring yang masih berisi makanan itu lebih ke tengah, lalu menjatuhkan kepalanya di atas kedua tangan yang sudah dilipat di tepian meja. Wajahnya disembunyikan, sementara bahunya mulai bergerak naik-turun seiring isak tangis yang kian menjadi.
__ADS_1
Aku mencintainya, telanjur mencintainya! Sangat mencintainya!