CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
32. ORANG LAIN YANG PEDULI


__ADS_3

Aku bersyukur masih ada orang yang peduli padaku, padahal kami baru saja bertemu dan saling mengenal. Rasa kesepianku sedikit terobati dengan keberadaan mereka. Aku benar-benar belajar untuk bersikap terbuka, dengan tetap memegang teguh batasanku sebagai seorang wanita bersuami. Bagaimanapun juga, aku masih terikat hubungan pernikahan dengan lelaki yang kini memilih pergi dan menikmati kebahagiaannya bersama cinta dalam hidupnya.


***


“Egi, kamu benar-benar keterlaluan! Mengapa tidak bercerita kepadaku atau Mbak Mutia?”


Tiara datang ke ruang perawatan Egidia, setelah mendengar kabar yang sedikit terlambat itu dari sang kakak. Mutia pun baru mengetahui pagi tadi, saat bertemu dan bertegur sapa dengan Dokter Kai. Beberapa hari sebelumnya mereka tidak bersua sekali pun karena kesibukan tugas masing-masing, meskipun berada di rumah sakit yang sama.


“Aku baik-baik saja, Tia. Terima kasih sudah datang.”


Egidia tersenyum di atas pembaringan. Posisi bagian atasnya sedikit diangkat supaya lebih nyaman bersandar dan bercengkerama dengan pembesuknya.


Jarum infus sudah menancap di punggung tangan kiri, sementara beberapa peralatan medis lain juga terpasang di tubuhnya untuk memantau kondisinya.


“Kalau hari ini Mbak Mutia tidak bertemu dengan Dokter Kai, kami pasti ketinggalan berita dan tidak bisa menemanimu untuk menjalani operasi.”


Calon psikolog yang tinggal menunggu pelaksanaan sumpah profesinya itu duduk di tepi pembaringan dengan tatapan sendu ke arah Egidia. Dalam benaknya, masih bergejolak kemarahan pada Genio lantaran lelaki itu benar-benar menghilang dan tidak pernah sekali pun kembali ke rumahnya.


“Kamu yakin, akan menyembunyikan ini dari Mas Gen?” Sekali lagi dia masih ingin memastikan keputusan wanita yang akan segera menjalani tindakan pembedahan beberapa jam mendatang.


“Ini adalah operasi besar, Egi! Belum lagi tindakan-tindakan yang lainnya yang harus kamu jalani setelahnya!”


“Kamu membutuhkan pendamping, setidaknya yang bisa menemanimu setiap saat.”


Tiara jelas mencemaskan kesendirian sang teman dalam menghadapi situasi sulitnya. Dia takut Egidia akan lebih tersiksa dan tertekan, lebih-lebih frustrasi dengan keadaannya.


Akan tetapi, wanita sahaja itu menggeleng dengan senyuman yang tampak dipaksakan. Dia sudah yakin lahir dan batin, karena tidak akan ada bedanya bila sang suami mengetahui atau tidak tentang penyakitnya. Kalaupun ada perhatian, dia yakin semua itu tidak akan tulus dan hanya formalitas hubungan dan rasa kasihan saja.

__ADS_1


“Aku tidak mau menambah beban pikiranku, Tia. Aku sudah cukup tenang dengan keadaanku yang sekarang. Aku tidak mau pikiranku menjadi bercabang jika melihat reaksi Mas Gen entah apa pun itu.”


Kata-kata terakhir sang suami selalu tersemat dalam ingatan, seolah menjadi alarm supaya dirinya tidak mengharapkan apa-apa lagi dari lelaki itu. Sudah sangat jelas Genio mengambil keputusan yang tidak membutuhkan interupsi apa pun dari dirinya selaku istri.


“Tolong, berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan tentang keadaanku ini kepada Mas Gen!”


“Jika kamu ingin membantuku, itulah bantuan yang aku harapkan dari dirimu dan Mbak Mutia.”


“Bahkan jika nanti terjadi sesuatu yang buruk kepadaku, tetaplah memegang janji ini! Entah saat itu aku masih bisa mengingat kalian atau tidak!”


Tiara tidak mengatakan apa-apa karena suaranya tercekat dan dadanya sudah terasa sangat sesak. Wanita itu langsung memeluk Egidia sangat erat. Bukan sang pasien yang meneteskan air mata, justru dia yang menangis tersedu-sedu.


Mereka memang baru beberapa bulan bertemu dan berkenalan, tapi sudah merasa dekat satu sama lain. Apalagi, Egidia adalah salah satu klien yang melakukan konsultasi dengannya seputar masalah rumah tangga yang dijalani dengan Genio.


Egidia mengusapi punggung sahabat sebayanya itu dengan penuh kasih. Wanita itu mengenakan seragam pasien dengan hijab instan yang tetap menutupi mahkota yang sudah dicukur habis beberapa waktu sebelumnya. Dia hanya akan melepasnya untuk keperluan pembedahan saja.


“Jangan menangis, Tia! Percayalah, aku akan baik-baik saja dan lebih sehat setelah menjalani serangkaian tindakan pengobatan ini.”


Di luar, Mutia yang sudah selesai dengan praktiknya hendak menyusul adiknya dan menemani Egidia. Namun, hatinya sudah bergetar dan memancing keluarnya air mata, saat melihat ketegaran wanita berhijab itu dari kotak kaca di tengah pintu.


Terbuat dari apa hatimu itu, Egi? Kamu ikhlas dijodohkan dan dinikahkan dengan lelaki yang baru kamu kenal dan ternyata dia tidak sebaik harapanmu dan harapan orang tua kalian.


Mutia yang di usianya yang ketiga puluh belum juga menikah, merasa miris dengan nasib rumah tangga Egidia yang penuh kebohongan dan kepura-puraan sejak hari pertama berstatus sebagai suami-istri.


Dia terlihat santun dan patuh di depan keluarga, tapi ternyata berperilaku busuk dan terlampau bebas di belakang. Bahkan, kami yang bertetangga dengannya pun sempat tertipu dengan sosok alimnya yang jarang bersosialisasi dengan alasan kesibukan.


Bila mengingat semua itu, Mutia sama sesaknya dengan sang adik. Mereka berdua yang sudah ditinggal kedua orang tua untuk selamanya, harus benar-benar selektif untuk memilih calon pendamping. Bukan meninggikan kriteria, hanya berhati-hati supaya tidak menyesal di kemudian hari.

__ADS_1


Setelah menetralkan perasaan dan menghalau kebenciannya pada Genio, Mutia mengetuk pintu. Namun, sebelum tangannya sempat membuka, seseorang memanggil namanya sehingga dia urung melakukannya.


“Dokter Mutia!”


Dokter kandungan itu menoleh ke asal suara. Terlihat di sana seorang lelaki berpakaian rapi dengan lengan kemeja yang sudah dilipat hingga siku, menenteng jas profesinya di tangan kiri dan berjalan cepat ke arahnya.


“Dokter Kai?”


“Maaf, saya mengganggu waktu Anda! Apakah Anda ingin mengunjungi Ibu Egi?”


Pertanyaan tersebut membuat kening Mutia berkerut dan menduga sesuatu, tapi dia menepisnya dan mengangguk sebagai jawaban untuk dokter tampan yang masih melajang itu.


“Iya. Apakah Anda akan melakukan pemeriksaan?” Mutia bertanya basa-basi walau dia tahu jika Egidia sudah dialihkan di bawah penanganan dokter spesialis yang lain.


“Tidak! Saya hanya ingin melihat kondisinya saja. Bagaimanapun juga, sebelumnya Ibu Egi adalah pasien saya dan sampai sekarang pun saya masih dilibatkan dalam tim dokter di bawah pimpinan Dokter Malik.”


Dokter Malik adalah dokter spesialis kanker yang sekarang memiliki kewenangan penuh untuk menangani pengobatan terhadap Egidia. Mutia tidak ingin membahas hal tersebut lebih jauh. Dia mengajak lelaki itu masuk untuk menemui pasiennya.


“Selamat siang, Ibu Egi!”


Sang pasien yang disapa tampak terkejut melihat kehadiran Dokter Kai di sana. Namun, sebelum wanita itu berpikiran yang tidak-tidak, dokter tampan itu sudah melanjutkan ucapannya.


“Maaf bila kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Anda!”


“Saya hanya ingin menengok dan memastikan kondisi Anda menjelang dilaksanakannya tindakan operasi.”


Egidia mengucapkan terima kasih dengan tulus, karena dialah dokter pertama yang ditemui dan menanganinya sampai akhirnya dia menerima vonis tentang penyakit yang diderita.

__ADS_1


Dokter Kai ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menahan diri agar tidak menimbulkan kecurigaan. Walaupun sebenarnya, Mutia sudah mulai menebak-nebak.


Aku hanya ingin mendoakan dirimu, Egi! Kamu pasti kuat dan bisa melalui semua ini! Bila kamu merasa lelah dan kesepian, ingatlah jika masih ada orang lain yang peduli padamu dan bersedia untuk menemanimu. Salah satunya adalah aku!


__ADS_2