
Siap tidak siap, aku harus siap! Aku sudah menentukan pilihan dan akan menjalaninya dengan keyakinan penuh. Aku ingin sembuh, meski mungkin tidak untuk selamanya. Setidaknya, aku ingin berjuang sekuat raga ini untuk menunjukkan pada suamiku, bahwa aku bukan wanita lemah yang terlena oleh cinta. Aku memang mencintainya, tapi hidupku bukan semata hanya untuk meratapi kisah cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Aku ingin tetap merasa bahagia, meski bukan dia yang menjadi sumber kebahagiaanku.
***
“Dokter Kai?”
Egidia terkejut karena orang yang ditabrak adalah dokternya sendiri. Lelaki itu masih mengenakan pakaian dan jas profesi yang sama.
“Tidak apa-apa, Ibu Egi! Saya juga salah karena berjalan tergesa-gesa.”
Dokter tampan itu harus segera menuju ruang operasi untuk bergabung dengan tim dokter yang akan melakukan tindakan pembedahan terhadap salah satu pasiennya.
Egidia menundukkan pandangan lalu bergeser untuk melanjutkan langkah. Dokter Kai pun memberi jalan dan memperhatikan kepergian wanita yang dikaguminya tersebut.
Jangan berpikiran macam-macam, Kai! Dia adalah istri orang!
Menepis bayangan kejadian tak terduga yang dialami bersama Egidia dan sempat membuat jantungnya berdegup kencang, lelaki murah senyum itu lekas berjalan dan memusatkan konsentrasinya pada tugas yang menanti.
Sementara itu, Egidia sudah selesai mengambil obat dan memasukkan kantong kecil berlogo rumah sakit tersebut ke dalam tas. Dia berpindah ke bagian administrasi untuk menunggu jadwal pemeriksaan dengan dokter spesialis yang menangani penyakit kanker, sekaligus menentukan jenis pengobatan yang akan dijalani.
Saat duduk di bagian belakang ruang tunggu yang masih kosong, dia melihat seseorang yang dikenalinya meski baru sekali bertemu. Kebetulan, orang tersebut juga melihatnya dan mengingat hal yang sama tentang pertemuan mereka.
Sosok berjenis kelamin laki-laki itu berjalan menghampiri untuk menyapanya. Senyuman lebar ditampakkan, sama seperti pertemuan mereka sebelumnya.
__ADS_1
“Maaf, kamu Egi, bukan?” Egidia mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan itu.
“Iya. Mas Meda?” Dia juga menyebutkan nama panggilan lelaki itu.
“Ah, ternyata kamu masih mengingatku juga!”
Sesaat kemudian, wajah lelaki itu berubah serius begitu menyadari bahwa tidak ada Genio bersama wanita yang duduk di hadapannya yang masih tetap berdiri. Dia ingat jika teman kerjanya itu mendapatkan tugas lapangan bersama rekan mereka yang lain.
Namun, lelaki itu berpura-pura tidak tahu dan berbasa-nasi karena telanjur berhadapan dengan wanita anggun yang tampak menyembunyikan sesuatu tersebut.
“Kamu sendirian? Maksudku, tidak ada teman atau siapa pun yang menemani, karena Genio sedang bekerja?”
Egidia menggeleng, membuat Meda semakin merasa yakin jika ada sesuatu yang aneh di antara hubungan teman kerjanya dengan sang istri.
Ada apa dengan mereka? Dari awal aku sudah merasakan keanehan pada hubungan mereka yang tiba-tiba sudah menikah. Padahal sebelumnya, santer beredar rumor tentang kedekatan Genio dan Monita.
“Kamu sakit?” Meda melanjutkan percakapan untuk menutupi kecurigaannya.
“Hanya sakit biasa, Mas.” Egidia berusaha untuk memperlihatkan wajah yang lebih ceria.
“Mas Meda sendiri, ada keperluan apa di sini? Siapa yang sakit?”
“Aku menjemput ibuku yang tadi pagi aku antarkan kemari, tapi aku tinggal dulu untuk pergi ke kantor. Tadi beliau sudah mengirimkan pesan jika pemeriksaannya sudah selesai dan masih menungguku di depan ruang pemeriksaan.”
__ADS_1
Wanita santun itu mengangguk, tepat di saat namanya dipanggil oleh petugas di bagian administrasi. Meda kembali curiga, karena biasanya yang berhubungan dengan petugas di sana adalah pasien yang akan menjalani pengobatan lanjutan atau rawat inap.
Namun, dia tidak mau berburuk sangka, selagi yang bersangkutan tidak mengatakan apa-apa. Apalagi, Egidia sudah berdiri dan berpamitan kepadanya. Dia pun akhirnya pergi ke lantai atas untuk menjemput sang ibu.
Sementara itu, Egidia mendengarkan penjelasan petugas administrasi yang mengarahkan dirinya untuk bertemu dengan dokter spesialis kanker. Dokter yang bersangkutan yang akan menentukan langkah-langkah pengobatan, termasuk tindakan pembedahan dan terapi untuk dirinya.
Sebelumnya Dokter Kai pun sudah menjelaskan jika Egidia akan dialihkan kepada dokter ahli yang khusus menangani penyakit kanker. Dia akan menjalani operasi untuk mengangkat sel kanker dengan tujuan menghentikan penyebaran yang tidak diharapkan. Selanjutnya, berdasarkan hasil pembedahan akan dilakukan pengobatan lain berupa kemoterapi dan radioterapi secara berkala.
Egidia sengaja tidak memberi kabar kepada keluarganya karena tidak ingin membebani pikiran kedua orang tuanya yang sudah berumur. Apalagi, hubungannya dengan Genio saat ini sedang bermasalah. Dia khawatir, pihak keluarga mereka akan menaruh curiga bila dia berkeluh-kesah.
Ya Allah, mudahkan segala ikhtiarku ini! Kuserahkan segalanya kepada-Mu. Berikan aku kekuatan untuk menjalani semua ini dan berikan hasil yang terbaik, apa pun itu!
***
Egidia meminta waktu untuk menyiapkan diri dan hatinya, sebelum mulai menjalani rawat inap untuk mempersiapkan segala sesuatunya menjelang tindakan pembedahan yang akan dilakukan.
Wanita berhijab sahaja itu pulang dan berkemas. Membawa sejumlah pakaian ganti yang dibutuhkan dan keperluan pribadi lainnya. Tak lupa dia juga membawa serta perangkat kerjanya, entah dokter mengizinkan dia mengisi waktu istirahatnya dengan menulis atau tidak.
Sebisa mungkin tidak ada barang dan kebutuhan yang tertinggal, mengingat dia hanya tinggal seorang diri dan akan merepotkan bila harus meminta bantuan orang lain untuk hal-hal kecil yang bersifat pribadi. Wanita itu harus mandiri dan tidak mudah bergantung pada orang lain.
Alhamdulillah! Semoga tidak ada yang ketinggalan lagi!
Egidia membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Dia memejamkan mata dan langsung terlelap begitu saja. Dalam mimpinya, lagi-lagi dia mendengar suara bayi seperti sebelumnya. Kali ini, suara itu semakin jelas tapi tetap tidak terlihat penampakannya sama sekali.
__ADS_1
Suara itu ...? Bayi siapakah itu?