CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
22. TIDAK SEHAT


__ADS_3

Aku tahu cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa aku tetap tak bisa berhenti berangan? Kini aku mempunyai dua harapan yang entah apakah bisa menjadi kenyataan. Harapan untuk bahagia dan harapan untuk sembuh. Masing-masing dari keduanya mempunyai dua sisi kemungkinan. Bahagia bersamanya atau bahagia tanpa dirinya? Sembuh seperti sedia kala atau sembuh karena nyawa terlepas dari raga?


***


Egidia tidak mau berpikiran negatif, meskipun pada kenyataannya dia melihat kecenderungan yang sama seperti yang diduga oleh Tiara. Wanita berhijab sahaja itu enggan membebani pikirannya dengan terus-menerus mencurigai suaminya sendiri.


Hatinya memang sakit dan terluka dengan sikap Genio, tapi belum terbersit sedikit pun keinginan untuk menyelesaikannya dengan cara apa pun. Dia masih ingin bertahan, setidaknya sampai dirinya yakin sepenuhnya bahwa perjuangannya menemukan titik terang atau sebaliknya, kian suram dan kehilangan harapan.


“Terima kasih atas kesediaanmu untuk mendengarkan ceritaku. Maaf, jika aku belum bisa mengambil keputusan apa-apa untuk saat ini.”


“Setidaknya, sekarang hatiku merasa lega dan lebih tenang karena sesak yang memenuhi dada dan pikiran ini sudah berkurang dengan berbagi kepada orang yang tepat seperti dirimu.”


“Sekali lagi, terima kasih, Tia!”


Tiara mengangguk dan tersenyum. Dia masih terus menggenggam tangan Egidia dengan memberikan usapan penenang. Tugasnya hanya sebagai pendengar yang baik dan memberikan alternatif solusi yang bisa dipilih oleh kliennya, apakah akan dijalankan atau masih ditangguhkan dengan keyakinannya sendiri.


“Sama-sama, Egi!”


“Tidak masalah bagiku karena segala keputusan ada pada dirimu sendiri. Semoga kamu diberikan kekuatan untuk menjalani apa pun pilihanmu, demi kebaikan rumah tanggamu dengan Mas Gen.”


***


Satu minggu berlalu, saatnya Egidia kembali berkonsultasi dengan Dokter Kaivan untuk mengetahui dan membahas hasil pemeriksaan lanjutan yang sudah dilakukan. Sejujurnya, firasatnya sangat kuat dan terus mengarah pada kemungkinan terburuk. Meski begitu, dia tidak mau terpuruk sebelum mendapatkan kepastian.

__ADS_1


Kali ini, entah angin apa yang membuat Genio mengajak istrinya berangkat bersama. Bahkan, lelaki itu bersedia menemani sampai ke ruang pemeriksaan, walau tidak bisa mendampingi sampai bertemu dengan sang dokter.


Perhatian seperti itu saja sudah sangat disyukuri oleh Egidia dan membuat hatinya membuncah bahagia. Tidak peduli setelah itu akan terjadi drama kesedihan lagi, dia hanya berusaha untuk menikmati waktu yang diluangkan sang suami untuk dirinya.


“Maaf, aku harus segera pergi ke kantor.” Genio memperhatikan penanda waktu di pergelangan tangan kiri.


Egidia mengangguk dan mengambil tangan suaminya untuk dicium dengan takzim, sebelum Genio menghindar lagi dengan alasan terburu-buru. Beberapa hari terakhir, lelaki itu memang selalu beralasan hal yang sama sehingga tidak pernah menyempatkan waktu untuk melakukan ritual suami-istri yang sebelumnya masih rutin dilakukan.


Dia tampak canggung saat akhirnya kembali melabuhkan ciuman singkat di kening sang istri yang menyambut dengan senyuman bahagia yang tak bisa disembunyikan.


“Hati-hati saat pulang. Hari ini aku akan pulang menjelang petang.”


“Iya, Mas. Kamu juga hati-hati di jalan. Nanti aku akan menyiapkan makan malam untuk kita.”


Percakapan singkat yang sederhana dan biasa bagi kebanyakan pasangan, adalah kebahagiaan yang sangat berarti dan luar biasa bagi Egidia, di tengah kondisi rumah tangganya yang masih belum bisa diraba akan menjadi bagaimana ke depannya.


Suasana masih belum ramai dan hanya satu dua pasien yang sudah menunggu di depan ruang praktik masing-masing dokter. Egidia menenangkan diri dengan membuka akun media sosial untuk mengusir rasa takut jika terus-menerus memikirkan hasil yang akan disampaikan oleh Dokter Kai.


Karena tidak ada kabar atau berita yang menarik perhatian, dia kembali menutupnya dan memilih untuk melanjutkan tulisan yang tertunda sekian lama karena sulit untuk berkonsentrasi seperti dulu.


Apakah ini berhubungan dengan penyakit yang aku derita? Apakah separah itu, sampai untuk menulis pun sangat sulit untuk kulakukan? Belum lagi mual dan muntah yang hampir setiap hari sering kualami, apakah itu juga karena penyakitku ini?


Berniat untuk menenangkan diri, nyatanya Egidia justru kembali dilanda ketakutan yang sama tentang kondisi kesehatannya. Dia menutup ponselnya dan urung melakukan apa-apa. Air matanya mengalir begitu saja, saat matanya terpejam dan menunduk untuk menyembunyikan dari sekitar.

__ADS_1


Diam-diam, tanpa disadari oleh siapa pun yang ada di sana, seseorang terus memperhatikan Egidia dengan tatapan yang sarat akan kesedihan. Hatinya merasa terenyuh, melihat seorang wanita yang begitu lemah tengah duduk sendirian meratapi keadaan. Lelaki yang seharusnya bisa menjadi sandaran dan tempat untuk menguatkan hati, malah pergi begitu saja dan membiarkannya menghadapi badai tanpa ditemani.


Lelaki yang tidak bisa menjaga istrinya adalah lelaki yang tidak pantas diharapkan apalagi diandalkan!


Ada rasa geram di hatinya karena melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lelaki yang tidak pantas disebut sebagai suami itu memperlakukan Egidia dengan sikap dingin dan menjaga jarak.


Pernikahan seperti apa yang mereka jalani? Mengapa dia masih kuat untuk bertahan dalam hubungan yang tidak sehat dan jauh dari kata sakinah?


Setelah puas melepaskan beban yang menyesakkan dada melalui sedikit tangisan, Egidia kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Bahkan, dia mulai menyapa ramah beberapa orang di sekitarnya.


Waktu sudah menjelang praktik pagi dimulai. Dari arah lift terlihat sejumlah dokter datang bersamaan, termasuk Mutia dan Dokter Kaivan.


Dokter kandungan itu menyapa sang tetangga dengan ramah, sebelum masuk ke ruangannya. Di belakangnya, Dokter Kaivan turut berhenti sejenak saat melihat pasiennya masih menyapa Mutia.


Dokter tampan berkacamata itu juga menyapa Egidia dengan ramah dan memintanya untuk menunggu sebentar lagi. Setelah sang pasien mengangguk, dia segera masuk dan bersiap-siap sebelum perawat pendampingnya mulai memanggil pasien urutan pertama.


“Selamat pagi, Dokter!” sapa Egidia santun.


“Selamat pagi, Ibu Egidia!”


Meski hatinya sudah terasa tak karuan, Egidia berusaha tenang dan tidak mendahului bertanya. Kedua tangannya saling meremas untuk meredakan kegugupan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.


Sekilas Dokter Kai memperhatikan pasien pertamanya yang tampak menunduk. Dia merasa berat untuk menyampaikan hasil pemeriksaan yang sudah diterima dari petugas laboratorium.

__ADS_1


Setelah Egidia melakukan pemeriksaan awal bersama perawat dan sudah kembali duduk di hadapannya, Dokter Kai mulai memberi tahu hasil yang sudah mereka tunggu selama satu pekan. Hasil yang akan menentukan langkah pengobatan apa yang harus dijalani Egidia usai diketahui penyakit yang diderita.


“Berdasarkan pemeriksaan lanjutan yang sudah dijalani, dengan berat hati kami harus menyampaikan bahwa Ibu ....”


__ADS_2