CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
12. HARAPAN SEMU


__ADS_3

Aku tidak bermaksud mengumbar aib rumah tanggaku pada orang lain. Akan tetapi, dengan kondisiku yang sendiri dan kesepian di tempat ini, aku membutuhkan tempat berbagi selain pada Yang Maha Kuasa. Sekadar teman untuk mendengar keluh-kesahku. Sekadar untuk melepaskan beban yang makin mendesak di sudut kalbu. Sungguh, aku menghormati suamiku dan tidak ingin membuatnya buruk di mata orang lain. Hanya saja, aku tidak bisa menyembunyikan masalah ini dari seseorang yang sudah terbiasa menangani hal serupa. Semoga, aku tidak salah mengambil keputusan!


***


Awalnya, Egidia masih diam dan bertahan untuk tidak mengatakan apa pun pada Tiara. Namun, setelah wanita cantik itu mengatakan bahwa dirinya mempunyai latar belakang ilmu dan profesi yang berhubungan dengan hal-hal semacam ini, hatinya mulai goyah.


“Sebelumnya, aku minta maaf jika pertanyaanku terlalu lancang dan sok tahu. Aku tidak akan memaksamu untuk berbagi jika dirimu merasa tidak yakin, apalagi tidak nyaman.”


“Namun, ada satu hal yang kamu perlu tahu, jika aku adalah sarjana psikologi dan sedang menyelesaikan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapatkan gelar psikolog.”


Tanpa bermaksud meninggikan diri, Tiara berkata dengan sangat lembut dan tenang. Dia tahu harus bersikap bagaimana dalam menghadapi seseorang dengan kondisi yang kurang lebih sama seperti Egidia.


Apalagi, sebagian besar dari mereka yang mengalami problema rumah tangga akan cenderung tertutup dan memilih untuk menyimpan masalahnya seorang diri, karena beranggapan bahwa semua itu adalah sesuatu yang tabu dan tidak layak diketahui dan diperbincangkan dengan orang lain.


Tiara tidak akan memaksa jika memang usahanya tidak membuahkan hasil dan sang tetangga tetap tidak ingin berbagi dengannya. Terlebih lagi, yang dia tahu bahwa Genio dan Egidia baru saja menikah. Mungkin memang mereka masih membutuhkan waktu untuk melakukan penyesuaian diri satu sama lain.


Namun, secara insting dari apa yang dilihat dan diperhatikan dari tingkah-laku Egidia yang memilih diam dan seolah menarik diri serta membatasi topik pembicaraan, dia bisa menangkap dengan jelas bahwa wanita itu dalam keadaan yang tertekan dan tidak baik-baik saja.


Ditambah lagi dengan kondisi fisiknya yang tengah menurun, sangat terlihat jika dia begitu lemah dan tak punya daya apa-apa. Mungkin sengaja diam demi sebuah harapan atau memang yang dinanti hanyalah harapan semu.


Sementara sang tetangga mulai pasrah dan tidak berkata-kata lagi namun tetap menyunggingkan senyuman penenang, Egidia justru kian ragu dan bimbang. Dia merasa sungkan, tapi juga masih ingin menyimpan semuanya seorang diri.

__ADS_1


Lagi pula, mereka baru saja berkenalan, rasanya kurang nyaman saja untuk bercerita. Jangankan pada teman baru, dengan kawan lama pun dirinya masih berpikir panjang untuk melakukannya.


Meskipun tertarik dengan ilmu yang dikuasai oleh Tiara, Egidia tetap menahan diri untuk tidak terbawa emosi saat memutuskan sikapnya. Biarkan saja jika wanita cantik itu memang bisa membaca raut wajah dan mengartikan sikap yang dia tunjukkan, karena memang mempunyai kemampuan dalam hal tersebut.


Tak ingin sang tetangga salah paham karena sikap diamnya, Egidia akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan keputusannya. Dia membalas sentuhan tangan Tiara sehingga mereka saling menggenggam dengan kelembutan.


“Terima kasih atas perhatian dan kepedulianmu, Tia. Aku sangat menghargainya.”


“Namun, untuk saat ini aku baik-baik saja dan bisa mengatasi semuanya, apa pun itu.”


Tiara mengangguk tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. Dia menghormati keputusan Egidia yang ingin menjaga privasinya. Namun, dia tetap tidak bisa mengabaikan kondisi fisik wanita berhijab sahaja tersebut.


“Tidak apa-apa. Nyamankan dirimu karena kamu sendiri yang mengetahui bagaimana cara membahagiakan diri sendiri.”


Sekali lagi, Tiara masih menyarankan supaya Egidia menghubungi suaminya, sekadar untuk memberi tahu tentang keadaannya saat ini. Namun, wanita yang masih terlihat pucat menahan rasa sakit itu tetap menolak dan mengatakan bahwa dirinya hanya membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak.


Akhirnya, setelah kurang lebih satu jam menemani Egidia yang keadaannya mulai membaik dan bisa berdiri juga berjalan dengan kekuatan penuh, Tiara pamit karena ada agenda yang harus dilakukan di luar rumah. Tak lupa dia membawa mangkuk yang masih kotor karena belum sempat dicuci oleh Egidia.


"Maaf, karena aku belum membersihkan mangkuknya!" Wanita yang sudah kembali mengenakan jilbabnya itu merasa sungkan.


"Jangan dipikirkan. Yang penting kamu menyukai hasil masakanku."

__ADS_1


Tiara mencegah tuan rumah yang masih lemah itu turun dari beranda. Dia mengatakan akan mengunci pagar depan supaya Egidia merasa aman dan nyaman tanpa perlu merasa kerepotan.


Setelah melihat Tiara masuk ke rumahnya, Egidia menutup dan mengunci pintu depan, lalu kembali ke kamar untuk beristirahat. Tubuhnya masih merasa tidak nyaman terutama di bagian kepala dan perut.


Ya Allah, jangan beri aku sakit seperti ini! Sehatkan aku dan jangan sampai Mas Gen curiga dan mengetahui kesakitanku!


Begitu sayangnya dia pada sang suami, hingga tak ingin membuat lelaki itu merasa terbebani hanya karena dirinya sakit.


Sebelum menuju tempat tidur, wanita yang sudah meletakkan kain penutup kepala pada gantungan yang dipasang di sisi luar lemari pakaian itu membereskan perangkat kerjanya karena urung menulis.


Dia merapikan meja kerja Genio dan memastikan semuanya sudah kembali seperti semula, lalu berjalan pelan ke tempat tidur.


Sebaiknya aku tidur dulu. Semoga nanti sore saat bangun, tubuhku sudah bugar kembali dan tidak merasakan nyeri ini lagi.


Egidia mengangkat kedua kaki dan meluruskannya di atas kasur, lalu mengatur posisi bantal supaya bisa menopang kepalanya dengan nyaman saat dirinya merebahkan badan.


Mencoba memejamkan mata dalam posisi telentang, ternyata membuat kepalanya berdenyut lebih hebat. Akhirnya dia mengubah posisi menjadi miring dan meringkuk seperti sebelumnya.


Baru saja menutup sepasang matanya yang mulai terasa berat, dering ponsel membuatnya kembali menajamkan penglihatan. Dia meraih ponsel yang sedari tadi diletakkan di sebelah bantal.


Sebuah pesan baru saja masuk dan membuat senyumnya merekah begitu saja. Nama kontak yang tertera di layar begitu membahagiakan hatinya. Dengan segera dia membuka dan membaca isi pesan tersebut.

__ADS_1


Senyuman yang semula merekah indah, seketika hilang dan berganti dengan kemurungan, saat mengetahui maksud dari pesan yang dikirimkan oleh suaminya tersebut. Air matanya menetes hingga membasahi layar yang masih terus ditatapnya dengan rasa kecewa.


“Egi, hari aku lembur di kantor. Aku akan pulang terlambat, jadi pastikan dirimu nanti sudah makan malam dan beristirahat tepat waktu. Tidak perlu menungguku!”


__ADS_2