
Aku benar-benar harus berjuang seorang diri. Tanpa suami yang seharusnya menjadi tempat bersandar dan berkeluh kesah. Tanpa orang tua yang tanpa diminta pasti selalu siaga untuk putri manjanya ini. Tanpa orang terdekat yang bisa aku jadikan tempat berbagi tentang segala hal. Mungkin dengan kepergian suamiku yang tengah marah, aku harus belajar membuka diri dan menerima uluran tangan dari orang lain yang bisa kujadikan sebagai sahabat.
***
“Bagaimana, Ibu Egi? Apakah Anda sudah bisa memberi kami jawaban?”
Dokter Kaivan yang murah senyum dan selalu santun memperlakukan setiap pasiennya menunggu kepastian dari Egidia, setelah sebelumnya menyapa dan melakukan pemeriksaan rutin dibantu oleh perawat pendamping.
Dari tatapan matanya yang teduh, sangat terlihat jika dia berharap sesuatu yang sama seperti keinginannya. Dia sudah banyak menangani kasus pasien serupa Egidia dengan persentase kesembuhan yang sangat kecil, namun tidak berputus asa dan terus melakukan ikhtiar bersama tim dokter.
Sama halnya kepada sang pasien yang selalu datang seorang diri tersebut, dia tidak ingin wanita itu menyerah tanpa melakukan upaya maksimal untuk kesembuhannya. Apa pun hasilnya, hanya Tuhan yang berhak menentukan keputusan.
Egidia mengangguk dengan senyuman kecil yang samar terlihat. Dia teringat akan ucapan Genio, yang membebaskan dirinya untuk melakukan apa saja dan menganggap bahwa sang suami sudah memberikan izin sepenuhnya.
Berbekal keyakinan atas pesan terakhir tersebut, akhirnya dia memantapkan hati untuk menentukan pilihan terbaik bagi dirinya, kesehatannya dan masa depannya.
Bismillah! Aku melakukan semua ini atas izinmu, Mas!
“Saya siap, Dokter!”
“Siap?” Dokter Kai membutuhkan jawaban yang lebih jelas dari sekadar kata siap.
“Iya, Dok! Saya siap untuk menjalani pengobatan bersama Anda dan tim medis di rumah sakit ini!” jawab Egidia dengan mantap.
“Saya ingin melanjutkan ikhtiar saya di sini, apa pun hasil akhirnya nanti!!”
__ADS_1
“Saya percaya sepenuhnya kepada Dokter Kai dan tim yang akan menangani saya!”
Lembut tutur kata Egidia tidak hanya membuat sang dokter terkesiap dan semakin kagum, namun juga merasa bahagia dan bersyukur.
“Alhamdulillah! Saya senang mendengarnya! Anda memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh dan saya suka dengan pasien yang optimis!”
Egidia menanggapi dengan anggukan kepala dan ucapan terima kasih. Satu beban sudah terlepas dari hati, dengan keputusan yang diambil pagi ini. Dia akan terus berjuang melawan penyakit parah yang divoniskan dokter kepadanya, meski tanpa dukungan dari orang-orang terdekat yang diharapkan.
Syukurlah kamu pantang menyerah dan tidak merasa putus asa, Egi! Aku berjanji akan mengupayakan yang terbaik untuk dirimu! Baik sebagai dokter yang menanganimu selaku pasienku, maupun sebagai seorang lelaki yang mengharapkan kesembuhan dari wanita yang sudah membuatku jatuh hati!
Tidak seorang pun yang mengetahui hingga detik ini, jika dokter tampan itu diam-diam menyukai pasiennya sendiri. Sayangnya, dia harus menelan pil pahit di waktu yang bersamaan, karena pada kenyataannya, pasien tersebut sudah bersuami.
Dia bukan tidak tahu apa yang terjadi di antara Egidia dan suaminya. Sejak pertama kali bertemu dengan wanita berhijab sahaja itu, dia sudah merasa curiga karena sang pasien datang seorang diri dan selalu tampak murung jika disinggung tentang dukungan dari pasangannya.
Dia sengaja membatasi jadwal pemeriksaan pada hari itu demi memastikan sang pasien tiba di rumah dengan selamat. Namun, karena membuntuti Egidia, dirinya pun jadi tahu apa yang dilihat wanita tersebut di lantai basemen salah satu apartemen di kota itu.
Seharusnya lelaki itu bersyukur mendapatkan wanita salihah nyaris sempurna seperti Egidia! Bukannya bersikap penuh kasih sayang, justru bermain cinta dengan wanita lain di belakang istrinya yang sedang sakit!
Bila mengingat apa yang juga dilihatnya kala itu, hati Dokter Kai masih dipenuhi amarah dan rasa tak terima. Namun, dia tidak memiliki kapasitas apa-apa untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Jika Egidia mengetahuinya pun, sudah pasti wanita itu tidak akan menyukai sikap dan perbuatannya.
“Apa yang harus saya lakukan atau saya persiapkan, Dokter?”
Suara lembut Egidia menyadarkan sang dokter dari lamunannya tentang pemilik kemerduan itu. Sigap dia mengangguk lalu melanjutkan laporan yang harus ditulis pada berkas riwayat kesehatan pasien istimewanya.
"Tunggu sebentar!"
__ADS_1
Dia meminta perawat untuk memeriksa jadwal terapi dan segala hal yang berhubungan dengan proses pengobatan Egidia. Lelaki berkulit putih bersih itu sudah menghubungi rekan dokter yang bertugas di klinik penderita kanker di rumah sakit tersebut dan menjelaskan tentang kondisi sang pasien. Dia ingin wanita itu mendapatkan perawatan yang terbaik dan sesegera mungkin. Lebih cepat, lebih baik!
Selanjutnya, untuk mendapatkan jadwal pertemuan dan pemeriksaan dengan dokter yang akan menanganinya, Egidia diminta menunggu selesainya surat rujukan dibuat sembari menebus resep baru di bagian farmasi.
“Terima kasih banyak, Dokter!” ucap Egidia saat berdiri dan hendak keluar dari ruang pemeriksaan. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dada, membuat Dokter Kai semakin terpesona dengan perilaku santun yang selalu dijaga.
“Sama-sama, Ibu Egi! Tetap semangat, ya!”
Wanita itu membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman tulus yang lagi-lagi membuat lelaki tampan berkalung stetoskop itu berdebar-debar.
Seandainya kamu masih sendiri, aku tidak akan membuang waktu untuk menunda. Aku akan langsung melamar dan menikahimu. Sayang sekali, takdirku tak seindah impian di hatiku!
***
Aku akan memulai pengobatanku, Mas! Aku minta izin untuk menggunakan nafkah darimu untuk membiayai semua ini. Jangan khawatir, kekurangannya akan aku penuhi dengan tabunganku sendiri. Insyaallah, masih bisa mencukupi!
Sambil menunggu resepnya disiapkan, Egidia menatap wajah suaminya di layar ponsel. Sebuah foto yang diambil saat keduanya dipertemukan untuk pertama kali. Egidia mengambilnya dari album keluarga dan disimpan di dalam koper saat berkemas untuk mengikuti sang suami dan hidup bersamanya. Namun sekarang, dia justru ditinggalkan seorang diri di kota yang masih asing baginya.
Wanita itu kembali menyimpan ponsel saat mendengar namanya dipanggil oleh petugas di bagian farmasi. Lekas dia berdiri dan berjalan untuk mengambil obat-obatan yang sudah siap. Karena hanya fokus ke arah yang dituju, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang secara bersamaan datang dari arah yang berlawanan.
Nyaris terjatuh karena badannya limbung ke belakang, Egidia merasakan tubuhnya ditahan oleh tangan yang kini masih menopang bagian punggungnya. Refleks, kedua tangannya pun sudah berpegangan pada kedua lengan orang yang ditabrak sekaligus menolongnya.
Begitu melihat wajah seseorang yang masih cukup dekat dengan dirinya, buru-buru wanita itu menegakkan badan lalu melepaskan kedua tangannya dengan gugup.
“Ma-Maaf! Maafkan saya!”
__ADS_1