CINTA TAK BERTUAN

CINTA TAK BERTUAN
24. TIDAK BERHARAP LAGI


__ADS_3

Aku hanya membutuhkan dukungan dan doa untuk melawan penyakitku. Tidak berharap lebih dari itu karena aku tahu bagaimana hubungan kami sejauh ini. Namun, di saat aku ingin menyampaikan kejujuran kepadanya, terlebih dahulu dia memberiku kejutan yang seketika membuatku urung untuk melakukannya. Akhirnya, kuputuskan untuk tidak lagi mengusiknya, apa pun yang terjadi padaku dan pada ikatan yang terjalin antara diriku dan dirinya.


***


“Mas Gen?”


Seketika Egidia menutup mulutnya yang sempat bersuara lirih secara spontan, tatkala melihat mobil sang suami yang tiba-tiba terlihat di seberang jalan, sedang memasuki kawasan apartemen dengan area yang luas.


Jika penglihatannya tidak salah, sekilas dia melihat bayangan seseorang di kursi samping pengemudi. Kaca mobil Genio memang gelap, namun dengan pantulan sinar matahari masih bisa menampakkan bayangan di dalamnya.


Mengapa Mas Gen tidak berada di kantor, sedangkan kepadaku dia mengatakan sedang sibuk dan banyak sekali tugas yang menumpuk?


Tak ingin kehilangan kesempatan untuk mencari tahu kebenarannya, dia meminta tolong pada pengemudi taksi yang ditumpangi untuk mengikuti masuk ke halaman parkir demi memastikan sangkaannya.


Beruntung, sang pengemudi yang seorang bapak-bapak bersedia dan lekas menyalakan lampu sein untuk berpindah ke lajur kanan, karena harus berputar arah pada jalur yang disediakan di depan kawasan tempat tinggal modern dan masa kini tersebut.


Lalu-lintas yang lengang mempercepat kesempatan mereka untuk menyeberang dan masuk ke kawasan mewah yang menyediakan lokasi parkir di bagian basemen. Karena mobil Genio turun ke lantai bawah tanah tersebut, taksi pun mengikuti dengan jarak beberapa kendaraan yang sudah mendahului.


Egidia mencari-cari keberadaan mobil suaminya yang tiba-tiba menghilang. Taksi pun berhenti sejenak di salah satu sudut yang aman. Hingga akhirnya sang pengemudi memberi tahu Egidia bahwa kendaraan yang diikuti berhenti di sudut lain yang masih terjangkau pandangannya dari posisi mereka saat ini.


Tanpa mematikan mesin, lelaki paruh baya yang duduk di belakang kemudi itu memberi waktu pada penumpangnya untuk melihat dan memperhatikan obyek yang dituju. Perasaannya sebagai orang tua merasa tergugah untuk membantu walau hanya sekadar mengantarkan, setelah melihat wajah pucat Egidia yang basah oleh air mata dari kaca spion.

__ADS_1


Dari kursi bagian belakang, wanita berhijab sahaja makin dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya kemudian. Suaminya keluar dari mobil lalu berputar ke sisi kiri dan membukakan pintu untuk seseorang.


Jantungnya berdegup kencang setelah melihat sosok yang turun dengan bantuan tangan Genio, kemudian berdiri saling berhadapan dengan senyuman yang saling mengembang sempurna.


“Monita ...,” gumamnya sangat lirih dengan tatapan nanar yang kian terasa panas.


Mengapa mereka berdua pergi ke apartemen di jam kantor seperti ini? Apakah karena alasan pekerjaan atau kepentingan pribadi? Siapa yang tinggal di sini? Apakah wanita itu?


Air mata Egidia mengalir semakin deras manakala melihat dua orang yang diikutinya itu berjalan bergandengan tangan dengan nyaman tanpa rasa sungkan. Bahkan, sesekali tangan Monita yang lain bergerak mengusapi lengan Genio dengan manja.


Sedekat itukah hubungan mereka selama ini? Mengapa sampai harus bersentuhan, padahal mereka bukan pasangan sah? Hanya teman, kata Mas Gen!


Namun, sedikit kepercayaan yang masih tersisa di hati untuk sang suami, seketika menghilang begitu saja kala dengan mata kepala sendiri, Egidia melihat lelaki yang dicintainya melabuhkan satu ciuman di pipi wanita cantik di sampingnya.


Egidia kembali menutup mulut, kali ini tanpa suara yang keluar dari bibirnya yang terus bergetar hebat menahan tangisan yang masih tumpah tak terbendung. Teramat sakit hatinya melihat pengkhianatan sang suami, yang entah sudah sejauh mana mereka berhubungan sebenarnya.


Meskipun hubungan mereka hanya sebatas status hitam di atas putih, tetap saja wanita itu terluka hatinya. Bagaimanapun juga, dia telanjur melibatkan perasaan terdalamnya dalam hubungan di antara dirinya dan Genio.


Mengapa harus berbohong, Mas? Mengapa tidak jujur saja kepadaku? Mungkin rasanya tidak akan sesedih dan sesakit ini bila kamu sendiri yang mengakui, bukan aku yang memergoki.


Sampai kedua sosok berlainan jenis itu menghilang di balik pintu penghubung menuju gedung apartemen, barulah Egidia menyudahi tangisannya dan berusaha untuk mengatur napas yang masih sulit diatur dengan baik dan tenang.

__ADS_1


Dia meminta sang pengemudi kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah, setelah mengucapkan permohonan maaf karena membuat waktu pesanan menjadi lebih lama. Lelaki paruh baya itu tidak mempermasalahkan hal tersebut dan sudah berniat membantu dengan ikhlas.


Bahkan, beliau juga memberikan sedikit wejangan pada Egidia tanpa bermaksud menggurui atau mempengaruhi.


“Jika seorang lelaki sudah berani bermain api dan berkhianat di belakang, maka pertimbangkan sekali lagi bila ingin bertahan untuk tetap bersama. Karena bukan hanya perasaanmu yang akan dikorbankan, tapi juga masa depanmu yang akan semakin suram jika tetap memilih untuk melanjutkan.”


***


Menatap obat-obatan yang dikeluarkan dari kantong dan ditata di atas meja, membuat Egidia kembali teringat dengan vonis yang disampaikan Dokter Kai kepadanya. Tentang sel kanker yang sudah berkembang dan menghancurkan bagian otaknya sedikit demi sedikit, hingga tanpa disadarinya telah menginjak stadium lanjut.


Bahkan, dari hasil pemeriksaan lanjutan yang sudah dilakukan secara lengkap dan menyeluruh, diketahui bahwa sel-sel berbahaya tersebut sudah menyebar ke organ vital yang lain, sehingga membuat daya tahan tubuhnya semakin menurun drastis akhir-akhir ini.


Dia duduk di belakang meja kerja yang dibelikan Genio untuknya, menunduk dengan mata tertutup rapat. Berusaha untuk mengingat-ingat, sejak kapan dia mulai merasakan kelainan pada tubuhnya, terutama di bagian kepala.


Mungkin aku tidak bisa membedakannya. Aku hanya menganggap sebagai sakit kepala biasa yang sesekali muncul di saat kondisi tubuh sedang lemah dan menurun, sehingga rentan terserang flu atau penyakit ringan yang lain. Sepertinya, aku telah salah memahami kondisi tubuhku sendiri.


Sekarang, menyesali ketidakpekaannya sendiri pun tiada guna. Semua sudah terjadi dan hanya bisa dilakukan pengobatan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Jika tidak bisa menyembuhkan, setidaknya bisa memperpanjang usianya entah sampai kapan.


Baru saja menenangkan diri dan berusaha menerima ujian sakitnya dengan ikhlas, Egidia kembali murung saat mengingat apa yang dilihatnya sepulang dari rumah sakit. Pemandangan yang tidak pernah disangka apalagi dibayangkan, bisa dilakukan oleh suaminya sendiri yang terlihat santun dan selalu menjaga pandangan apalagi sentuhan dengan lawan jenis.


Inikah pilihanmu, Mas? Jika memang dia yang benar-benar bisa membuatmu nyaman hingga mengabaikan diriku yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya, aku akan menyerah!

__ADS_1


Aku tidak akan berharap lagi padamu! Aku akan berjuang sendiri untuk melawan penyakitku ini, tanpa melibatkan dirimu yang sudah menentukan pilihan, kepada siapa harus berpaling dan bersenang-senang!


__ADS_2