
Aku menyerah! Kuputuskan untuk berbagi kisah pilu ini pada pihak yang bisa membantuku untuk mengambil langkah terbaik. Bukan untuk mengumbar aib, tapi berusaha untuk mengubah nasib. Mengharapkan suamiku berubah, rasanya sudah tidak ada harapan lagi. Dia telanjur menikmati dunia indahnya bersama wanita yang dicintai, tanpa ada keinginan untuk memahami perasaanku dan juga perjuanganku sejauh ini.
***
“Egi, maafkan aku! Sebenarnya, tadi itu ....”
“Maaf, Mas! Tidak perlu menjelaskan apa-apa kepadaku. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan tentang lelaki dan wanita lain dalam rumah tangga kita?”
“Jadi, sebaiknya tetap seperti ini saja, kecuali kamu ingin mengubah kesepakatan di awal pernikahan kita dulu.”
Entah keberanian dari mana, Egidia mampu bertutur panjang lebar untuk membalas sang suami yang bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Dia sudah tahu tujuan Genio menyusulnya ke dapur, setelah mengakhiri panggilan suara dari Monita.
Sambil mengaduk teh hangat yang dibuat untuk menenangkan diri, Egidia tidak menoleh ke arah lelaki yang berdiri di ambang pintu penghubung, dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya.
Sebisa mungkin dia menguatkan diri, walau tubuhnya sudah nyaris kehilangan tenaga sama sekali. Kepalanya kembali terasa nyeri, menusuk dan membuatnya harus memejamkan mata dan menggigit bibir untuk menahannya.
Kuatkan aku, ya Allah! Aku tidak mau menjadi lemah, terutama di depannya. Aku ingin menghadapi semua ini dengan hati yang tegar. Baik untuk menghadapi suamiku maupun menghadapi kemungkinan terburuk tentang penyakitku.
Egidia menyesap minumannya sedikit demi sedikit, setelah berjalan melewati suaminya lalu duduk dan menenangkan diri di ruang makan. Dia membiarkan lelaki itu menyusulnya dan ikut duduk di sampingnya.
“Aku mengaku salah dan aku minta maaf!”
“Apa kesalahanmu, Mas? Aku justru tidak mau membicarakannya supaya kita berdua sama-sama tidak bersalah dengan melanggar kesepakatan kita.”
“Jika kita terus melanjutkan pembicaraan ini, itu artinya kita tidak konsekuen.”
Egidia mengosongkan cangkirnya karena sengaja membuatnya tidak terlalu panas supaya bisa lekas dihabiskan. Dia berdiri untuk kembali ke kamar, tapi Genio menahan tangannya.
“Dengarkan aku dulu, Egi!”
__ADS_1
Ada yang berdesir di dalam dada wanita yang mengenakan baju rumahan lengan pendek itu, saat merasakan sentuhan suaminya. Meski bukan adegan romantis, tapi tetap membuatnya jantungnya berdetak keras.
Mengapa aku harus memiliki rasa ini? Rasa indah yang hanya tumbuh di hatiku, tidak di hatinya.
Egidia hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Tetap berdiri tapi menunda langkah untuk beranjak dari sana. Hanya menunggu Genio melakukan apa yang dimau.
“Aku harus menjelaskan kepadamu, supaya kamu mengerti dan tidak salah paham.”
“Aku dan Mo ..., maaf, aku dan dia sudah terbiasa seperti ini dan tidak ada maksud dari aku untuk sengaja menunjukkannya padamu atau membuatmu merasa tidak nyaman karenanya.”
“Jika ternyata kamu merasa keberatan, aku tidak akan melakukannya lagi saat kita sedang bersama atau sama-sama sedang berada di rumah.”
Jawaban Genio membuat hati Egidia semakin terasa sakit. Tidak menyangka jika lelaki itu akan mengajukan solusi yang tetap berpihak pada wanita lain, bukan kepada istrinya sendiri.
Sepertinya, aku sudah tidak mungkin berharap lagi kepadanya. Dia sudah menentukan pilihannya dengan jelas dan sangat yakin. Aku tidak lebih dari istri di atas kertas. Hanya sebatas hitam di atas putih. Tanpa rasa, apalagi cinta!
***
Setelah kejadian semalam dan kembali memikirkan nasihat dati Mutia yang dirasa ada benarnya, wanita itu membuat janji dengan Tiara untuk berbicara berdua. Kebetulan, hari itu sang tetangga sedang senggang dan tidak ada agenda di luar rumah, sehingga bisa meluangkan waktu untuk dirinya.
Usai kepergian Genio ke kantor dan dirinya menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan tenaga yang timbul-tenggelam, disertai gejala yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya, Egidia bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah seberang.
Sebagai pihak yang membutuhkan bantuan, dia memilih untuk datang ke sana sekaligus membawakan kue yang kali ini hanya dipesan melalui aplikasi daring.
“Maaf, aku tidak membuatnya sendiri karena ....”
“Tidak apa-apa. Aku mengerti dan kamu tidak perlu memaksakan diri.” Tiara memotong ucapan wanita berhijab sahaja tersebut.
“Utamakan kesehatan dan kesembuhanmu!” Dia mempersilakan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Setelah Tiara menyiapkan minuman untuk keduanya, mereka duduk bersama di kursi panjang yang menghadap ke arah luar. Egidia memulai ceritanya sambil mengarahkan pandangan ke rumah yang oleh Genio pernah disebut sebagai rumah kita, tapi nyatanya hanya serasa rumah singgah bagi dirinya.
“Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk mempertahankan pernikahanku yang bahkan baru berusia sekian minggu.”
“Atau memang lebih baik aku tidak melakukan apa-apa dan membiarkan semuanya tetap seperti ini saja?”
Ruangan yang dilengkapi dengan aroma terapi yang sengaja digunakan Tiara sebagai sarana untuk penyejuk ruangan sekaligus penenang perasaan itu, membuat Egidia merasa lebih nyaman bercerita apa-adanya.
Dia mengesampingkan pikiran bahwa dirinya sedang mengumbar aib rumah tangga dan menganggapnya sebagai bagian dari ikhtiar untuk menyembuhkan kondisi pernikahannya yang tengah sakit dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Jangan berkecil hati dan menyerah sebelum berusaha!”
Tiara memegang tangan Egidia dan mengusapinya dengan lembut. Tatapannya teduh dan menenangkan, jauh berbeda dari sikap biasanya yang lebih terbuka dan kekanak-kanakan. Saat ini, dia memosisikan dirinya sebagai konsultan, seperti pekerjaan sampingan yang digeluti selama ini sembari menyelesaikan pendidikan profesinya.
“Aku sudah berusaha, Tia! Aku mengalah dan menjadi istri yang patuh, tapi dia tetap tidak menganggapku sama sekali.”
“Mungkin memang aku yang salah karena sejak awal sudah menyepakati permintaannya untuk menjalani pernikahan kami walaupun tanpa cinta.”
“Bukan tanpa cinta, tapi cinta sepihak!” ralat Tiara yang sudah mendengar cerita Egidia sebelumnya.
“Seharusnya, kalian membicarakan masalah ini dengan keterbukaan.”
Egidia menunduk, merasa bahwa Tiara sedang menyindir dirinya yang diam-diam mencintai sang suami tanpa berani mengakuinya. Namun, Tiara segera meluruskan pernyataannya setelah melihat perubahan sikap wanita yang saat ini dianggap sebagai kliennya.
“Aku tidak menyalahkanmu karena menyimpan perasaan cinta. Aku hanya menyayangkan sikap Mas Gen yang tidak sedikit pun berusaha untuk membuka peluang bagi hubungan kalian ke depan.”
“Dia bersikap seakan-akan dia dan wanita itu mempunyai hubungan istimewa selain pertemanan. Padahal, wanita itu juga sudah bertunangan dan akan segera menikah. Lalu, apa yang dia harapkan dari hubungan mereka?”
“Atau jangan-jangan, mereka menjalin hubungan lain yang tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk kamu dan lelaki tunangannya?”
__ADS_1