
Aku merasa beruntung karena cepat menemukan teman baru sekaligus tetangga yang baik hati dan tulus di rumah baruku. Sepertinya, aku memang harus lebih membuka diri dan mencari ketenangan jiwa dengan berbagi dan bercerita pada seseorang yang bisa dipercaya. Aku rasa, saat ini aku sudah menemukan orang yang tepat. Semoga, dia bisa membantuku untuk berlaku lebih baik dalam menyikapi kemelut rumah tangga yang baru saja dibangun tanpa fondasi rasa cinta oleh aku dan suamiku!
***
“Mbak, tolong cepat kemari! Aku masih di rumah Mas Genio. Egidia pingsan!”
Beruntung Tia membawa ponsel di saku celananya, sehingga saat panik dia langsung meminta bantuan sang kakak yang baru saja pulang untuk makan siang, sebelum kembali bertugas di rumah sakit.
Tak sampai dua menit kemudian, Mutia sudah datang dengan membawa tas medisnya. Mungkin dia membutuhkannya untuk memeriksa keadaan sang tetangga. Wanita berhijab yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti pagi tadi, langsung menuju ruang makan sesuai panggilan sang adik yang sudah berteriak saat mendengar langkah kakinya yang terburu-buru.
“Kita pindahkan dulu ke sofa sana!”
Kakak-beradik itu bekerja sana membawa tubuh Egidia ke sofa panjang di ruang tengah. Membaringkan dengan nyaman dan meluruskan posisi badan. Tak lupa Mutia meminta sang adik untuk meninggikan posisi kaki dengan menumpuk dua bantal sofa yang ada di sana.
Karena hanya ada mereka bertiga dan tidak ada lawan jenis, dokter itu membuka penutup kepala Egidia supaya tidak gerah. Pakaian rumah yang dikenakan wanita anggun itu sudah longgar dan dirasa tidak mengganggu.
Mutia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan, lalu membuka tasnya. Dia mengambil stetoskop untuk memastikan kondisi yang lain, seperti jantung, paru-paru dan organ pencernaan.
Dari bagian dada, dia menurunkan alat tersebut ke bagian perut. Napasnya berembus lega karena semuanya masih normal. Diagnosa awalnya, mungkin hanya kelelahan atau kurang tidur.
“Dia baik-baik saja, Mbak?” tanya Tiara.
“Sepertinya begitu. Kecuali dia menyembunyikan sesuatu yang lain. Secara umum, kondisinya terbilang normal. Kalau untuk mendeteksi adanya penyakit atau tidak, diperlukan medical check up jika dia memang mengeluhkan beberapa gejala yang perlu diwaspadai.”
Setelah sang adik memberikan rangsangan minyak aroma terapi yang cukup menyengat, tak lama kemudian Egidia mulai siuman. Hal pertama yang dilakukannya adalah meraba kepala yang terasa nyeri teramat sangat.
Dia ingin duduk, tapi Mutia melarang dan memintanya untuk menunggu sejenak dan tidak bergerak secara mendadak. Egidia menurut saja dan kembali memejamkan mata untuk meredakan rasa nyeri yang masih terus menyerang.
__ADS_1
“Terima kasih!” ucapnya pelan, merasa berutang budi pada kedua tetangga sekaligus teman barunya.
"Sama-sama. Itulah gunanya tetangga, menjadi keluarga kedua yang selalu ada di saat kita membutuhkan sesuatu.”
Tanpa membuka mata, Egidia tersenyum untuk menanggapi ucapan Mutia. Sementara itu, Tiara sudah beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman manis dan hangat setelah meminta izin pada tuan rumah.
Saat wanita berpakaian modis tapi sopan itu kembali, Egidia sudah duduk dibantu oleh kakaknya. Wanita itu tampak masih merasa sungkan dan malu karena kondisinya yang lemah dan dibantu oleh tetangganya.
“Minumlah dulu untuk menghangatkan badan! Pelan-pelan saja!”
Egidia menerima cangkir beralas yang disodorkan Tiara, lalu menyesapnya sedikit demi sedikit. Perutnya masih terasa mual, tapi dia mengabaikan rasa itu dan tidak ingin menunjukkannya di hadapan kakak-beradik itu.
“Apa tidak sebaiknya kamu memberi tahu Mas Gen? Dia bisa pulang lebih awal atau setidaknya melihat keadaanmu dulu barang sebentar.”
Tiara masih mencoba untuk membujuk, tapi reaksi Egidia justru membuatnya merasa bingung. Wanita itu menggeleng dan terlihat matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.
“Jangan! Aku tidak ingin merepotkan dia. Kalian saja sudah aku buat repot seperti ini.”
“Termasuk di saat sakit seperti ini.”
Ucapan benar Mutia justru membuat Egidia tak bisa menahan laju air matanya yang sudah menetes membasahi pipi. Kakak-beradik yang duduk mengapitnya saling melempar pandangan karena merasakan hal yang tidak wajar dari wanita yang masih bisa dibilang pengantin baru itu.
Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Egidia tentang pernikahannya dengan Genio. Semoga saja ini hanya dugaan salahku saja!
Mutia mengalihkan perhatian dengan mengemasi peralatan medisnya dan menutup tas. Dia tidak bisa berlama-lama di sana karena sudah menjelang waktunya untuk kembali bertugas dan melayani para pasiennya yang pasti sudah mengantre.
“Maaf, aku harus kembali ke rumah sakit,” pamitnya.
__ADS_1
“Tia, kamu temani Egi dulu sampai kondisinya membaik.”
Sang adik mengangguk diikuti Egidia yang sudah menyeka air matanya dan meletakkan cangkir yang isinya masih separuh, lalu tersenyum tulus hingga menyamarkan wajah pucatnya.
“Terima kasih, Mbak. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya!”
“Tidak masalah. Aku senang bisa membantu.”
Setelah itu, dokter kandungan tersebut keluar tanpa diantarkan, untuk kembali ke rumah terlebih dahulu. Tak berselang lama kemudian, sudah terdengar samar-samar laju mobil yang dikendarai dan sengaja membunyikan klakson sebagai penanda kepergiannya.
Merasa sudah lebih baik dan bisa bergerak lebih banyak, Egidia mengenakan lagi jilbabnya karena merasa sungkan. Teringat harus memindahkan isi mangkuk yang dibawa Tiara, dia bersiap untuk berdiri tapi dicegah oleh sang tetangga.
“Jangan banyak bergerak dulu!”
Tiara yang kemudian berdiri lalu menyiapkan wadah untuk memindahkan sayur buatannya. Tak lupa, dia juga mengambilkan setengahnya dengan mangkuk yang lebih kecil selagi masih cukup hangat untuk dinikmati.
“Sup ini pasti akan membuatmu lebih cepat sehat!”
Egidia tidak membantah supaya tidak mengecewakan pemberinya dan segera menikmati masakan lezat tersebut. Lagi pula, dia memang merasa lapar karena belum makan siang. Namun, tidak dikatakan karena tidak ini membuat Tiara bertambah khawatir.
Diam-diam, wanita yang sedang menempuh pendidikan program magister profesi dengan konsentrasi ilmu psikologi itu menilai kepribadian Egidia. Dia juga menangkap gelagat yang tidak biasa dalam hubungan Genio dan istri salihahnya tersebut.
Dari tutur kata dan ekspresi yang ditunjukkan setiap kali membicarakan sang suami, sangat terlihat jika Egidia menutupi sesuatu yang sebenarnya masih sangat jelas terbaca dari sorotan mata dan nada bicaranya.
Setelah Egidia selesai makan, Tiara memberanikan diri untuk bertanya. Tak peduli dianggap lancang dan sok tahu, dia mulai mengulik informasi dengan pendekatan yang sangat halus dan hati-hati.
“Egi, bolehkah aku bertanya sesuatu? Mungkin ini sedikit pribadi, tapi percayalah, niatku tulus hanya ingin membantu.”
__ADS_1
Egidia urung membalas tatapan mata Tiara dan memilih untuk menunduk. Namun, dia mengangguk sebagai jawabannya. Wanita berambut sebahu di sampingnya menyentuh punggung tangannya dan memberikan usapan penenang, sembari menyampaikan sebuah pertanyaan.
“Apakah pernikahanmu dengan Mas Gen bermasalah?”