
Aku yang seharusnya merasa terluka dan meminta penjelasan, tapi mengapa justru dia yang marah dan tidak terima? Dia menutupi kesalahannya dengan melontarkan kata-kata bernada tinggi, seolah aku yang tidak benar dan menjadi sumber kerumitan ini. Sudah cukup aku diam dan mengalah demi dirinya. Mulai sekarang, aku akan berhenti berjuang. Bila kami masih berjodoh, maka akan ada kemudahan di depan sana. Namun jika tidak, aku tidak akan mempersulit hubungan kami menuju perpisahan.
***
“Dia teman kerjaku, Egi!”
“Tidak ada yang salah jika aku menjemputnya dan kami berangkat bersama-sama.”
Tanpa diminta, Genio sudah memberikan pembelaan dan memosisikan dirinya bukan sebagai pelaku kesalahan, melainkan korban kecurigaan.
“Aku tidak mengatakan kamu bersalah, Mas!”
Untuk pertama kalinya, Egidia memberanikan diri untuk membuka ruang komunikasi yang lebih serius dengan suaminya. Lebih tepat lagi jika dikatakan sebagai perdebatan.
Dia tetap berbaring dengan tenang sembari menahan rasa nyeri yang mulai menyerang kepala, tapi sebisa mungkin tidak ditunjukkan di hadapan lelaki yang masih berdiri mematung dengan sikap gugup.
Kepalanya menoleh ke arah sang suami, hingga dua pasang mata mereka beradu pandang dan saling menatap lekat satu sama lain.
Genio terdiam mendengar kalimat balasan dari wanita yang biasanya tidak pernah membantahnya tersebut. Dia merasa sudah kelepasan bicara, seolah ingin membela diri dengan cara yang salah dan terburu-buru karena panik.
“Aku hanya ingin menjelaskan kepadamu yang sebenarnya! Aku tidak mau kamu menuduhku yang tidak-tidak!”
“Katakan padaku, Mas! Kata-kataku yang mana yang membuatmu merasa aku sudah menuduhmu?” Egidia masih meladeni ucapan suaminya, selagi otaknya masih dingin dan berpikiran waras.
“Aku bahkan hanya menjawab pertanyaanmu saja!”
__ADS_1
Sengaja wanita itu tidak ingin melebarkan pembahasan ke arah percakapan selanjutnya yang dia dengar dari awal sampai akhirnya Genio mengakhiri sambungan komunikasi dengan Monita.
Padahal, jika mau bisa saja dia mengulangi semua ucapan sang suami yang masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinganya. Namun, dia tidak mau mempermalukan dengan cara yang tidak etis. Lebih baik diam dan semuanya terbuka dengan sendirinya.
Egidia memejamkan mata, berusaha melawan rasa nyeri yang kian menusuk kepala bagian belakang. Ditambah lagi dengan rasa mual yang mulai menyerang, membuat wajahnya mungkin terlihat pucat.
“Tatapanmu dan air matamu seolah menuduhku, Egi!”
Genio masih mencari alasan dan pembenaran atas apa yang sebelumnya telanjur dikatakan dan menjadi bumerang bagi dirinya. Karena panik, dia terlalu cepat membela diri padahal istrinya tidak bertanya macam-macam.
“Apakah itu membuatmu terganggu, Mas?” Dengan mata tertutup, Egidia masih membalas ucapan suaminya.
“Aku minta maaf jika kamu merasa dituduh, hanya karena aku diam dan menangis tanpa mengatakan apa-apa.”
“Sebaiknya kita tidak membahasnya lagi. Bukankah dulu Mas Gen yang meminta supaya kita tidak membicarakan wanita atau lelaki lain dalam rumah tangga kita?”
Egidia menarik selimutnya lebih tinggi. Kembali membuka mata setelah kepalanya terasa lebih ringan dan sakitnya mereda. Dia melihat suaminya masih berdiri dengan kedua tangan bertengger di pinggang. Tatapannya masih setajam sebelumnya dan tertuju lurus kepadanya.
Genio kembali merasa ditampar dengan ucapannya sendiri yang diingatkan oleh sang istri. Dia yang dari awal mengatur, dia pula yang mulai melanggar.
“Selamat malam, Mas. Selamat beristirahat!”
Wanita yang mengakhiri percakapan mereka dengan senyuman yang tetap ditunjukkan meski dengan hati yang sudah hancur dan penuh luka.
“Kita belum selesai bicara, Egi!” Suara Genio meninggi, padahal sang istri menjaga tuturnya tetap lembut meski hatinya remuk.
__ADS_1
“Aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita!”
“Aku tidak salah paham terhadapmu, Mas! Aku juga tidak marah, tidak tersinggung dan tidak menyalahkan dirimu.” Egidia terpaksa membalas dan meladeni lagi ucapan suaminya.
“Aku tidak perlu salah paham karena dari awal kita sudah sama-sama tahu dan sepakat jika pernikahan ini hanya sebatas di atas kertas.”
“Tidak perlu ada rasa apa-apa yang dilibatkan dalam hubungan ini. Bukan begitu?”
Genio kembali dibuat bungkam dengan ucapan istrinya yang tetap sasaran hingga menghunjam jantung. Membuat lelaki itu merasa salah tingkah sendiri karena teringat akan kesalahannya.
“Aku tidak akan mengekangmu, Mas. Begitu juga dirimu, tidak perlu mengekangku.”
“Kamu bisa melakukan apa saja yang ingin kamu lakukan. Begitu juga dengan diriku, biarkan aku melakukan apa pun yang ingin aku lakukan.”
“Atau Mas Gen menginginkan kesepakatan yang lain?” tantang Egidia.
Genio bungkam, tak bisa menjawab dengan segera. Lagi-lagi dia merasa tertohok dengan kalimat demi kalimat yang diucapkan istrinya. Semua itu adalah ucapan dan permintaannya di awal mereka menikah dulu.
Namun, sebagai seorang lelaki dia harus menjaga wibawa dan meninggikan harga dirinya di atas sang istri. Semua ucapan Egidia menyiratkan sindiran halus kepadanya, sekaligus menunjukkan bahwa wanita itu sudah mengetahui semuanya, dan bodohnya, semua itu akibat kecerobohannya sendiri.
“Cukup, Egi! Jangan memancing kemarahanku!”
Genio tidak tahan lagi hingga egonya membuat dia harus tetap bersikap tegas, meski jelas-jelas dia yang salah dan sudah membongkar aibnya sendiri.
“Aku memang menjalin hubungan dengan Monita! Kami saling mencintai!”
__ADS_1